<rss version="2.0"
     xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>
    <title>Resources</title>
    <atom:link href="https://www.icc-melbourne.org/feeds/blog/resources" rel="self" type="application/rss+xml" />    <link>https://www.icc-melbourne.org</link>
    <description></description>
    <lastBuildDate>Tue, 11 Aug 2026 01:13:43 -0400</lastBuildDate>
    <language></language>
	<generator>https://www.churchplantmedia.com/</generator>
    	<item>
        <title>Kebaikan Terbesar</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kebaikan-terbesar</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kebaikan-terbesar#comments</comments>        
        <pubDate>Tue, 01 Feb 2022 15:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kebaikan-terbesar</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p>Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan (atau, kebaikan), kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (Kol 3:12)</p>
</blockquote>
<p>Tidak heran kata kebaikan seringkali diterjemahkan sebagai kemurahan, karena arti keduanya sangat dekat dan berkaitan satu sama lain. Karya keselamatan Yesus adalah ungkapan kebaikan dan kemurahan terbesar yang Allah bisa berikan kepada kita. Saya yakin kebanyakan orang, apalagi orang Kristen, kalau ditanya, "Tuhan baik atau ngga?" akan menjawab ya. Atau malahan, ya dan amin, haleluya dan lain sebagainya. Tentu saja kita patut mengakui kebaikan serta kemurahan Tuhan dalam setiap area hidup kita. Tapi biasanya, saya tertarik dengan jawaban pertanyaan berikutnya, "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?"</p>
<p>Biasanya jawaban yang saya dengar adalah seputar Tuhan baik karena pelihara saya dengan memberikan saya pekerjaan atau bisnis, Tuhan baik karena keluarga saya selama ini sehat-sehat, Tuhan baik karena doa saya dijawab, dan lain seterusnya. Nah, sekali lagi, kita patut mengakui kebaikan serta kemurahan Tuhan dalam hal-hal ini. Ada cukup banyak ayat serta teladan di Alkitab yang mengajak bahkan memerintahkan kita untuk bersyukur atas kebaikan-kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Menurut saya, problemnya adalah kalau kita hanya mengakui kebaikan serta kemurahan Tuhan dalam hal-hal ini saja. Kalau kita mengatakan Tuhan baik kepada kita hanya karena Ia memberikan kepada kita hal-hal yang baik, enak, dan nyaman, maka kita sebetulnya sudah mendistorsi karakter serta kebaikan Tuhan. Kita akhirnya tidak bisa, atau tidak mau tahu, saat Tuhan memberikan kepada kita hal-hal yang buruk, menyakitkan, dan tidak nyaman sama sekali. Ini adalah salah satu pertanyaan penting di dalam kitab Ayub:</p>
<blockquote>
<p>Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)</p>
</blockquote>
<p>Jadi, bagaimana seharusnya kita berpikir tentang kebaikan Tuhan terhadap kita? Bagaimana kita sebagai pengikut Kristus seharusnya menjawab pertanyaaan, "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?"</p>
<p>Jawaban singkatnya, kebaikan terbesar yang Tuhan berikan kepada kita adalah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Ini selalu harus menjadi starting and ending point kita. Bahkan dapat dikatakan, setiap kebaikan yang kita alami sebesar dan sekecil apa pun itu, Allah berikan untuk membawa kita kepada Yesus:</p>
<blockquote>
<p>Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah (ESV. <em>God's kindness</em>) ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (Roma 2:4)</p>
</blockquote>
<p>Ingat kembali setiap bentuk berkat, kemurahan, dan kebaikan Tuhan di dalam hidup anda, sesederhana atau semewah apa pun itu. Entah anda tadi makan siang menghabiskan sisa makanan di kulkas, atau mendadak ditraktir oleh client anda makan di restoran. Pernahkah anda berpikir bahwa selain semuanya itu datang dari Tuhan, Ia memakai semuanya itu untuk membawa anda kepada Yesus, kebaikan-Nya yang terbesar?</p>
<p>Jadi untuk pertanyaan, "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?" anda dapat menjawab:</p>
<blockquote>
<p>Aku sesungguhnya tidak layak menerima kebaikan dan kemurahan Tuhan yang terkecil sekalipun. Dosa dan pelanggaranku terlalu banyak sehingga aku layak menerima penghakiman dan murka Tuhan yang terbesar. Tetapi Tuhan Allah, dalam kebaikan-Nya yang aku tidak akan bisa mengerti, berkenan untuk memberikan Anak-Nya sendiri untuk menggantikan tempatku. "Yesus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor 5:21)! Aku tidak akan bisa memahami kebaikan Tuhan yang melumerkan hatiku yang keras sehingga aku bukan saja mengerti tetapi juga mau menerima Injil serta hidup bagi Yesus. Aku tidak akan bisa membayar kebaikan Tuhan yang rela membayar lunas segala hutang dosaku kepada-Nya. Ada banyak hal dalam hidupku yang saat ini aku tidak mengerti, atau aku bahkan bertanya 'kok begini ya' - tapi satu hal yang pasti adalah Tuhan amat sangat baik karena Ia telah memberikan Yesus Kristus kepadaku.</p>
</blockquote>
<p>Roh Kudus menumbuhkan sifat kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dengan berulangkali menuntun hati serta pikiran kita pada kebaikan Tuhan terhadap kita, khususnya kebaikan-Nya yang Ia tunjukkan melalui Yesus Kristus. Semakin kita memikirkan, mendaftarkan, mensyukuri, bahkan membagikan kebaikan Tuhan itu terhadap kita, semakin sifat kebaikan-Nya bertumbuh dan menjadi matang.</p>
<p>John Newton adalah seorang Inggris yang hidup di abad 18-19. Masa mudanya ia habiskan sebagai pedagang budak melalui kapal-kapal laut. Bahkan setelah ia pensiun pun ia masih menginvestasikan uangnya dalam bisnis pedagangan manusia. Suatu saat dalam perjalanan pulangnya ia mengalami pertobatan rohani. Singkat cerita, ia mulai membaca Alkitab dan buku-buku rohani. Tidak lama kemudian, ia sungguh-sungguh bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Ia berhenti dari bisnis pedagangan budak dan menjadi salah satu pendukung utama gerakan abolitionisme, bersama dengan tokoh anti perbudakan William Wilberforce. John Newton kemudian beralih profesi menjadi pendeta gereja Anglikan. Buku-buku dan syair lagu karya Newton masih dipakai oleh sekolah-sekolah teologia dan gereja sampai hari ini. Salah satu syair karangannya adalah lagu Amazing Grace, lagu yang saya yakin sangat kita kenal dan hargai.</p>
<p>Menjelang hari kematiannya, Newton berkata kepada temannya, "<em>My memory is nearly gone. But I remember two things: that I am a great sinner, and that Christ is a great Saviour</em> / Ingatanku sudah hampir pudar. Tapi aku ingat dua hal: yaitu bahwa aku seorang pendosa yang besar, dan bahwa Kristus Juruselamat yang besar."<br> Mulai sekarang, bagaimana anda akan menjawab pertanyaan: "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?"</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Bapa yang baik, karena kebaikan-Mu yang ilahi maka kami berada di sisi baik-Mu. Kami ada di sisi baik-Mu bukan karena kesalehan, amal ibadah, atau reputasi kami, melainkan karena Yesus Kristus kebaikan-Mu yang terbesar telah Engkau berikan untuk menyelamatkan kami. Yesus mengalami segala keburukan, kesakitan, penderitaan yang paling dalam yang tidak mungkin bisa kami bayangkan. Ia patut disebut sebagai Juruselamat yang besar. Kami patut disebut sebagai pendosa-pendosa yang besar. Kiranya semakin kami mengingat kebaikan-Mu pada kami, sifat kebaikan-Mu itu juga semakin tumbuh dan matang melalui hidup kami. Demi nama Yesus kami meminta. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan (atau, kebaikan), kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (Kol 3:12)</p>
</blockquote>
<p>Tidak heran kata kebaikan seringkali diterjemahkan sebagai kemurahan, karena arti keduanya sangat dekat dan berkaitan satu sama lain. Karya keselamatan Yesus adalah ungkapan kebaikan dan kemurahan terbesar yang Allah bisa berikan kepada kita. Saya yakin kebanyakan orang, apalagi orang Kristen, kalau ditanya, "Tuhan baik atau ngga?" akan menjawab ya. Atau malahan, ya dan amin, haleluya dan lain sebagainya. Tentu saja kita patut mengakui kebaikan serta kemurahan Tuhan dalam setiap area hidup kita. Tapi biasanya, saya tertarik dengan jawaban pertanyaan berikutnya, "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?"</p>
<p>Biasanya jawaban yang saya dengar adalah seputar Tuhan baik karena pelihara saya dengan memberikan saya pekerjaan atau bisnis, Tuhan baik karena keluarga saya selama ini sehat-sehat, Tuhan baik karena doa saya dijawab, dan lain seterusnya. Nah, sekali lagi, kita patut mengakui kebaikan serta kemurahan Tuhan dalam hal-hal ini. Ada cukup banyak ayat serta teladan di Alkitab yang mengajak bahkan memerintahkan kita untuk bersyukur atas kebaikan-kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Menurut saya, problemnya adalah kalau kita hanya mengakui kebaikan serta kemurahan Tuhan dalam hal-hal ini saja. Kalau kita mengatakan Tuhan baik kepada kita hanya karena Ia memberikan kepada kita hal-hal yang baik, enak, dan nyaman, maka kita sebetulnya sudah mendistorsi karakter serta kebaikan Tuhan. Kita akhirnya tidak bisa, atau tidak mau tahu, saat Tuhan memberikan kepada kita hal-hal yang buruk, menyakitkan, dan tidak nyaman sama sekali. Ini adalah salah satu pertanyaan penting di dalam kitab Ayub:</p>
<blockquote>
<p>Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)</p>
</blockquote>
<p>Jadi, bagaimana seharusnya kita berpikir tentang kebaikan Tuhan terhadap kita? Bagaimana kita sebagai pengikut Kristus seharusnya menjawab pertanyaaan, "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?"</p>
<p>Jawaban singkatnya, kebaikan terbesar yang Tuhan berikan kepada kita adalah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Ini selalu harus menjadi starting and ending point kita. Bahkan dapat dikatakan, setiap kebaikan yang kita alami sebesar dan sekecil apa pun itu, Allah berikan untuk membawa kita kepada Yesus:</p>
<blockquote>
<p>Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah (ESV. <em>God's kindness</em>) ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (Roma 2:4)</p>
</blockquote>
<p>Ingat kembali setiap bentuk berkat, kemurahan, dan kebaikan Tuhan di dalam hidup anda, sesederhana atau semewah apa pun itu. Entah anda tadi makan siang menghabiskan sisa makanan di kulkas, atau mendadak ditraktir oleh client anda makan di restoran. Pernahkah anda berpikir bahwa selain semuanya itu datang dari Tuhan, Ia memakai semuanya itu untuk membawa anda kepada Yesus, kebaikan-Nya yang terbesar?</p>
<p>Jadi untuk pertanyaan, "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?" anda dapat menjawab:</p>
<blockquote>
<p>Aku sesungguhnya tidak layak menerima kebaikan dan kemurahan Tuhan yang terkecil sekalipun. Dosa dan pelanggaranku terlalu banyak sehingga aku layak menerima penghakiman dan murka Tuhan yang terbesar. Tetapi Tuhan Allah, dalam kebaikan-Nya yang aku tidak akan bisa mengerti, berkenan untuk memberikan Anak-Nya sendiri untuk menggantikan tempatku. "Yesus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor 5:21)! Aku tidak akan bisa memahami kebaikan Tuhan yang melumerkan hatiku yang keras sehingga aku bukan saja mengerti tetapi juga mau menerima Injil serta hidup bagi Yesus. Aku tidak akan bisa membayar kebaikan Tuhan yang rela membayar lunas segala hutang dosaku kepada-Nya. Ada banyak hal dalam hidupku yang saat ini aku tidak mengerti, atau aku bahkan bertanya 'kok begini ya' - tapi satu hal yang pasti adalah Tuhan amat sangat baik karena Ia telah memberikan Yesus Kristus kepadaku.</p>
</blockquote>
<p>Roh Kudus menumbuhkan sifat kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dengan berulangkali menuntun hati serta pikiran kita pada kebaikan Tuhan terhadap kita, khususnya kebaikan-Nya yang Ia tunjukkan melalui Yesus Kristus. Semakin kita memikirkan, mendaftarkan, mensyukuri, bahkan membagikan kebaikan Tuhan itu terhadap kita, semakin sifat kebaikan-Nya bertumbuh dan menjadi matang.</p>
<p>John Newton adalah seorang Inggris yang hidup di abad 18-19. Masa mudanya ia habiskan sebagai pedagang budak melalui kapal-kapal laut. Bahkan setelah ia pensiun pun ia masih menginvestasikan uangnya dalam bisnis pedagangan manusia. Suatu saat dalam perjalanan pulangnya ia mengalami pertobatan rohani. Singkat cerita, ia mulai membaca Alkitab dan buku-buku rohani. Tidak lama kemudian, ia sungguh-sungguh bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Ia berhenti dari bisnis pedagangan budak dan menjadi salah satu pendukung utama gerakan abolitionisme, bersama dengan tokoh anti perbudakan William Wilberforce. John Newton kemudian beralih profesi menjadi pendeta gereja Anglikan. Buku-buku dan syair lagu karya Newton masih dipakai oleh sekolah-sekolah teologia dan gereja sampai hari ini. Salah satu syair karangannya adalah lagu Amazing Grace, lagu yang saya yakin sangat kita kenal dan hargai.</p>
<p>Menjelang hari kematiannya, Newton berkata kepada temannya, "<em>My memory is nearly gone. But I remember two things: that I am a great sinner, and that Christ is a great Saviour</em> / Ingatanku sudah hampir pudar. Tapi aku ingat dua hal: yaitu bahwa aku seorang pendosa yang besar, dan bahwa Kristus Juruselamat yang besar."<br> Mulai sekarang, bagaimana anda akan menjawab pertanyaan: "Dalam hal apa Tuhan baik kepadamu?"</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Bapa yang baik, karena kebaikan-Mu yang ilahi maka kami berada di sisi baik-Mu. Kami ada di sisi baik-Mu bukan karena kesalehan, amal ibadah, atau reputasi kami, melainkan karena Yesus Kristus kebaikan-Mu yang terbesar telah Engkau berikan untuk menyelamatkan kami. Yesus mengalami segala keburukan, kesakitan, penderitaan yang paling dalam yang tidak mungkin bisa kami bayangkan. Ia patut disebut sebagai Juruselamat yang besar. Kami patut disebut sebagai pendosa-pendosa yang besar. Kiranya semakin kami mengingat kebaikan-Mu pada kami, sifat kebaikan-Mu itu juga semakin tumbuh dan matang melalui hidup kami. Demi nama Yesus kami meminta. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Kesabaran Tanpa Batas</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kesabaran-tanpa-batas</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kesabaran-tanpa-batas#comments</comments>        
        <pubDate>Mon, 31 Jan 2022 15:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kesabaran-tanpa-batas</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p>Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1 Tim 1:15-16)</p>
</blockquote>
<p>Di dalam bahasa Yunani, kata 'kesabaran' terdiri dari dua kata: panjang dan marah, artinya sifat menanti dalam waktu yang panjang sebelum menunjukkan kemarahan. Itu sebabnya dalam bahasa Inggris kadangkala kesabaran diterjemahkan dengan longsuffering, artinya rela menderita dalam waktu yang panjang. Sifat panjang sabar ini secara esensi adalah salah satu sifat Tuhan Allah. Waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya di hadapan Musa, Ia berkata:</p>
<blockquote>
<p>TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa. (Kel 34:6-7)</p>
</blockquote>
<p>Sepanjang Alkitab kita menemukan Allah berulangkali menunjukkan kesabaran-Nya yang ilahi kepada manusia, khususnya pada umat-Nya sendiri yang berulangkali memberontak dan mengeraskan hati terhadap-Nya. Kesabaran Tuhan bersikap sangat relasional, antara diri-Nya dengan umat-Nya. Begitu juga di dalam hidup kita, kesabaran adalah sifat buah Roh Kudus yang Allah mau kita tunjukkan melalui relasi hidup kita sehari-hari.</p>
<p>Secara manusiawi, setiap kita punya kadar dan cara bersabar yang berbeda-beda. Ada orang yang dibesarkan di keluarga yang sabar sehingga bagi mereka bersabar terhadap orang lain cenderung jauh lebih mudah daripada mereka yang dibesarkan di keluarga yang tidak sabaran. Tetapi seperti kita sudah lihat sebelumnya, sifat kesabaran dari buah Roh adalah sifat yang bukan berasal dari natur manusiawi kita. Kita tentunya bersyukur kalau di dalam hidup kita Tuhan memberikan orang tua, guru, teman, dan orang lain yang mewariskan atau menjadi teladan kesabaran. Tapi kita harus lebih bersyukur lagi karena Tuhan sendiri mau menumbuhkan sifat sabar-Nya yang ilahi itu di dalam hidup kita.</p>
<p>Tentu saja ekspresi paling puncak dan real dari kesabaran Tuhan Allah adalah melalui karya penyelamatan Yesus Kristus. Ada setidaknya tiga hal penting yang kita harus ingat melalui kedatangan Yesus:</p>
<ol>
<li><strong>Kesabaran Allah terhadap musuh-musuh-Nya ada batasnya.</strong> Saya saat ini sedang belajar untuk mempersiapkan seri khotbah Wahyu dalam beberapa minggu ke depan. Saya kembali diingatkan bahwa suatu hari nanti kesabaran Allah akan dosa dan pemberontakan manusia akan berakhir. Setiap kali kita mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli dan berkata bahwa Yesus akan datang kembali menghakimi orang yang hidup dan yang mati, artinya suatu hari nanti gerbang anugerah keselamatan akan ditutup rapat dan tidak akan dibuka lagi. Kedatangan Yesus yang pertama, kematian dan kebangkitan-Nya serta kenaikan-Nya ke surga menunjukkan bahwa masa kesabaran Allah suatu hari nanti akan berakhir. Selama anda berada di luar Kristus, anda adalah musuh Allah. Saat ini keselamatan masih tersedia dan terbuka bagi mereka yang mau berbalik dan percaya kepada Yesus.<br><br></li>
<li><strong>Kesabaran Allah terhadap anak-anak-Nya tidak ada batasnya.</strong> Bagi mereka yang sudah menjadi milik Yesus, memang betul kita kadang mengalami didikan dan konsekuensi dosa kita. Kita juga masih mengalami akibat dosa dan penderitaan yang tidak tentu disebabkan oleh dosa atau kesalahan kita. Kita tentunya sehari-hari mengalami bergumul dan berperang melawan berbagai godaan entah dari dalam maupun dari luar diri kita. Apa pun itu kita perlu ingat bahwa kita mempunyai Bapa yang sabar terhadap kita. Saya selalu tersentuh oleh apa yang Paulus katakan: justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya (1 Tim 1:16). Dalam terjemahan lain: <em>His immense patience</em> (NIV), <em>His perfect patience</em> (ESV), dengan kata lain kesabaran Allah yang tidak terbatas. Bagi kita yang ada di dalam Kristus, kita adalah objek utama kesabaran-Nya yang sempurna.<br><br></li>
<li><strong>Kesabaran Allah diberikan untuk kita tunjukkan terhadap orang lain.</strong> Kesabaran manusiawi kita begitu sempit dan terbatas. Sadar atau tidak sadar, biasanya kita menempatkan begitu banyak aturan, syarat, tanggal kadaluwarsa, dan puluhan limit lainnya terhadap orang lain. Tapi kalau kita ingat bahwa Roh Kudus sedang menumbuhkan sifat kesabaran Kristus di dalam diri kita, maka kita akan dengan rela hati mau berusaha dan berlatih sabar terhadap orang lain.</li>
</ol>
<p>Sebagai pengikut Yesus, coba pikirkan dua pertanyaan berikut ini:</p>
<ul>
<li>Apakah kita bersabar terhadap mereka yang berbeda dengan kita, atau yang cenderung menyusahkan kita?</li>
<li>Apakah kita bersabar terhadap kelemahan dan kekurangan orang lain, termasuk sesama anak-anak Tuhan, apalagi orang-orang yang kita pimpin atau para pemimpin kita?</li>
</ul>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan tolong kami agar bersabar seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Engkau telah mengampuni kami, kami pun mau berbuat demikian. Kami meminta demi nama Yesus Kristus, yang kesabaran-Nya penuh dan tidak terbatas bagi kami. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1 Tim 1:15-16)</p>
</blockquote>
<p>Di dalam bahasa Yunani, kata 'kesabaran' terdiri dari dua kata: panjang dan marah, artinya sifat menanti dalam waktu yang panjang sebelum menunjukkan kemarahan. Itu sebabnya dalam bahasa Inggris kadangkala kesabaran diterjemahkan dengan longsuffering, artinya rela menderita dalam waktu yang panjang. Sifat panjang sabar ini secara esensi adalah salah satu sifat Tuhan Allah. Waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya di hadapan Musa, Ia berkata:</p>
<blockquote>
<p>TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa. (Kel 34:6-7)</p>
</blockquote>
<p>Sepanjang Alkitab kita menemukan Allah berulangkali menunjukkan kesabaran-Nya yang ilahi kepada manusia, khususnya pada umat-Nya sendiri yang berulangkali memberontak dan mengeraskan hati terhadap-Nya. Kesabaran Tuhan bersikap sangat relasional, antara diri-Nya dengan umat-Nya. Begitu juga di dalam hidup kita, kesabaran adalah sifat buah Roh Kudus yang Allah mau kita tunjukkan melalui relasi hidup kita sehari-hari.</p>
<p>Secara manusiawi, setiap kita punya kadar dan cara bersabar yang berbeda-beda. Ada orang yang dibesarkan di keluarga yang sabar sehingga bagi mereka bersabar terhadap orang lain cenderung jauh lebih mudah daripada mereka yang dibesarkan di keluarga yang tidak sabaran. Tetapi seperti kita sudah lihat sebelumnya, sifat kesabaran dari buah Roh adalah sifat yang bukan berasal dari natur manusiawi kita. Kita tentunya bersyukur kalau di dalam hidup kita Tuhan memberikan orang tua, guru, teman, dan orang lain yang mewariskan atau menjadi teladan kesabaran. Tapi kita harus lebih bersyukur lagi karena Tuhan sendiri mau menumbuhkan sifat sabar-Nya yang ilahi itu di dalam hidup kita.</p>
<p>Tentu saja ekspresi paling puncak dan real dari kesabaran Tuhan Allah adalah melalui karya penyelamatan Yesus Kristus. Ada setidaknya tiga hal penting yang kita harus ingat melalui kedatangan Yesus:</p>
<ol>
<li><strong>Kesabaran Allah terhadap musuh-musuh-Nya ada batasnya.</strong> Saya saat ini sedang belajar untuk mempersiapkan seri khotbah Wahyu dalam beberapa minggu ke depan. Saya kembali diingatkan bahwa suatu hari nanti kesabaran Allah akan dosa dan pemberontakan manusia akan berakhir. Setiap kali kita mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli dan berkata bahwa Yesus akan datang kembali menghakimi orang yang hidup dan yang mati, artinya suatu hari nanti gerbang anugerah keselamatan akan ditutup rapat dan tidak akan dibuka lagi. Kedatangan Yesus yang pertama, kematian dan kebangkitan-Nya serta kenaikan-Nya ke surga menunjukkan bahwa masa kesabaran Allah suatu hari nanti akan berakhir. Selama anda berada di luar Kristus, anda adalah musuh Allah. Saat ini keselamatan masih tersedia dan terbuka bagi mereka yang mau berbalik dan percaya kepada Yesus.<br><br></li>
<li><strong>Kesabaran Allah terhadap anak-anak-Nya tidak ada batasnya.</strong> Bagi mereka yang sudah menjadi milik Yesus, memang betul kita kadang mengalami didikan dan konsekuensi dosa kita. Kita juga masih mengalami akibat dosa dan penderitaan yang tidak tentu disebabkan oleh dosa atau kesalahan kita. Kita tentunya sehari-hari mengalami bergumul dan berperang melawan berbagai godaan entah dari dalam maupun dari luar diri kita. Apa pun itu kita perlu ingat bahwa kita mempunyai Bapa yang sabar terhadap kita. Saya selalu tersentuh oleh apa yang Paulus katakan: justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya (1 Tim 1:16). Dalam terjemahan lain: <em>His immense patience</em> (NIV), <em>His perfect patience</em> (ESV), dengan kata lain kesabaran Allah yang tidak terbatas. Bagi kita yang ada di dalam Kristus, kita adalah objek utama kesabaran-Nya yang sempurna.<br><br></li>
<li><strong>Kesabaran Allah diberikan untuk kita tunjukkan terhadap orang lain.</strong> Kesabaran manusiawi kita begitu sempit dan terbatas. Sadar atau tidak sadar, biasanya kita menempatkan begitu banyak aturan, syarat, tanggal kadaluwarsa, dan puluhan limit lainnya terhadap orang lain. Tapi kalau kita ingat bahwa Roh Kudus sedang menumbuhkan sifat kesabaran Kristus di dalam diri kita, maka kita akan dengan rela hati mau berusaha dan berlatih sabar terhadap orang lain.</li>
</ol>
<p>Sebagai pengikut Yesus, coba pikirkan dua pertanyaan berikut ini:</p>
<ul>
<li>Apakah kita bersabar terhadap mereka yang berbeda dengan kita, atau yang cenderung menyusahkan kita?</li>
<li>Apakah kita bersabar terhadap kelemahan dan kekurangan orang lain, termasuk sesama anak-anak Tuhan, apalagi orang-orang yang kita pimpin atau para pemimpin kita?</li>
</ul>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan tolong kami agar bersabar seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Engkau telah mengampuni kami, kami pun mau berbuat demikian. Kami meminta demi nama Yesus Kristus, yang kesabaran-Nya penuh dan tidak terbatas bagi kami. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Damai Sejahtera Multidimensi</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/damai-sejahtera-multidimensi</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/damai-sejahtera-multidimensi#comments</comments>        
        <pubDate>Fri, 28 Jan 2022 21:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/damai-sejahtera-multidimensi</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p>Karena Yesuslah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (Ef 2:14-16)</p>
</blockquote>
<p>Ada seorang bapak yang datang dari latar belakang yang cukup kacau dan penuh pertengkaran. Setelah sekian lama bergumul, jatuh bangun mencari arti hidup, ada orang yang mengajak dia ke gereja. Ia mulai perlahan tertarik sampai akhirnya percaya dan menjadi pengikut Yesus yang setia. Beberapa tahun kemudian waktu ia mengisahkan mengapa ia bisa mulai ke gereja sampai kemudian menjadi orang Kristen, ia berkata, "Dulu sebelum kenal Kristus, kemana pun saya pergi, apa pun yang saya lakukan atau kejar, mau saya sukses atau hancur-hancuran, saya tidak pernah merasa tenang. Tapi waktu saya pertama di ajak ke gereja, untuk pertama kalinya saya merasa kok di tempat ini damai ya? Ini damai yang selama ini saya cari-cari!"</p>
<p>Tiga sifat buah Roh yang pertama (kasih, sukacita, dan damai sejahtera) seringkali ditempatkan berdekatan di dalam banyak tulisan Perjanjian Baru. Rasul Paulus sendiri menggunakan kata 'damai sejahtera' lebih 40 kali di dalam surat-suratnya. Damai sejahtera berarti lebih dari sekedar bebas dari konflik atau rasa takut. Di dalam Perjanjian Lama, kata damai sejahtera berasal kata shalom. Anda mungkin pernah mendengar di gereja orang membuka sambutan dengan kata-kata, "Shalom, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan." Shalom adalah salah satu kata paling indah di dalam Alkitab, karena mencakup rasa aman dan puas yang lengkap serta menyeluruh. Ini adalah relasi damai dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Damai sejahtera di dalam Alkitab adalah damai multidimensi.</p>
<p>Mengapa damai sejahtera adalah salah satu karakter yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri kita?</p>
<ol>
<li><strong>Yesus sendiri adalah damai sejahtera.</strong> Perhatikan apa yang Paulus katakan di Efesus 2:14. Bukan saja Allah yang menginsiasi damai sejahtera, bukan saja Allah yang menjanjikan damai sejahtera, bukan saja Allah yang memberikan damai sejahtera - tetapi Allah sendirilah, di dalam Yesus Kristus, menjadi damai sejahtera kita. <em>Our peace is a Person!</em> Damai sejahtera kita hadir dalam sebuah Pribadi. Dengan kata lain selama Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah mati, bangkit, dan sekarang berkuasa, selama itu jugalah kualitas damai sejahtera kita tidak akan pudar. Selama itu jugalah damai multidimensi itu akan menjadi milik kita. Yesus sendiri adalah jaminan bahwa antara kita dengan Allah tidak ada lagi permusuhan.<br><br></li>
<li><strong>Allah mau kita hidup menikmati damai sejahtera-Nya.</strong> Kenyataan bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah saja sudah luar biasa. Tetapi sebagai Bapa surgawi kita, Ia mau kita mengalami serta menghidupi damai sejahtera-Nya. Seolah-olah, kalau boleh saya bicara dengan segala hormat, Allah 'tidak puas' hanya menjamin akses masuk kita ke surga-Nya. Ia mau kita juga mengalami hidup surgawi itu hari ini! Bukan berarti hidup kita akan selalu tenang, aman, dan tanpa masalah. Tetapi justru di tengah ketidaktenangan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan masalah paling pelik sekali pun, Allah Bapa mau kita menikmati damai multidimensi-Nya.<br><br></li>
<li><strong>Kita dipanggil menjadi channel damai sejahtera Allah bagi orang lain.</strong> Tidak heran Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat 5:9). Ada banyak hal yang membuat orang melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita sudah melihat bahwa kasih terhadap sesama adalah salah satu bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah. Tapi berdekatan dengan itu adalah hidup yang membawa damai, becoming peacemakers. Damai sejahtera yang Allah sudah berikan kepada kita melalui Yesus, Ia berikan agar kita salurkan kepada orang lain.</li>
</ol>
<p>Sebagai pengikut Kristus, orang-orang yang sudah didamaikan dengan Allah, apakah sifat damai sejahtera bertumbuh dan matang di dalam hidup kita?</p>
<ul>
<li>Apakah orang yang dekat dengan kita mengenal kita sebagai pembawa damai, atau malah sumber perpecahan?</li>
<li>Apakah kata-kata dan sikap hidup kita membuat kita menjadi saluran, atau malah penghalang damai sejahtera Kristus bagi orang lain?</li>
<li>Apakah reaksi kita terhadap kekecewaan dan tantangan hidup menunjukkan bahwa kita sudah menerima damai sejahtera Allah?</li>
</ul>
<p>Bisa jadi sikap dan cara hidup kita menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk membawa orang lain mengenal Yesus, yang adalah damai sejahtera kita!</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan, kiranya damai sejahtera multidimensi yang telah Engkau berikan kepada kami, juga boleh nampak dalam bagaimana kami menghadapi kesulitan sehari-hari, relasi kami dengan orang lain, dan bagaimana kami semakin bersandar pada-Mu. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Karena Yesuslah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (Ef 2:14-16)</p>
</blockquote>
<p>Ada seorang bapak yang datang dari latar belakang yang cukup kacau dan penuh pertengkaran. Setelah sekian lama bergumul, jatuh bangun mencari arti hidup, ada orang yang mengajak dia ke gereja. Ia mulai perlahan tertarik sampai akhirnya percaya dan menjadi pengikut Yesus yang setia. Beberapa tahun kemudian waktu ia mengisahkan mengapa ia bisa mulai ke gereja sampai kemudian menjadi orang Kristen, ia berkata, "Dulu sebelum kenal Kristus, kemana pun saya pergi, apa pun yang saya lakukan atau kejar, mau saya sukses atau hancur-hancuran, saya tidak pernah merasa tenang. Tapi waktu saya pertama di ajak ke gereja, untuk pertama kalinya saya merasa kok di tempat ini damai ya? Ini damai yang selama ini saya cari-cari!"</p>
<p>Tiga sifat buah Roh yang pertama (kasih, sukacita, dan damai sejahtera) seringkali ditempatkan berdekatan di dalam banyak tulisan Perjanjian Baru. Rasul Paulus sendiri menggunakan kata 'damai sejahtera' lebih 40 kali di dalam surat-suratnya. Damai sejahtera berarti lebih dari sekedar bebas dari konflik atau rasa takut. Di dalam Perjanjian Lama, kata damai sejahtera berasal kata shalom. Anda mungkin pernah mendengar di gereja orang membuka sambutan dengan kata-kata, "Shalom, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan." Shalom adalah salah satu kata paling indah di dalam Alkitab, karena mencakup rasa aman dan puas yang lengkap serta menyeluruh. Ini adalah relasi damai dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Damai sejahtera di dalam Alkitab adalah damai multidimensi.</p>
<p>Mengapa damai sejahtera adalah salah satu karakter yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri kita?</p>
<ol>
<li><strong>Yesus sendiri adalah damai sejahtera.</strong> Perhatikan apa yang Paulus katakan di Efesus 2:14. Bukan saja Allah yang menginsiasi damai sejahtera, bukan saja Allah yang menjanjikan damai sejahtera, bukan saja Allah yang memberikan damai sejahtera - tetapi Allah sendirilah, di dalam Yesus Kristus, menjadi damai sejahtera kita. <em>Our peace is a Person!</em> Damai sejahtera kita hadir dalam sebuah Pribadi. Dengan kata lain selama Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah mati, bangkit, dan sekarang berkuasa, selama itu jugalah kualitas damai sejahtera kita tidak akan pudar. Selama itu jugalah damai multidimensi itu akan menjadi milik kita. Yesus sendiri adalah jaminan bahwa antara kita dengan Allah tidak ada lagi permusuhan.<br><br></li>
<li><strong>Allah mau kita hidup menikmati damai sejahtera-Nya.</strong> Kenyataan bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah saja sudah luar biasa. Tetapi sebagai Bapa surgawi kita, Ia mau kita mengalami serta menghidupi damai sejahtera-Nya. Seolah-olah, kalau boleh saya bicara dengan segala hormat, Allah 'tidak puas' hanya menjamin akses masuk kita ke surga-Nya. Ia mau kita juga mengalami hidup surgawi itu hari ini! Bukan berarti hidup kita akan selalu tenang, aman, dan tanpa masalah. Tetapi justru di tengah ketidaktenangan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan masalah paling pelik sekali pun, Allah Bapa mau kita menikmati damai multidimensi-Nya.<br><br></li>
<li><strong>Kita dipanggil menjadi channel damai sejahtera Allah bagi orang lain.</strong> Tidak heran Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat 5:9). Ada banyak hal yang membuat orang melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita sudah melihat bahwa kasih terhadap sesama adalah salah satu bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah. Tapi berdekatan dengan itu adalah hidup yang membawa damai, becoming peacemakers. Damai sejahtera yang Allah sudah berikan kepada kita melalui Yesus, Ia berikan agar kita salurkan kepada orang lain.</li>
</ol>
<p>Sebagai pengikut Kristus, orang-orang yang sudah didamaikan dengan Allah, apakah sifat damai sejahtera bertumbuh dan matang di dalam hidup kita?</p>
<ul>
<li>Apakah orang yang dekat dengan kita mengenal kita sebagai pembawa damai, atau malah sumber perpecahan?</li>
<li>Apakah kata-kata dan sikap hidup kita membuat kita menjadi saluran, atau malah penghalang damai sejahtera Kristus bagi orang lain?</li>
<li>Apakah reaksi kita terhadap kekecewaan dan tantangan hidup menunjukkan bahwa kita sudah menerima damai sejahtera Allah?</li>
</ul>
<p>Bisa jadi sikap dan cara hidup kita menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk membawa orang lain mengenal Yesus, yang adalah damai sejahtera kita!</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan, kiranya damai sejahtera multidimensi yang telah Engkau berikan kepada kami, juga boleh nampak dalam bagaimana kami menghadapi kesulitan sehari-hari, relasi kami dengan orang lain, dan bagaimana kami semakin bersandar pada-Mu. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Sukacita di Dalam Tuhan</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/sukacita-di-dalam-tuhan</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/sukacita-di-dalam-tuhan#comments</comments>        
        <pubDate>Thu, 27 Jan 2022 19:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/sukacita-di-dalam-tuhan</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p>Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)</p>
</blockquote>
<p>Sifat berikutnya dari buah Roh Kudus adalah sukacita. Ini bukan sukacita yang muncul dari hal-hal duniawi yang kita bisa ukur atau bandingkan dengan orang lain. Ini juga bukan sukacita yang alamiah karena kita kebetulan lahir dengan kepribadian yang ceria. Waktu Paulus mengajak kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, ia berbicara tentang sukacita yang surgawi dan supernatural. Ini adalah sukacita yang tidak tergantung pada situasi hidup kita dan juga tidak dapat diganggu oleh penderitaan dan tantangan hidup kita sehari-hari. Sukacita di dalam Tuhan tidak menutup mata terhadap realita hidup yang kadang mengecewakan dan menyakitkan. Sukacita di dalam Tuhan menatap dengan mata iman kepada Allah Bapa yang selalu hadir, menopang, dan mengasihi kita.</p>
<p>Bagaimana agar sifat sukacita ini semakin matang di dalam hidup kita?</p>
<ol>
<li><strong>Kita memelihara sukacita dengan mengingat betapa luarbiasanya diadopsi ke dalam keluarga Allah.</strong> <br>Bagi orang Kristen, sukacita kita terdapat di dalam Injil keselamatan Yesus Kristus. Itu sebabnya Injil, di dalam bahasa aslinya berarti kabar yang baik, penting, dan sukacita! Secara natur, antara kita dan Allah ada jurang jauh yang tidak dapat diseberangi. Tapi kabar sukacitanya adalah justru jurang jauh itulah yang Allah jembatani melalui Yesus. "Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus" (Ef 2:13). Bagi mereka yang percaya dan berbalik kepada Yesus, sukacita mereka datang dari identitas baru yang Allah anugerahkan kepada mereka: bukan lagi musuh Allah, melainkan telah diadopsi sebagai anggota keluarga Allah. Dalam hidup kita sehari-hari, identitas, peran, reputasi, dan harta milik kita, datang dan pergi. Tetapi di dalam Kristus, kita punya identitas, peran, reputasi, dan harta milik yang tidak akan hilang dan pudar untuk selama-lamanya.<br><br></li>
<li><strong>Kita memelihara sukacita dengan melatih pikiran dan permohonan kita dibentuk oleh Firman Allah.<br></strong>Teolog Christopher Wright (<em>Cultivating the Fruit of the Spirit</em>) mengatakan bahwa yang membuat kita kehilangan sukacita adalah karena kita mudah lelah, lekas marah, dan akhirnya jatuh ke dalam<em> self-pity</em> / mengasihani diri sendiri. Atau, ekstrim lainnya, kita mudah curiga terhadap segala sesuatu yang bersifat kebahagiaan. Kekristenan kita samakan dengan keseriusan yang dingin, kaku dan kita anggap sebagai beban berat untuk dipikul. <em>Self-pity</em> atau rasa curiga ini biasanya terjadi karena kita membiarkan kedagingan kita, dunia, dan Setan membentuk pikiran dan keinginan hati kita. Itu sebabnya Paulus tidak hanya memerintahkan kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, ia juga mengajarkan bagaimana kita bisa memeliharanya: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Fil 4:6).<br><br></li>
<li><strong>Kita memelihara sukacita dengan ikut menderita bagi misi kerajaan Allah.<br></strong>Paulus sekali lagi menjadi teladan kita di sini. Ia bukan orang yang sengaja cari penyakit atau suka memprovokasi keributan, tapi tidak jarang ia harus mengalami penderitaan demi Yesus. Ia juga bukan pria yang berpura-pura kuat di tengah penderitaan. Anda tinggal membaca surat 2 Korintus untuk melihat bagaimana Paulus mencurahkan isi hatinya: ia menangis, ia ketakutan, ia merasakan konflik luar-dalam yang intens. Tetapi di tengah dan melalui semuanya itu ia bisa menulis: "Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah" (2 Kor 7:4). Ada sukacita surgawi yang Roh Kudus tumbuhkan dan matangkan di dalam hidup kita, waktu kita ikut menderita demi agar orang lain mengenal Yesus</li>
</ol>
<p>Dengan kata lain, sifat sukacita yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri kita adalah sukacita yang muncul dari orientasi hidup yang baru: tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, melainkan hidup bagi Yesus Kristus dan kerajaan-Nya.</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan, Engkau mengajak serta memerintahkan kami untuk bersukacita di dalam Engkau. Kami mengakui bahwa secara natur lebih mudah bagi kami untuk bersukacita pada hal-hal yang bisa kami lihat, milki, dan rasakan. Tumbuhkan dan matangkan di dalam hidup kami sukacita supernatural yang datang karena iman, pikiran, dan hati yang telah Engkau perbarui. Demi Yesus Kristus, kami meminta doa ini. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)</p>
</blockquote>
<p>Sifat berikutnya dari buah Roh Kudus adalah sukacita. Ini bukan sukacita yang muncul dari hal-hal duniawi yang kita bisa ukur atau bandingkan dengan orang lain. Ini juga bukan sukacita yang alamiah karena kita kebetulan lahir dengan kepribadian yang ceria. Waktu Paulus mengajak kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, ia berbicara tentang sukacita yang surgawi dan supernatural. Ini adalah sukacita yang tidak tergantung pada situasi hidup kita dan juga tidak dapat diganggu oleh penderitaan dan tantangan hidup kita sehari-hari. Sukacita di dalam Tuhan tidak menutup mata terhadap realita hidup yang kadang mengecewakan dan menyakitkan. Sukacita di dalam Tuhan menatap dengan mata iman kepada Allah Bapa yang selalu hadir, menopang, dan mengasihi kita.</p>
<p>Bagaimana agar sifat sukacita ini semakin matang di dalam hidup kita?</p>
<ol>
<li><strong>Kita memelihara sukacita dengan mengingat betapa luarbiasanya diadopsi ke dalam keluarga Allah.</strong> <br>Bagi orang Kristen, sukacita kita terdapat di dalam Injil keselamatan Yesus Kristus. Itu sebabnya Injil, di dalam bahasa aslinya berarti kabar yang baik, penting, dan sukacita! Secara natur, antara kita dan Allah ada jurang jauh yang tidak dapat diseberangi. Tapi kabar sukacitanya adalah justru jurang jauh itulah yang Allah jembatani melalui Yesus. "Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus" (Ef 2:13). Bagi mereka yang percaya dan berbalik kepada Yesus, sukacita mereka datang dari identitas baru yang Allah anugerahkan kepada mereka: bukan lagi musuh Allah, melainkan telah diadopsi sebagai anggota keluarga Allah. Dalam hidup kita sehari-hari, identitas, peran, reputasi, dan harta milik kita, datang dan pergi. Tetapi di dalam Kristus, kita punya identitas, peran, reputasi, dan harta milik yang tidak akan hilang dan pudar untuk selama-lamanya.<br><br></li>
<li><strong>Kita memelihara sukacita dengan melatih pikiran dan permohonan kita dibentuk oleh Firman Allah.<br></strong>Teolog Christopher Wright (<em>Cultivating the Fruit of the Spirit</em>) mengatakan bahwa yang membuat kita kehilangan sukacita adalah karena kita mudah lelah, lekas marah, dan akhirnya jatuh ke dalam<em> self-pity</em> / mengasihani diri sendiri. Atau, ekstrim lainnya, kita mudah curiga terhadap segala sesuatu yang bersifat kebahagiaan. Kekristenan kita samakan dengan keseriusan yang dingin, kaku dan kita anggap sebagai beban berat untuk dipikul. <em>Self-pity</em> atau rasa curiga ini biasanya terjadi karena kita membiarkan kedagingan kita, dunia, dan Setan membentuk pikiran dan keinginan hati kita. Itu sebabnya Paulus tidak hanya memerintahkan kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, ia juga mengajarkan bagaimana kita bisa memeliharanya: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Fil 4:6).<br><br></li>
<li><strong>Kita memelihara sukacita dengan ikut menderita bagi misi kerajaan Allah.<br></strong>Paulus sekali lagi menjadi teladan kita di sini. Ia bukan orang yang sengaja cari penyakit atau suka memprovokasi keributan, tapi tidak jarang ia harus mengalami penderitaan demi Yesus. Ia juga bukan pria yang berpura-pura kuat di tengah penderitaan. Anda tinggal membaca surat 2 Korintus untuk melihat bagaimana Paulus mencurahkan isi hatinya: ia menangis, ia ketakutan, ia merasakan konflik luar-dalam yang intens. Tetapi di tengah dan melalui semuanya itu ia bisa menulis: "Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah" (2 Kor 7:4). Ada sukacita surgawi yang Roh Kudus tumbuhkan dan matangkan di dalam hidup kita, waktu kita ikut menderita demi agar orang lain mengenal Yesus</li>
</ol>
<p>Dengan kata lain, sifat sukacita yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri kita adalah sukacita yang muncul dari orientasi hidup yang baru: tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, melainkan hidup bagi Yesus Kristus dan kerajaan-Nya.</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan, Engkau mengajak serta memerintahkan kami untuk bersukacita di dalam Engkau. Kami mengakui bahwa secara natur lebih mudah bagi kami untuk bersukacita pada hal-hal yang bisa kami lihat, milki, dan rasakan. Tumbuhkan dan matangkan di dalam hidup kami sukacita supernatural yang datang karena iman, pikiran, dan hati yang telah Engkau perbarui. Demi Yesus Kristus, kami meminta doa ini. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Kasih: Sifat yang Pertama dan Terutama</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kasih-sifat-yang-pertama-dan-terutama</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kasih-sifat-yang-pertama-dan-terutama#comments</comments>        
        <pubDate>Tue, 25 Jan 2022 20:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/kasih-sifat-yang-pertama-dan-terutama</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p>Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Gal 5:13-14)</p>
</blockquote>
<p>Kasih memang pantas untuk menempati posisi pertama dari sifat-sifat buah Roh. Di dalam kekekalan, sebelum ruang, waktu, materi, dan kehidupan fisik diciptakan, Allah sudah eksis dalam relasi kasih abadi antara ketiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena kasih-Nyalah Allah Bapa menyerahkan Anak-Nya Yesus Kristus untuk menggantikan hukuman yang sepantasnya kita terima. Kalau anda mau mengukur seberapa jauh anda mengenal kasih Allah, tanyakan pada diri anda: apakah aku saat ini ada dalam relasi saling mengasihi satu sama lain?</p>
<p>Kasih bukan sekedar rasa sayang yang sentimentil, tapi tindakan praktis yang menunjukkan bahwa kita peduli, mendukung, membantu, menguatkan satu sama lain, termasuk ketika kita harus mengorbankan waktu, uang, tenaga, bahkan perasaan kita. Ini adalah kasih supernatural yang tidak lahir dari natur manusia yang berdosa. Itu sebabnya Yesus memanggil kita saling mengasihi, sama seperti Ia telah mengasihi kita (Yoh 13:34). Pikirkan betapa real, dalam, konsisten, penuh pengorbanan (bahkan sampai rela mati!), tidak kenal surutnya kasih Yesus kepada kita. Kasih ilahi ini kita saksikan berulangkali melalui kasih setia Tuhan Allah kepada umat-Nya Israel di Perjanjian Lama.</p>
<p>Anda akan menemukan bahwa ungkapan-ungkapan kasih setia Tuhan yang paling dalam dan mesra justru ditunjukkan saat bangsa Israel berada di titik paling jauh dari Tuhan:</p>
<blockquote>
<p>Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku. (Yes 49:15-16)</p>
<p>Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku; mereka memanggil kepada Baal dan berhenti meninggikan nama-Ku. Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. (Hos 11:7-8)</p>
</blockquote>
<p>Kasih setia yang begitu besar dan supernatural ini akhirnya nampak secara final di dalam Yesus:</p>
<blockquote>
<p>Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rom 5:8)</p>
</blockquote>
<p>Kalau kita sudah dijamah oleh kasih Tuhan, serta menerima Kristus dengan iman, maka iman itu dengan sendirinya akan hidup mengasihi. Hanya dengan merenungkan dan mengingat kembali kasih Tuhan kepada kita, seharusnya cukup bagi kita untuk bangun dari kemalasan, kesombongan, sikap hitung-hitungan kita, dan mulai mengasihi satu sama lain.</p>
<ol>
<li><strong>Saling mengasihi satu sama lain menunjukkan bahwa kasih Allah ada di dalam kita.</strong> Yesus menggunakannya sebagai litmus test: bagaimana dunia akan mengetahui bahwa kita adalah pengikut Yesus? Kalau kita hidup saling mengasihi. Ini sebuah challenge! Seorang penulis mengatakan orang lain punya hak untuk mempertanyakan iman kita kalau di mata mereka kekristenan kita hanya sekedar label, tapi tanpa kasih yang real antara satu sama lain.<br><br></li>
<li><strong>Saling mengasihi satu sama lain memuliakan Yesus Kristus yang adalah sumber dan teladan kasih kita.</strong> Gereja mudah sekali menjadi tempat dimana yang dimuliakan adalah tradisi, teologi, atau tokoh tertentu. Tetapi bukan itu yang Yesus inginkan bagi gereja-Nya. Ia mau kita saling mengasihi sedemikian rupa sehingga orang lain dapat melihat Kristus melalui kita. Itu sebabnya hidup dan bertumbuh saling mengasihi di dalam gereja adalah salah satu sarana terbaik untuk semakin melihat kemuliaan kasih Kristus.</li>
</ol>
<p>Pada masa Perang Dunia kedua di Jerman, Hitler berusaha menguasai gereja dengan menyatukan setiap grup agama melalui undang-undang. Salah satu denominasi yang akhirnya mengalami perpecahan mengenai hal ini adalah gereja Brethren. Sebagian mengikuti undang-undang yang berlaku, sebagian lagi menolak. Grup yang mengikuti pemerintah Jerman tentunya mengalami hidup yang lebih nyaman. Walaupun demikian, karena mereka disatukan dengan gereja-gereja liberal lainnya akhirnya ketajaman doktrin serta semangat rohani mereka mengalami kemunduran. Sementara grup yang memutuskan untuk memisahkan diri akhirnya tetap solid secara rohani, walaupun tidak sedikit yang anggota keluarganya mati terbunuh di kamp konsentrasi Jerman.</p>
<p>Begitu Perang selesai, dan Jerman dikalahkan, gereja Brethren ini kembali berkumpul. Anda tidak salah kalau membayangkan bahwa perkumpulan mereka sangat emosional dan menegangkan. Mereka memegang ajaran yang sama, tapi di grup yang satu ada yang keluarganya dibantai oleh Nazi, sementara di grup yang lain ada yang keluarganya masih hidup. Ketegangan ini terus berlangsung sampai akhirnya para penatua dari kedua grup ini memutuskan untuk bertemu di tempat yang sepi. Mereka bertemu untuk mengambil waktu memeriksa hati mereka masing-masing, pribadi lepas pribadi. Setiap orang di pertemuan itu bukan saja mendalami rasa sakit, duka, marah, dikhianati, tetapi juga menyadari bagaimana ia telah gagal mentaati perintah Yesus Tuhan dan Juruselamat mereka: "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh 13:34-35).</p>
<p>Waktu mereka kembali bertemu, kesadaran anggota gereja Brethren akan kasih Kristus kepada mereka begitu besarnya, sampai itu melumerkan segala rasa curiga, iri, marah, yang terpendam selama ini. Waktu mereka bertemu, mereka berkata, <em>"We are just one."</em> Kita adalah satu - bukan secara organisasi, lokasi atau denominasi, tetapi secara spiritual dan supernatural, karena kasih Allah yang telah Ia curahkan kepada mereka melalui Yesus!</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Bapa, ampuni kami kalau selama ini kami begitu dangkal, hitung-hitungan, dan malas, dalam mengasihi satu sama lain. Ingatkan kami kembali akan kasih-Mu yang besar, supernatural, gigih, dan kokoh itu. Nyatakan kembali di dalam hati setiap kami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan. Kami minta ini di dalam nama-Nya. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Gal 5:13-14)</p>
</blockquote>
<p>Kasih memang pantas untuk menempati posisi pertama dari sifat-sifat buah Roh. Di dalam kekekalan, sebelum ruang, waktu, materi, dan kehidupan fisik diciptakan, Allah sudah eksis dalam relasi kasih abadi antara ketiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena kasih-Nyalah Allah Bapa menyerahkan Anak-Nya Yesus Kristus untuk menggantikan hukuman yang sepantasnya kita terima. Kalau anda mau mengukur seberapa jauh anda mengenal kasih Allah, tanyakan pada diri anda: apakah aku saat ini ada dalam relasi saling mengasihi satu sama lain?</p>
<p>Kasih bukan sekedar rasa sayang yang sentimentil, tapi tindakan praktis yang menunjukkan bahwa kita peduli, mendukung, membantu, menguatkan satu sama lain, termasuk ketika kita harus mengorbankan waktu, uang, tenaga, bahkan perasaan kita. Ini adalah kasih supernatural yang tidak lahir dari natur manusia yang berdosa. Itu sebabnya Yesus memanggil kita saling mengasihi, sama seperti Ia telah mengasihi kita (Yoh 13:34). Pikirkan betapa real, dalam, konsisten, penuh pengorbanan (bahkan sampai rela mati!), tidak kenal surutnya kasih Yesus kepada kita. Kasih ilahi ini kita saksikan berulangkali melalui kasih setia Tuhan Allah kepada umat-Nya Israel di Perjanjian Lama.</p>
<p>Anda akan menemukan bahwa ungkapan-ungkapan kasih setia Tuhan yang paling dalam dan mesra justru ditunjukkan saat bangsa Israel berada di titik paling jauh dari Tuhan:</p>
<blockquote>
<p>Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku. (Yes 49:15-16)</p>
<p>Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku; mereka memanggil kepada Baal dan berhenti meninggikan nama-Ku. Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. (Hos 11:7-8)</p>
</blockquote>
<p>Kasih setia yang begitu besar dan supernatural ini akhirnya nampak secara final di dalam Yesus:</p>
<blockquote>
<p>Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rom 5:8)</p>
</blockquote>
<p>Kalau kita sudah dijamah oleh kasih Tuhan, serta menerima Kristus dengan iman, maka iman itu dengan sendirinya akan hidup mengasihi. Hanya dengan merenungkan dan mengingat kembali kasih Tuhan kepada kita, seharusnya cukup bagi kita untuk bangun dari kemalasan, kesombongan, sikap hitung-hitungan kita, dan mulai mengasihi satu sama lain.</p>
<ol>
<li><strong>Saling mengasihi satu sama lain menunjukkan bahwa kasih Allah ada di dalam kita.</strong> Yesus menggunakannya sebagai litmus test: bagaimana dunia akan mengetahui bahwa kita adalah pengikut Yesus? Kalau kita hidup saling mengasihi. Ini sebuah challenge! Seorang penulis mengatakan orang lain punya hak untuk mempertanyakan iman kita kalau di mata mereka kekristenan kita hanya sekedar label, tapi tanpa kasih yang real antara satu sama lain.<br><br></li>
<li><strong>Saling mengasihi satu sama lain memuliakan Yesus Kristus yang adalah sumber dan teladan kasih kita.</strong> Gereja mudah sekali menjadi tempat dimana yang dimuliakan adalah tradisi, teologi, atau tokoh tertentu. Tetapi bukan itu yang Yesus inginkan bagi gereja-Nya. Ia mau kita saling mengasihi sedemikian rupa sehingga orang lain dapat melihat Kristus melalui kita. Itu sebabnya hidup dan bertumbuh saling mengasihi di dalam gereja adalah salah satu sarana terbaik untuk semakin melihat kemuliaan kasih Kristus.</li>
</ol>
<p>Pada masa Perang Dunia kedua di Jerman, Hitler berusaha menguasai gereja dengan menyatukan setiap grup agama melalui undang-undang. Salah satu denominasi yang akhirnya mengalami perpecahan mengenai hal ini adalah gereja Brethren. Sebagian mengikuti undang-undang yang berlaku, sebagian lagi menolak. Grup yang mengikuti pemerintah Jerman tentunya mengalami hidup yang lebih nyaman. Walaupun demikian, karena mereka disatukan dengan gereja-gereja liberal lainnya akhirnya ketajaman doktrin serta semangat rohani mereka mengalami kemunduran. Sementara grup yang memutuskan untuk memisahkan diri akhirnya tetap solid secara rohani, walaupun tidak sedikit yang anggota keluarganya mati terbunuh di kamp konsentrasi Jerman.</p>
<p>Begitu Perang selesai, dan Jerman dikalahkan, gereja Brethren ini kembali berkumpul. Anda tidak salah kalau membayangkan bahwa perkumpulan mereka sangat emosional dan menegangkan. Mereka memegang ajaran yang sama, tapi di grup yang satu ada yang keluarganya dibantai oleh Nazi, sementara di grup yang lain ada yang keluarganya masih hidup. Ketegangan ini terus berlangsung sampai akhirnya para penatua dari kedua grup ini memutuskan untuk bertemu di tempat yang sepi. Mereka bertemu untuk mengambil waktu memeriksa hati mereka masing-masing, pribadi lepas pribadi. Setiap orang di pertemuan itu bukan saja mendalami rasa sakit, duka, marah, dikhianati, tetapi juga menyadari bagaimana ia telah gagal mentaati perintah Yesus Tuhan dan Juruselamat mereka: "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh 13:34-35).</p>
<p>Waktu mereka kembali bertemu, kesadaran anggota gereja Brethren akan kasih Kristus kepada mereka begitu besarnya, sampai itu melumerkan segala rasa curiga, iri, marah, yang terpendam selama ini. Waktu mereka bertemu, mereka berkata, <em>"We are just one."</em> Kita adalah satu - bukan secara organisasi, lokasi atau denominasi, tetapi secara spiritual dan supernatural, karena kasih Allah yang telah Ia curahkan kepada mereka melalui Yesus!</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Bapa, ampuni kami kalau selama ini kami begitu dangkal, hitung-hitungan, dan malas, dalam mengasihi satu sama lain. Ingatkan kami kembali akan kasih-Mu yang besar, supernatural, gigih, dan kokoh itu. Nyatakan kembali di dalam hati setiap kami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan. Kami minta ini di dalam nama-Nya. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Apakah Kristus Terbentuk di Dalam Hidup Kita? (Gal 5:16-23)</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/apakah-kristus-terbentuk-di-dalam-hidup-kita--gal-516-23-</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/apakah-kristus-terbentuk-di-dalam-hidup-kita--gal-516-23-#comments</comments>        
        <pubDate>Mon, 24 Jan 2022 19:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/apakah-kristus-terbentuk-di-dalam-hidup-kita--gal-516-23-</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p>Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.<br><br> Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. <br><br>Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. <br><br>Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Gal 5:16-23)</p>
</blockquote>
<p>Hidup orang Kristen dapat dirangkum dalam satu kata: konflik. Konflik adalah pertarungan antara dua hal yang berlawanan satu sama lain. Di satu pihak setiap pengikut Kristus sudah dibenarkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus dan menjadi milik-Nya selamanya. Di pihak lain setiap pengikut Kristus masih memiliki sifat dosa dan rentan terhadap godaan si jahat dan dunia ini setiap harinya. Tidak ada satu pun manusia yang netral di dunia ini: entah ia milik Kristus, dimana ia akan selalu berkonflik dengan dosa dan kejahatan. Atau ia milik Setan, dimana ia akan selalu mencari cara berdamai dengan dosa dan kejahatan. Yesus sendiri mengatakan, "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku" (Mat 12:30).</p>
<p>Di dalam bacaan kita hari ini rasul Paulus menguraikan cara pikir, gaya hidup, sikap seperti apa yang seharusnya muncul dari orang-orang yang sudah menjadi milik Kristus. Sebagian kita mungkin familiar dengan ayat-ayat di atas, khususnya bagian dimana Paulus menjelaskan sembilan sifat atau karakter yang kalau disatukan disebut sebagai buah Roh Kudus. Buah Roh Kudus tidak lain adalah karakter Yesus Kristus sendiri yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri setiap pengikut-Nya. Tetapi sebelum kita melihat kesembilan sifat ini, mari kita zoom out sedikit dan melihat konteks mengapa Paulus menjelaskan sifat-sifat ini.</p>
<p>Salah satu tema besar di surat Galatia adalah kebebasan di dalam Kristus. Surat Galatia memberikan respon pada dua pertanyaan penting: </p>
<ul>
<li>Kalau kita sudah diselamatkan sepenuhnya oleh anugerah Allah di dalam Kristus, apakah artinya Tuhan tidak peduli lagi dengan perbuatan baik kita?</li>
<li>Kalau begitu, apakah artinya kita harus memastikan bahwa kita mentaati semua hukum Allah dengan sempurna, supaya kita selalu ada di 'sisi baik'nya Tuhan?</li>
</ul>
<p>Jawabannya: bukan dua-duanya. Kebebasan di dalam Kristus artinya berjalan, dipimpin, serta hidup oleh Roh Kudus. Tugas Roh Kudus adalah membuat setiap pengikut Yesus menjadi semakin seperti Yesus. Di pasal sebelumnya, Paulus menulis betapa ia merindukan agar rupa Kristus menjadi nyata di dalam jemaat Galatia - dan kita semua, tentunya! (Gal 4:19). Dalam bahasa Inggrisnya, <em>"Until Christ is formed in you!"</em></p>
<p>Jemaat Galatia saat itu sedang goyah imannya sampai-sampai mereka mulai berpaling dari Yesus. Bagi saya itu adalah tantangan setiap orang Kristen sampai hari ini. Ada begitu banyak hal yang lebih menarik untuk diikuti, dicari, dan dikejar daripada pengenalan dan cinta yang mendalam kepada Yesus. Yesus akhirnya hanya kita perlakukan sebagai tim cheerleader, motivational speaker, atau nomor telpon darurat kalau udah kepepet. Paulus mengatakan bahwa ia mau Yesus sedemikian nyatanya dalam hidup kita, karakter serta keindahan-Nya sedemikian terbentuknya dalam hidup kita, sampai-sampai kita tidak mau berpaling kemana-mana lagi selain Yesus.</p>
<p>Apa yang terjadi kalau kita masih hidup berpaling dari Yesus? Paulus menyebutnya dengan menuruti keinginan daging, yang terang-terangan selalu berkonflik dengan keinginan Roh. Ia kemudian mendaftarkan apa saja keinginan daging ini dalam tiga kategori, yang mencakup hampir semua aspek hidup kita sehari-hari:</p>
<ul>
<li>Dosa seksual: percabulan, kecemaran, hawa nafsu.</li>
<li>Dosa religius: penyembahan berhala, sihir.</li>
<li>Dosa sosial: perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.</li>
</ul>
<p>Kalau kita lihat sepintas maka kesannya mereka yang melakukan atau mengejar hal-hal di atas inilah yang kelihatannya hidup bebas merdeka tanpa batasan. Di kebanyakan media hari ini, kalau anda berbicara melawan percabulan, sihir, kepentingan diri sendiri, kemabukan, dan pesta pora, anda harus siap-siap diteror oleh masyarakat yang menganggap anda menghalangi kebebasan mereka.</p>
<p>Bebas di dalam Kristus tidak seharusnya diikuti oleh kebebasan berbuat dosa. Jangan pikir bahwa kita bisa mengeklaim sebagai orang Kristen dan hidup berdamai dengan kedagingan, dunia, dan Setan. Perhatikan apa yang Paulus katakan: "Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (Gal 5:21b).</p>
<p>Bagaimana dengan mereka yang mau hidup berpaut pada Yesus? Ini kabar baiknya. Paulus membuka penjelasan kesembilan sifat buah Roh dengan satu kata 'TETAPI'. Kata 'Tetapi' di sini menunjukkan betapa bertolak belakangnya hidup bebas di dalam dosa dan bebas di dalam Kristus. Hidup di dalam Kristus adalah hidup dimana sifat-sifat ini bertumbuh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Ini tidak lain adalah karakter Yesus Kristus sendiri yang Roh Kudus sedang tumbuh kembangkan di dalam diri setiap pengikut-Nya.</p>
<ol>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini tidak datang 'dari sononya'.</strong> Tidak ada orang yang secara alamiah sabar seperti Yesus atau menguasai diri demi Yesus.</li>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini tidak muncul karena usaha manusia.</strong> Paulus mengkontraskan antara perbuatan, aksi, tindakan daging, sesuatu yang kita usahakan dan lakukan, dengan buah Roh - sesuatu yang Roh Kudus kerjakan di dalam kita.</li>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini muncul dengan mendengarkan Injil Yesus Kristus.</strong> Semakin kita memahami, mendalami, mengecap indahnya Injil, sifat-sifat buah ini mulai bertumbuh dalam hidup kita.</li>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini lahir di dalam diri setiap pengikut Yesus.</strong> Sama seperti natur pohon apel adalah menghasilkan buah apel, demikian juga natur baru manusia yang sudah memiliki Roh Kristus adalah menghasikan buah Roh.</li>
</ol>
<p>Almarhum John Stott, seorang teolog, pengkhotbah dan penulis yang sampai hari ini masih terus memberikan dampak bagi gereja dan di dunia, dikenal oleh orang-orang dekatnya sebagai seorang yang sangat menunjukkan karakter Kristus. Dikatakan bahwa setiap hari ia mengucapkan doa di bawah ini, doa yang kiranya menjadi doa setiap kita:</p>
<p><em>Bapa surgawi, aku berdoa agar hari ini aku hidup di hadirat-Mu dan semakin menyenangkan Engkau.</em><br><em>Tuhan Yesus, aku berdoa agar hari ini aku memikul salibku dan mengikut Engkau.</em><br><em>Roh Kudus, aku berdoa agar hari ini Engkau berkenan memenuhiku dengan diri-Mu dan matangkanlah buah-Mu di dalam hidupku: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.<br><br> Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. <br><br>Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. <br><br>Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Gal 5:16-23)</p>
</blockquote>
<p>Hidup orang Kristen dapat dirangkum dalam satu kata: konflik. Konflik adalah pertarungan antara dua hal yang berlawanan satu sama lain. Di satu pihak setiap pengikut Kristus sudah dibenarkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus dan menjadi milik-Nya selamanya. Di pihak lain setiap pengikut Kristus masih memiliki sifat dosa dan rentan terhadap godaan si jahat dan dunia ini setiap harinya. Tidak ada satu pun manusia yang netral di dunia ini: entah ia milik Kristus, dimana ia akan selalu berkonflik dengan dosa dan kejahatan. Atau ia milik Setan, dimana ia akan selalu mencari cara berdamai dengan dosa dan kejahatan. Yesus sendiri mengatakan, "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku" (Mat 12:30).</p>
<p>Di dalam bacaan kita hari ini rasul Paulus menguraikan cara pikir, gaya hidup, sikap seperti apa yang seharusnya muncul dari orang-orang yang sudah menjadi milik Kristus. Sebagian kita mungkin familiar dengan ayat-ayat di atas, khususnya bagian dimana Paulus menjelaskan sembilan sifat atau karakter yang kalau disatukan disebut sebagai buah Roh Kudus. Buah Roh Kudus tidak lain adalah karakter Yesus Kristus sendiri yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri setiap pengikut-Nya. Tetapi sebelum kita melihat kesembilan sifat ini, mari kita zoom out sedikit dan melihat konteks mengapa Paulus menjelaskan sifat-sifat ini.</p>
<p>Salah satu tema besar di surat Galatia adalah kebebasan di dalam Kristus. Surat Galatia memberikan respon pada dua pertanyaan penting: </p>
<ul>
<li>Kalau kita sudah diselamatkan sepenuhnya oleh anugerah Allah di dalam Kristus, apakah artinya Tuhan tidak peduli lagi dengan perbuatan baik kita?</li>
<li>Kalau begitu, apakah artinya kita harus memastikan bahwa kita mentaati semua hukum Allah dengan sempurna, supaya kita selalu ada di 'sisi baik'nya Tuhan?</li>
</ul>
<p>Jawabannya: bukan dua-duanya. Kebebasan di dalam Kristus artinya berjalan, dipimpin, serta hidup oleh Roh Kudus. Tugas Roh Kudus adalah membuat setiap pengikut Yesus menjadi semakin seperti Yesus. Di pasal sebelumnya, Paulus menulis betapa ia merindukan agar rupa Kristus menjadi nyata di dalam jemaat Galatia - dan kita semua, tentunya! (Gal 4:19). Dalam bahasa Inggrisnya, <em>"Until Christ is formed in you!"</em></p>
<p>Jemaat Galatia saat itu sedang goyah imannya sampai-sampai mereka mulai berpaling dari Yesus. Bagi saya itu adalah tantangan setiap orang Kristen sampai hari ini. Ada begitu banyak hal yang lebih menarik untuk diikuti, dicari, dan dikejar daripada pengenalan dan cinta yang mendalam kepada Yesus. Yesus akhirnya hanya kita perlakukan sebagai tim cheerleader, motivational speaker, atau nomor telpon darurat kalau udah kepepet. Paulus mengatakan bahwa ia mau Yesus sedemikian nyatanya dalam hidup kita, karakter serta keindahan-Nya sedemikian terbentuknya dalam hidup kita, sampai-sampai kita tidak mau berpaling kemana-mana lagi selain Yesus.</p>
<p>Apa yang terjadi kalau kita masih hidup berpaling dari Yesus? Paulus menyebutnya dengan menuruti keinginan daging, yang terang-terangan selalu berkonflik dengan keinginan Roh. Ia kemudian mendaftarkan apa saja keinginan daging ini dalam tiga kategori, yang mencakup hampir semua aspek hidup kita sehari-hari:</p>
<ul>
<li>Dosa seksual: percabulan, kecemaran, hawa nafsu.</li>
<li>Dosa religius: penyembahan berhala, sihir.</li>
<li>Dosa sosial: perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.</li>
</ul>
<p>Kalau kita lihat sepintas maka kesannya mereka yang melakukan atau mengejar hal-hal di atas inilah yang kelihatannya hidup bebas merdeka tanpa batasan. Di kebanyakan media hari ini, kalau anda berbicara melawan percabulan, sihir, kepentingan diri sendiri, kemabukan, dan pesta pora, anda harus siap-siap diteror oleh masyarakat yang menganggap anda menghalangi kebebasan mereka.</p>
<p>Bebas di dalam Kristus tidak seharusnya diikuti oleh kebebasan berbuat dosa. Jangan pikir bahwa kita bisa mengeklaim sebagai orang Kristen dan hidup berdamai dengan kedagingan, dunia, dan Setan. Perhatikan apa yang Paulus katakan: "Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (Gal 5:21b).</p>
<p>Bagaimana dengan mereka yang mau hidup berpaut pada Yesus? Ini kabar baiknya. Paulus membuka penjelasan kesembilan sifat buah Roh dengan satu kata 'TETAPI'. Kata 'Tetapi' di sini menunjukkan betapa bertolak belakangnya hidup bebas di dalam dosa dan bebas di dalam Kristus. Hidup di dalam Kristus adalah hidup dimana sifat-sifat ini bertumbuh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Ini tidak lain adalah karakter Yesus Kristus sendiri yang Roh Kudus sedang tumbuh kembangkan di dalam diri setiap pengikut-Nya.</p>
<ol>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini tidak datang 'dari sononya'.</strong> Tidak ada orang yang secara alamiah sabar seperti Yesus atau menguasai diri demi Yesus.</li>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini tidak muncul karena usaha manusia.</strong> Paulus mengkontraskan antara perbuatan, aksi, tindakan daging, sesuatu yang kita usahakan dan lakukan, dengan buah Roh - sesuatu yang Roh Kudus kerjakan di dalam kita.</li>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini muncul dengan mendengarkan Injil Yesus Kristus.</strong> Semakin kita memahami, mendalami, mengecap indahnya Injil, sifat-sifat buah ini mulai bertumbuh dalam hidup kita.</li>
<li><strong>Sifat-sifat buah Roh ini lahir di dalam diri setiap pengikut Yesus.</strong> Sama seperti natur pohon apel adalah menghasilkan buah apel, demikian juga natur baru manusia yang sudah memiliki Roh Kristus adalah menghasikan buah Roh.</li>
</ol>
<p>Almarhum John Stott, seorang teolog, pengkhotbah dan penulis yang sampai hari ini masih terus memberikan dampak bagi gereja dan di dunia, dikenal oleh orang-orang dekatnya sebagai seorang yang sangat menunjukkan karakter Kristus. Dikatakan bahwa setiap hari ia mengucapkan doa di bawah ini, doa yang kiranya menjadi doa setiap kita:</p>
<p><em>Bapa surgawi, aku berdoa agar hari ini aku hidup di hadirat-Mu dan semakin menyenangkan Engkau.</em><br><em>Tuhan Yesus, aku berdoa agar hari ini aku memikul salibku dan mengikut Engkau.</em><br><em>Roh Kudus, aku berdoa agar hari ini Engkau berkenan memenuhiku dengan diri-Mu dan matangkanlah buah-Mu di dalam hidupku: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Mat 7:24-29 &quot;Anda Bijaksana atau Bodoh?&quot;</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-724-29--anda-bijaksana-atau-bodoh-</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-724-29--anda-bijaksana-atau-bodoh-#comments</comments>        
        <pubDate>Thu, 30 Dec 2021 20:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-724-29--anda-bijaksana-atau-bodoh-</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Matius 7:24-29</strong> <br>(24) Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (26) Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.</p>
<p>(28) Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, (29) sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.</p>
</blockquote>
<p>Kalimat penutup Khotbah di Bukit memisahkan setiap pendengar Yesus ke dalam dua kategori: orang yang bijak atau orang yang bodoh. Tidak peduli apa latar belakang agama, karakter, persoalan hidup, status, reputasi, seberapa sukses atau gagalnya anda, pada akhirnya Yesus menilai kita hanya dari dua hal: bagaimana kita berespon terhadap perkataan-Nya. Anda bisa jadi orang Kristen puluhan tahun dan mendengar ribuan khotbah tapi pada saat yang sama tidak melakukan apa yang Yesus katakan. Anda bisa punya reputasi baik di gereja dan bahkan dikenal baik di masyarakat tapi pada saat yang sama tidak melakukan apa yang Yesus katakan. Baik Alkitab maupun sejarah menunjukkan bahwa ada banyak orang yang mendengarkan perkataan Yesus hanya untuk mengabaikannya.</p>
<p>Yang membedakan antara orang bijak, atau orang Kristen yang sejati, dengan orang bodoh, atau orang Kristen yang palsu, pada akhirnya adalah apakah orang itu mentaati dan mempraktekkan apa yang dikatakan oleh si Pengkhotbah yang agung ini. Darimana kita tahu bahwa kita masuk kategori orang bijaksana? Darimana kita tahu bahwa kita sudah membangun di atas batu, dan bukannya di atas pasir?</p>
<p>Kita hanya tahu waktu kita menghadapi ujian dan tantangan hidup. Yesus menyebutnya di sini sebagai hujan, banjir, dan angin yang melanda. Ujian dan tantangan dihadapi oleh semua orang tanpa pilih-pilih. Kebanyakan dari kita sudah atau sedang mengalami dukacita, sakit, penderitaan, kekecewaan, dan suatu hari nanti, kematian. Waktu ujian dan tantangan menerpa kita, entah itu karena kesalahan kita, kesalahan orang lain, faktor tidak terkendali, atau kombinasi dari ketiganya, biasanya kita jatuh ke salah satu dari dua ekstrim: Ekstrim yang satu berusaha mati-matian cari jalan keluar atau cara untuk membalas, ekstrim yang lain adalah tidak berbuat apa-apa, atau bahkan kita rohanikan dengan 'ya udah Tuhan maunya gitu, mau gimana lagi?'</p>
<p>Tetapi, setiap orang Kristen yang sejati akan bertanya: bagaimana aku bisa melakukan kehendak Allah dalam situasi ini? Beberapa contoh:</p>
<ul>
<li>Kalau kesalahan atau dosa kita membuat kita sadar akan kemiskinan rohani kita serta menangisi kejahatan hati kita, ingatlah bahwa Yesus mengatakan itu artinya kita berbahagia atau diberkati.</li>
<li>Kalau kesalahan atau dosa orang lain membuat kita sadar akan panggilan kita mengasihi, mengampuni, dan berdoa bagi musuh-musuh kita, ingatlah bahwa Yesus mengajarkan itu artinya kita sudah memahami anugerah pengampunan Allah.</li>
<li>Kalau situasi hidup membuat kita merasa kuatir dan cemas, ingatlah bahwa Yesus mengundang kita untuk menempatkan percaya pada Allah Bapa yang memelihara kita.</li>
</ul>
<p>Dengan kata lain, setiap ujian dan tantangan hidup, sebesar dan sekecil apa pun, adalah kesempatan bagi setiap pengikut Yesus untuk merefleksikan dan melakukan perkataan-perkataan Yesus. Setiap ujian dan tantangan hidup adalah kesempatan kita melihat bagaimana kuasa Injil Yesus hidup melalui cara kita berpikir, berkata-kata, dan berespon.</p>
<p>Kalimat penutup Khotbah di Bukit ini juga menunjukkan sesuatu yang spesial. Saya harap selama seri ini kita sudah melihat secara sepintas betapa runut, jelas, dan praktis gambaran Yesus tentang hidup orang Kristen melalui khotbah ini. Tetapi penjelasan secara runut, jelas, dan praktis saja bukan sumber transformasi hidup Kristen. Yang dibutuhkan setiap pengikut Yesus jauh lebih dalam lagi: hati yang mau tunduk pada kuasa/otoritas Yesus atas hidup mereka. Kita mau melakukan perkataan-perkataan Yesus karena setiap ajaran-Nya terkait pada pribadi-Nya sendiri yang begitu agung, penuh kasih, dan bijaksana.</p>
<p>Kalau saya boleh tarik lensa pengamatan kita sedikit lebih luas lagi, keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) beserta semua penulis Perjanjian Baru, menulis bukan saja tentang ajaran dan tindakan Yesus, tetapi juga Yesus yang telah mati dan bangkit dari antara orang mati. Artinya setiap ajaran Yesus yang kita baca baik di Khotbah di Bukit, maupun di seluruh Perjanjian Baru, adalah ajaran dari Yesus yang saat ini memerintah dengan tubuh kemuliaan yang tidak akan mati lagi dan bahkan akan kembali sebagai Hakim atas seluruh manusia.</p>
<p>Saat Yesus datang kembali sebagai Hakim, di situlah setiap hidup kita akan mengalami ujian dan tantangan final. Di hari penghakiman kita akan mendapati siapa yang benar-benar bijaksana (mendengarkan dan melakukan perkataan Yesus), dan siapa yang benar-benar bodoh (mendengarkan tetapi mengabaikan perkataan Yesus). Di hari itu kita akan melihat apakah hidup kita selama ini dibangun di atas Yesus sebagai batu keselamatan kita yang kekal, atau di atas pasir dosa, pemberontakan, dan kesementaraan.</p>
<p><em>Bagaimana respon anda terhadap Yesus dan perkataan-Nya?</em></p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau dengan sabar menjelaskan bagaimana kami bisa membangun hidup yang berkenan kepada-Mu. Tolong setiap kami agar tidak ada yang kedapatan sebagai orang-orang yang hanya mendengar atau bahkan bisa mengajarkan perkataan-Mu, tetapi yang hidupnya tidak melakukan apa yang Engkau katakan. Tolong kami agar menjadi orang-orang bijaksana yang bukan saja mendengar dan mempelajari perkataan-Mu, tetapi juga melakukannya.</em></p>
<p><em>Terpujilah nama dan kuasa-Mu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Matius 7:24-29</strong> <br>(24) Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (26) Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.</p>
<p>(28) Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, (29) sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.</p>
</blockquote>
<p>Kalimat penutup Khotbah di Bukit memisahkan setiap pendengar Yesus ke dalam dua kategori: orang yang bijak atau orang yang bodoh. Tidak peduli apa latar belakang agama, karakter, persoalan hidup, status, reputasi, seberapa sukses atau gagalnya anda, pada akhirnya Yesus menilai kita hanya dari dua hal: bagaimana kita berespon terhadap perkataan-Nya. Anda bisa jadi orang Kristen puluhan tahun dan mendengar ribuan khotbah tapi pada saat yang sama tidak melakukan apa yang Yesus katakan. Anda bisa punya reputasi baik di gereja dan bahkan dikenal baik di masyarakat tapi pada saat yang sama tidak melakukan apa yang Yesus katakan. Baik Alkitab maupun sejarah menunjukkan bahwa ada banyak orang yang mendengarkan perkataan Yesus hanya untuk mengabaikannya.</p>
<p>Yang membedakan antara orang bijak, atau orang Kristen yang sejati, dengan orang bodoh, atau orang Kristen yang palsu, pada akhirnya adalah apakah orang itu mentaati dan mempraktekkan apa yang dikatakan oleh si Pengkhotbah yang agung ini. Darimana kita tahu bahwa kita masuk kategori orang bijaksana? Darimana kita tahu bahwa kita sudah membangun di atas batu, dan bukannya di atas pasir?</p>
<p>Kita hanya tahu waktu kita menghadapi ujian dan tantangan hidup. Yesus menyebutnya di sini sebagai hujan, banjir, dan angin yang melanda. Ujian dan tantangan dihadapi oleh semua orang tanpa pilih-pilih. Kebanyakan dari kita sudah atau sedang mengalami dukacita, sakit, penderitaan, kekecewaan, dan suatu hari nanti, kematian. Waktu ujian dan tantangan menerpa kita, entah itu karena kesalahan kita, kesalahan orang lain, faktor tidak terkendali, atau kombinasi dari ketiganya, biasanya kita jatuh ke salah satu dari dua ekstrim: Ekstrim yang satu berusaha mati-matian cari jalan keluar atau cara untuk membalas, ekstrim yang lain adalah tidak berbuat apa-apa, atau bahkan kita rohanikan dengan 'ya udah Tuhan maunya gitu, mau gimana lagi?'</p>
<p>Tetapi, setiap orang Kristen yang sejati akan bertanya: bagaimana aku bisa melakukan kehendak Allah dalam situasi ini? Beberapa contoh:</p>
<ul>
<li>Kalau kesalahan atau dosa kita membuat kita sadar akan kemiskinan rohani kita serta menangisi kejahatan hati kita, ingatlah bahwa Yesus mengatakan itu artinya kita berbahagia atau diberkati.</li>
<li>Kalau kesalahan atau dosa orang lain membuat kita sadar akan panggilan kita mengasihi, mengampuni, dan berdoa bagi musuh-musuh kita, ingatlah bahwa Yesus mengajarkan itu artinya kita sudah memahami anugerah pengampunan Allah.</li>
<li>Kalau situasi hidup membuat kita merasa kuatir dan cemas, ingatlah bahwa Yesus mengundang kita untuk menempatkan percaya pada Allah Bapa yang memelihara kita.</li>
</ul>
<p>Dengan kata lain, setiap ujian dan tantangan hidup, sebesar dan sekecil apa pun, adalah kesempatan bagi setiap pengikut Yesus untuk merefleksikan dan melakukan perkataan-perkataan Yesus. Setiap ujian dan tantangan hidup adalah kesempatan kita melihat bagaimana kuasa Injil Yesus hidup melalui cara kita berpikir, berkata-kata, dan berespon.</p>
<p>Kalimat penutup Khotbah di Bukit ini juga menunjukkan sesuatu yang spesial. Saya harap selama seri ini kita sudah melihat secara sepintas betapa runut, jelas, dan praktis gambaran Yesus tentang hidup orang Kristen melalui khotbah ini. Tetapi penjelasan secara runut, jelas, dan praktis saja bukan sumber transformasi hidup Kristen. Yang dibutuhkan setiap pengikut Yesus jauh lebih dalam lagi: hati yang mau tunduk pada kuasa/otoritas Yesus atas hidup mereka. Kita mau melakukan perkataan-perkataan Yesus karena setiap ajaran-Nya terkait pada pribadi-Nya sendiri yang begitu agung, penuh kasih, dan bijaksana.</p>
<p>Kalau saya boleh tarik lensa pengamatan kita sedikit lebih luas lagi, keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) beserta semua penulis Perjanjian Baru, menulis bukan saja tentang ajaran dan tindakan Yesus, tetapi juga Yesus yang telah mati dan bangkit dari antara orang mati. Artinya setiap ajaran Yesus yang kita baca baik di Khotbah di Bukit, maupun di seluruh Perjanjian Baru, adalah ajaran dari Yesus yang saat ini memerintah dengan tubuh kemuliaan yang tidak akan mati lagi dan bahkan akan kembali sebagai Hakim atas seluruh manusia.</p>
<p>Saat Yesus datang kembali sebagai Hakim, di situlah setiap hidup kita akan mengalami ujian dan tantangan final. Di hari penghakiman kita akan mendapati siapa yang benar-benar bijaksana (mendengarkan dan melakukan perkataan Yesus), dan siapa yang benar-benar bodoh (mendengarkan tetapi mengabaikan perkataan Yesus). Di hari itu kita akan melihat apakah hidup kita selama ini dibangun di atas Yesus sebagai batu keselamatan kita yang kekal, atau di atas pasir dosa, pemberontakan, dan kesementaraan.</p>
<p><em>Bagaimana respon anda terhadap Yesus dan perkataan-Nya?</em></p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau dengan sabar menjelaskan bagaimana kami bisa membangun hidup yang berkenan kepada-Mu. Tolong setiap kami agar tidak ada yang kedapatan sebagai orang-orang yang hanya mendengar atau bahkan bisa mengajarkan perkataan-Mu, tetapi yang hidupnya tidak melakukan apa yang Engkau katakan. Tolong kami agar menjadi orang-orang bijaksana yang bukan saja mendengar dan mempelajari perkataan-Mu, tetapi juga melakukannya.</em></p>
<p><em>Terpujilah nama dan kuasa-Mu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Mat 7:15-23 &quot;Waspadalah!&quot;</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-715-23--waspadalah-</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-715-23--waspadalah-#comments</comments>        
        <pubDate>Wed, 29 Dec 2021 20:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-715-23--waspadalah-</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Matius 7:15-23</strong> <br>(15) Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.</p>
<p>(21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!</p>
</blockquote>
<p>Beberapa tahun yang lalu di dalam sebuah gereja datang seorang bapak dengan penampilan rapih mengikuti ibadah. Bukan saja berpenampilan rapih, ia juga ternyata sangat bersahabat dan mulai menjalin pertemanan dengan sejumlah anggota jemaat di sana. Tetapi selang beberapa bulan sejumlah anggota jemaat mulai merasa tidak nyaman dengan bapak ini. Terlepas dari pembawaannya yang menarik, ada sesuatu yang dirasa tidak beres dari kata-kata dan sejumlah hal yang ia percayai. Usut punya usut ternyata bapak ini menganut ajaran sesat yang dibungkus dengan bahasa kekristenan dan penampilan yang memikat. Orang-orang seperti inilah yang wajib kita waspadai kalau kita sudah mengambil komitmen untuk mengikut Yesus. Mereka berbahaya karena ajaran mereka bukan saja bisa menyesatkan tapi juga mengkandaskan iman.</p>
<p>Mengomentari ayat-ayat di atas Sinclair Ferguson mengatakan ada tiga hal yang harus kita waspadai untuk mengenali pengajar-pengajar palsu:</p>
<ol>
<li><strong>Sikap mereka terhadap umat Tuhan.</strong> <br>Mereka disebut sebagai "serigala yang buas" yang siap untuk menerkam kawanan domba. Mereka tidak memiliki sikap melayani gereja Tuhan. Mereka tidak mau memberikan hidup mereka bagi umat Tuhan, tetapi mereka malah memanfaatkan gereja bagi kepentingan mereka sendiri. Alih-alih menjadikan gereja sebagai tempat dimana mereka memberikan hidup mereka, para nabi palsu menjadikan gereja sebagai platform untuk mempromosikan hidup mereka. <br><br>Kita harus waspada terhadap pemimpin atau pengajar yang tidak menjadi teladan kasih serta pengorbanan Kristus. Kita harus waspada terhadap mereka yang memecah belah gereja demi reputasi dan kepentingannya sendiri.<br><br></li>
<li><strong>Buah hidup dari ajaran mereka.</strong> <br>Yesus mengatakan pohon dikenal dari buahnya: pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, demikian sebaliknya. Pengajar palsu akan menunjukkan kepalsuan mereka melalui karakter dan buah kehidupan mereka.<br><br><em>Apakah mereka menunjukkan karakter Kristus? Apakah cara hidup mereka membantu orang lain lebih mengenal Kristus? Apakah orang-orang yang mereka layani dan muridkan menghasilkan karakter Kristus?</em> <br><br>Bagi kita yang diberi kepercayaan untuk memimpin dan mengajarkan Firman Tuhan, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya membuat kita gentar dan rendah hati di hadapan Tuhan dan orang lain. Perhatikan dalam hal ini Yesus tidak bertanya berapa banyak buah yang kita hasilkan, tetapi apakah buah yang dihasilkan sesuai dengan pohonnya.<br><br></li>
<li><strong>Prioritas pelayanan mereka.</strong> <br>Kita sudah melihat di Mat 5:18-20 bahwa kita diselamatkan untuk ketaatan. Allah Bapa menyelamatkan kita untuk menjadi penurut-penurut Allah (Ef 5:1). Tetapi prioritas para pengajar palsu bukanlah ketaatan melainkan kesuksesan. Itu yang mereka banggakan di hadapan Tuhan, bukan? Mereka punya brand name di gereja dan di dunia. Kalau jaman sekarang, mereka punya ribuan followers di media sosial. Tetapi apa yang menjadi sumber decak kagum orang banyak, tidak tentu berkesan di mata Yesus. Mereka bisa jadi dipakai serta memberi dampak besar bagi gereja dan masyarakat, tetapi itu tidak menjamin bahwa mereka pasti diperkenan oleh Yesus. Para pengajar palsu lebih memprioritaskan platform pribadi, jumlah aktivitas, likes dan komentar di media sosial, ketimbang hidup taat, iman, dan kasih kepada Kristus serta gereja-Nya.</li>
</ol>
<p>Pengajar-pengajar palsu dan para pengikutnya mengira bahwa mereka bisa mengaku Kristen dan menjalankan aktivitas kristiani, tanpa sendirinya mengalami pertobatan yang real. Ini adalah tragedi di dalam banyak gereja Tuhan, dimana baik pemimpin, majelis, pelayan, dan jemaat, dipenuhi oleh orang-orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan mereka tapi hidup mereka sendiri kosong tanpa buah pertobatan sama sekali.</p>
<p>Bapak berpenampilan rapih yang saya ceritakan di atas, akhirnya dikonfrontasi oleh salah satu pemimpin gereja kami saat itu. Semakin diajak bicara, semakin kelihatan kesesatan ajaran dan kebuasan karakternya. Majelis gereja langsung sehati untuk mencegah bapak ini kembali menjejakkan kakinya di gereja, agar ajaran dan sikapnya yang sesat tidak menyebar di antara jemaat.</p>
<p>Ini adalah bahaya yang dihadapi setiap orang Kristen: pengajaran dan pengaruh macam apa yang kita biarkan membentuk hidup kita? Para tokoh Puritan di abad ke-16 dan 17, selalu sangat concern kalau-kalau mereka yang mulai percaya dan tertarik menjadi pengikut Kristus, ternyata kedapatan sebagai petobat-petobat palsu. Itu sebabnya para Puritan sangat peduli untuk secara rutin mengajarkan kebenaran iman Kristen kepada jemaatnya, bukan sekedar untuk mengisi kepala mereka, tetapi lebih lagi untuk menguatkan hati mereka.</p>
<p>Kalau anda sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus sebagai Tuhan atas hidup anda, dengarkanlah peringatan Yesus hari ini: waspadalah terhadap para pengajar dan ajaran sesat!</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan Yesus, berbelaskasihanlah kepada kami gereja-Mu hari ini. Pengajar dan ajaran palsu bertebaran dimana-mana. Tolong isi kami kembali dengan kebenaran Firman-Mu agar kami tidak tersesat dan agar kami juga tidak menyesatkan. Tolong kami untuk bukan saja menjadi pengikut-Mu yang setia tetapi juga pengikut-Mu yang waspada. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Matius 7:15-23</strong> <br>(15) Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.</p>
<p>(21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!</p>
</blockquote>
<p>Beberapa tahun yang lalu di dalam sebuah gereja datang seorang bapak dengan penampilan rapih mengikuti ibadah. Bukan saja berpenampilan rapih, ia juga ternyata sangat bersahabat dan mulai menjalin pertemanan dengan sejumlah anggota jemaat di sana. Tetapi selang beberapa bulan sejumlah anggota jemaat mulai merasa tidak nyaman dengan bapak ini. Terlepas dari pembawaannya yang menarik, ada sesuatu yang dirasa tidak beres dari kata-kata dan sejumlah hal yang ia percayai. Usut punya usut ternyata bapak ini menganut ajaran sesat yang dibungkus dengan bahasa kekristenan dan penampilan yang memikat. Orang-orang seperti inilah yang wajib kita waspadai kalau kita sudah mengambil komitmen untuk mengikut Yesus. Mereka berbahaya karena ajaran mereka bukan saja bisa menyesatkan tapi juga mengkandaskan iman.</p>
<p>Mengomentari ayat-ayat di atas Sinclair Ferguson mengatakan ada tiga hal yang harus kita waspadai untuk mengenali pengajar-pengajar palsu:</p>
<ol>
<li><strong>Sikap mereka terhadap umat Tuhan.</strong> <br>Mereka disebut sebagai "serigala yang buas" yang siap untuk menerkam kawanan domba. Mereka tidak memiliki sikap melayani gereja Tuhan. Mereka tidak mau memberikan hidup mereka bagi umat Tuhan, tetapi mereka malah memanfaatkan gereja bagi kepentingan mereka sendiri. Alih-alih menjadikan gereja sebagai tempat dimana mereka memberikan hidup mereka, para nabi palsu menjadikan gereja sebagai platform untuk mempromosikan hidup mereka. <br><br>Kita harus waspada terhadap pemimpin atau pengajar yang tidak menjadi teladan kasih serta pengorbanan Kristus. Kita harus waspada terhadap mereka yang memecah belah gereja demi reputasi dan kepentingannya sendiri.<br><br></li>
<li><strong>Buah hidup dari ajaran mereka.</strong> <br>Yesus mengatakan pohon dikenal dari buahnya: pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, demikian sebaliknya. Pengajar palsu akan menunjukkan kepalsuan mereka melalui karakter dan buah kehidupan mereka.<br><br><em>Apakah mereka menunjukkan karakter Kristus? Apakah cara hidup mereka membantu orang lain lebih mengenal Kristus? Apakah orang-orang yang mereka layani dan muridkan menghasilkan karakter Kristus?</em> <br><br>Bagi kita yang diberi kepercayaan untuk memimpin dan mengajarkan Firman Tuhan, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya membuat kita gentar dan rendah hati di hadapan Tuhan dan orang lain. Perhatikan dalam hal ini Yesus tidak bertanya berapa banyak buah yang kita hasilkan, tetapi apakah buah yang dihasilkan sesuai dengan pohonnya.<br><br></li>
<li><strong>Prioritas pelayanan mereka.</strong> <br>Kita sudah melihat di Mat 5:18-20 bahwa kita diselamatkan untuk ketaatan. Allah Bapa menyelamatkan kita untuk menjadi penurut-penurut Allah (Ef 5:1). Tetapi prioritas para pengajar palsu bukanlah ketaatan melainkan kesuksesan. Itu yang mereka banggakan di hadapan Tuhan, bukan? Mereka punya brand name di gereja dan di dunia. Kalau jaman sekarang, mereka punya ribuan followers di media sosial. Tetapi apa yang menjadi sumber decak kagum orang banyak, tidak tentu berkesan di mata Yesus. Mereka bisa jadi dipakai serta memberi dampak besar bagi gereja dan masyarakat, tetapi itu tidak menjamin bahwa mereka pasti diperkenan oleh Yesus. Para pengajar palsu lebih memprioritaskan platform pribadi, jumlah aktivitas, likes dan komentar di media sosial, ketimbang hidup taat, iman, dan kasih kepada Kristus serta gereja-Nya.</li>
</ol>
<p>Pengajar-pengajar palsu dan para pengikutnya mengira bahwa mereka bisa mengaku Kristen dan menjalankan aktivitas kristiani, tanpa sendirinya mengalami pertobatan yang real. Ini adalah tragedi di dalam banyak gereja Tuhan, dimana baik pemimpin, majelis, pelayan, dan jemaat, dipenuhi oleh orang-orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan mereka tapi hidup mereka sendiri kosong tanpa buah pertobatan sama sekali.</p>
<p>Bapak berpenampilan rapih yang saya ceritakan di atas, akhirnya dikonfrontasi oleh salah satu pemimpin gereja kami saat itu. Semakin diajak bicara, semakin kelihatan kesesatan ajaran dan kebuasan karakternya. Majelis gereja langsung sehati untuk mencegah bapak ini kembali menjejakkan kakinya di gereja, agar ajaran dan sikapnya yang sesat tidak menyebar di antara jemaat.</p>
<p>Ini adalah bahaya yang dihadapi setiap orang Kristen: pengajaran dan pengaruh macam apa yang kita biarkan membentuk hidup kita? Para tokoh Puritan di abad ke-16 dan 17, selalu sangat concern kalau-kalau mereka yang mulai percaya dan tertarik menjadi pengikut Kristus, ternyata kedapatan sebagai petobat-petobat palsu. Itu sebabnya para Puritan sangat peduli untuk secara rutin mengajarkan kebenaran iman Kristen kepada jemaatnya, bukan sekedar untuk mengisi kepala mereka, tetapi lebih lagi untuk menguatkan hati mereka.</p>
<p>Kalau anda sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus sebagai Tuhan atas hidup anda, dengarkanlah peringatan Yesus hari ini: waspadalah terhadap para pengajar dan ajaran sesat!</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan Yesus, berbelaskasihanlah kepada kami gereja-Mu hari ini. Pengajar dan ajaran palsu bertebaran dimana-mana. Tolong isi kami kembali dengan kebenaran Firman-Mu agar kami tidak tersesat dan agar kami juga tidak menyesatkan. Tolong kami untuk bukan saja menjadi pengikut-Mu yang setia tetapi juga pengikut-Mu yang waspada. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Mat 7:13-14 &quot;Keputusan Terpenting Dalam Hidupmu&quot;</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-713-14--keputusan-terpenting-dalam-hidupmu-</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-713-14--keputusan-terpenting-dalam-hidupmu-#comments</comments>        
        <pubDate>Tue, 28 Dec 2021 17:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mat-713-14--keputusan-terpenting-dalam-hidupmu-</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Matius 7:13-14</strong> <br>(13) Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; (14) karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.</p>
</blockquote>
<p>"Memilih pasangan hidup adalah keputusan kedua yang paling penting di dalam hidupmu," itu yang biasanya saya katakan kepada mereka yang mengikuti kelas bimbingan pranikah. Mengapa? Karena pasangan yang kita pilih untuk nikahi akhirnya mempunyai dampak besar bagi hidup kita di dunia ini. Kalau faktor memilih pasangan hidup demikian pentingnya, maka keputusan yang terpenting adalah memilih siapa Tuhan kita. Keputusan kita memilih atau menolak Yesus, bukan saja punya dampak besar bagi hidup kita sekarang, tetapi lebih lagi hidup kita di dunia yang akan datang.</p>
<p>Di bagian penutup khotbah ini, Yesus menantang setiap pendengar-Nya untuk mengambil keputusan. Ia sudah menjabarkan secara runut, jelas, dan praktis, apa saja artinya menjadi anak-anak Allah. Ia dengan terus terang mengatakan bahwa menjadi anggota kerajaan Allah adalah berkat terbesar yang bisa kita terima, tetapi juga menuntut seluruh area hidup kita. Tidak ada satu bagian hidup kita dimana kita berhak mengeklaim sebagai area pribadi dimana Tuhan tidak berhak ikut campur. Itu yang dimaksud dengan menjadikan Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita. Entah seluruh hidup kita serahkan menjadi milik dan hak Yesus, atau tidak sama sekali.</p>
<p>Di jaman yang mengedepankan dan merayakan kebebasan memilih dan hak pribadi, tidak heran tuntutan Yesus terdengar sempit dan menyesakkan. Kita lebih suka Yesus yang mengasihi dan menyelamatkan, tapi yang masih bisa kita atur. Kita berikan Dia ruang yang luas dan lapang di hidup kita. Ruangan itu kita beri nama "Spiritual". Ruangan Spiritual itu kita hias dengan indah dan enak untuk dilihat. Tapi Yesus sama sekali tidak boleh keluar dari ruangan itu. Di ruangan itu, Ia segala-galanya bagi kita, kekasih jiwa kita, penguasa dan sumber hidup kita, tidak jarang malah air mata kita bercucuran saat kita berdoa dan berbicara tentang Dia, tetapi that's it. Ia tidak kita ijinkan masuk ke ruangan lain seperti ruangan karir, uang, relasi dengan keluarga, entertainment, pilihan hidup, dan lain sebagainya. Kita suka Yesus yang kita bisa jinakkan.</p>
<p>Mereka yang memutuskan untuk menjinakkan Yesus ujung-ujungnya tidak ada beda dengan mereka yang memutuskan untuk menolak Yesus. Orang yang menolak Yesus pada dasarnya memutuskan bahwa ada hal atau orang lain yang berperan sebagai Tuhan atas hidup mereka: pekerjaan, uang, bisnis, prestasi, relasi, dan lain seterusnya. Mereka yang mencoba menjinakkan Yesus, pada dasarnya menempatkan hal atau orang lain sepantar dengan Yesus. Yesus sendiri tahu persis bahwa ini bahaya yang dihadapi oleh pendengar-Nya. Ia tahu bahwa hati dan mata kita lebih mudah tergiur oleh hal-hal yang kelihatan, yang bisa diukur, yang bisa dibandingkan, yang hanya langgeng di dunia yang sementara ini. Ia tahu bahwa secara natur hati dan mata kita tidak tertarik oleh hal-hal yang tidak kelihatan, yang tidak nampak, yang baru bisa kita nikmati nanti di dunia yang akan datang.</p>
<p>Itu sebabnya Yesus membukakan mata dan hati kita untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya. Sejak masa pandemi COVID-19, pemikiran para ahli medis dan epidemiologi menjadi perhatian banyak orang. Pemerintah menginvestasikan uang dan waktu untuk mengumpulkan ahli terbaik di negaranya, dan kalau bisa berkolaborasi dengan penemuan dan hasil riset terbaru yang diakui. Hasil penelitian yang teruji secara ketat membantu kita memfilter hoax dan berbagai informasi-informasi keliru lainnya. Dengan kata lain, kita bergantung pada pendapat para ahli untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya. Dari situ barulah kita mengambil keputusan hari ini.</p>
<p>Bukankah kita seharusnya lebih lagi mendengarkan Yesus? Injil Matius dibuka dengan menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah diberi kuasa dan otoritas oleh Bapa-Nya, lalu setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus sendiri mengatakan bahwa, "Segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya" (Mat 28:18). Artinya Yesuslah satu-satunya yang punya otoritas penuh atas hidup setiap manusia, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Yesus adalah Ahlinya realitas tentang hidup yang sementara maupun hidup kekal.</p>
<p>Ia juga adalah Ahli yang penuh kasih! Perhatikan Ia tidak mengatakan secara diplomatis, "Kalian kan sudah pintar, sekarang pikir dan pilih sendiri ya. Dua-dua sama-sama baik, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing." Tidak begitu! Ia menantang kita mengambil keputusan untuk masuk serta tetap berjalan melalui pintu yang sesak. Tidak ada netralitas dalam mengikut Yesus: entah kita mengikuti jalan-Nya menuju kehidupan kekal, atau kita mengikuti jalan dunia menuju kebinasaan kekal. Di khotbah ini, Yesus sudah menjelaskan kebahagiaan, berkat, tantangan, bahkan pengorbanan yang akan dialami oleh setiap orang yang akan mengikuti Dia. Ia sudah menunjukkan betapa nilai-nilai kerajaan-Nya bertolak belakang dengan nilai-nilai kerajaan dunia ini.</p>
<p>Sekarang Ia menempatkan kekekalan di depan mata dan hati kita, dan Ia mau kita masuk ke dalam pintu yang bernama kekekalan, walaupun itu sesak dan sempit. Ia tahu bahwa ini bukan keputusan atau pilihan yang populer apalagi mudah dijual. Ia tahu bahwa hanya sedikit orang yang akan menemukan betapa berharganya hidup kekal bersama-sama dengan Dia dan gereja-Nya.</p>
<p>Kalau anda selama ini menolak Yesus, atau hidup berusaha menjinakkan Yesus, ingatlah bahwa artinya anda masih berada di jalan yang luas dan lebar, yang akhirnya membawa anda pada kebinasaan. Putuskanlah hari ini untuk mencari dan menemukan Yesus melalui jalan yang sesak dan sempit.</p>
<p>Kalau anda sudah hidup bagi Yesus, pakailah hari ini untuk bersyukur kepada Dia dan kembali mengafirmasi keputusan serta komitmen anda untuk tetap berjalan di jalan yang sesak dan sempit.</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan Yesus, kiranya kami hari ini tidak lagi menolak atau berusaha menjinakkan Engkau. Kiranya kami mendapatkan diri kami masuk melalui Engkau, Pintu yang sesak dan sempit itu, satu-satunya jalan dan hidup abadi yang sejati. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Matius 7:13-14</strong> <br>(13) Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; (14) karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.</p>
</blockquote>
<p>"Memilih pasangan hidup adalah keputusan kedua yang paling penting di dalam hidupmu," itu yang biasanya saya katakan kepada mereka yang mengikuti kelas bimbingan pranikah. Mengapa? Karena pasangan yang kita pilih untuk nikahi akhirnya mempunyai dampak besar bagi hidup kita di dunia ini. Kalau faktor memilih pasangan hidup demikian pentingnya, maka keputusan yang terpenting adalah memilih siapa Tuhan kita. Keputusan kita memilih atau menolak Yesus, bukan saja punya dampak besar bagi hidup kita sekarang, tetapi lebih lagi hidup kita di dunia yang akan datang.</p>
<p>Di bagian penutup khotbah ini, Yesus menantang setiap pendengar-Nya untuk mengambil keputusan. Ia sudah menjabarkan secara runut, jelas, dan praktis, apa saja artinya menjadi anak-anak Allah. Ia dengan terus terang mengatakan bahwa menjadi anggota kerajaan Allah adalah berkat terbesar yang bisa kita terima, tetapi juga menuntut seluruh area hidup kita. Tidak ada satu bagian hidup kita dimana kita berhak mengeklaim sebagai area pribadi dimana Tuhan tidak berhak ikut campur. Itu yang dimaksud dengan menjadikan Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita. Entah seluruh hidup kita serahkan menjadi milik dan hak Yesus, atau tidak sama sekali.</p>
<p>Di jaman yang mengedepankan dan merayakan kebebasan memilih dan hak pribadi, tidak heran tuntutan Yesus terdengar sempit dan menyesakkan. Kita lebih suka Yesus yang mengasihi dan menyelamatkan, tapi yang masih bisa kita atur. Kita berikan Dia ruang yang luas dan lapang di hidup kita. Ruangan itu kita beri nama "Spiritual". Ruangan Spiritual itu kita hias dengan indah dan enak untuk dilihat. Tapi Yesus sama sekali tidak boleh keluar dari ruangan itu. Di ruangan itu, Ia segala-galanya bagi kita, kekasih jiwa kita, penguasa dan sumber hidup kita, tidak jarang malah air mata kita bercucuran saat kita berdoa dan berbicara tentang Dia, tetapi that's it. Ia tidak kita ijinkan masuk ke ruangan lain seperti ruangan karir, uang, relasi dengan keluarga, entertainment, pilihan hidup, dan lain sebagainya. Kita suka Yesus yang kita bisa jinakkan.</p>
<p>Mereka yang memutuskan untuk menjinakkan Yesus ujung-ujungnya tidak ada beda dengan mereka yang memutuskan untuk menolak Yesus. Orang yang menolak Yesus pada dasarnya memutuskan bahwa ada hal atau orang lain yang berperan sebagai Tuhan atas hidup mereka: pekerjaan, uang, bisnis, prestasi, relasi, dan lain seterusnya. Mereka yang mencoba menjinakkan Yesus, pada dasarnya menempatkan hal atau orang lain sepantar dengan Yesus. Yesus sendiri tahu persis bahwa ini bahaya yang dihadapi oleh pendengar-Nya. Ia tahu bahwa hati dan mata kita lebih mudah tergiur oleh hal-hal yang kelihatan, yang bisa diukur, yang bisa dibandingkan, yang hanya langgeng di dunia yang sementara ini. Ia tahu bahwa secara natur hati dan mata kita tidak tertarik oleh hal-hal yang tidak kelihatan, yang tidak nampak, yang baru bisa kita nikmati nanti di dunia yang akan datang.</p>
<p>Itu sebabnya Yesus membukakan mata dan hati kita untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya. Sejak masa pandemi COVID-19, pemikiran para ahli medis dan epidemiologi menjadi perhatian banyak orang. Pemerintah menginvestasikan uang dan waktu untuk mengumpulkan ahli terbaik di negaranya, dan kalau bisa berkolaborasi dengan penemuan dan hasil riset terbaru yang diakui. Hasil penelitian yang teruji secara ketat membantu kita memfilter hoax dan berbagai informasi-informasi keliru lainnya. Dengan kata lain, kita bergantung pada pendapat para ahli untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya. Dari situ barulah kita mengambil keputusan hari ini.</p>
<p>Bukankah kita seharusnya lebih lagi mendengarkan Yesus? Injil Matius dibuka dengan menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah diberi kuasa dan otoritas oleh Bapa-Nya, lalu setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus sendiri mengatakan bahwa, "Segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya" (Mat 28:18). Artinya Yesuslah satu-satunya yang punya otoritas penuh atas hidup setiap manusia, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Yesus adalah Ahlinya realitas tentang hidup yang sementara maupun hidup kekal.</p>
<p>Ia juga adalah Ahli yang penuh kasih! Perhatikan Ia tidak mengatakan secara diplomatis, "Kalian kan sudah pintar, sekarang pikir dan pilih sendiri ya. Dua-dua sama-sama baik, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing." Tidak begitu! Ia menantang kita mengambil keputusan untuk masuk serta tetap berjalan melalui pintu yang sesak. Tidak ada netralitas dalam mengikut Yesus: entah kita mengikuti jalan-Nya menuju kehidupan kekal, atau kita mengikuti jalan dunia menuju kebinasaan kekal. Di khotbah ini, Yesus sudah menjelaskan kebahagiaan, berkat, tantangan, bahkan pengorbanan yang akan dialami oleh setiap orang yang akan mengikuti Dia. Ia sudah menunjukkan betapa nilai-nilai kerajaan-Nya bertolak belakang dengan nilai-nilai kerajaan dunia ini.</p>
<p>Sekarang Ia menempatkan kekekalan di depan mata dan hati kita, dan Ia mau kita masuk ke dalam pintu yang bernama kekekalan, walaupun itu sesak dan sempit. Ia tahu bahwa ini bukan keputusan atau pilihan yang populer apalagi mudah dijual. Ia tahu bahwa hanya sedikit orang yang akan menemukan betapa berharganya hidup kekal bersama-sama dengan Dia dan gereja-Nya.</p>
<p>Kalau anda selama ini menolak Yesus, atau hidup berusaha menjinakkan Yesus, ingatlah bahwa artinya anda masih berada di jalan yang luas dan lebar, yang akhirnya membawa anda pada kebinasaan. Putuskanlah hari ini untuk mencari dan menemukan Yesus melalui jalan yang sesak dan sempit.</p>
<p>Kalau anda sudah hidup bagi Yesus, pakailah hari ini untuk bersyukur kepada Dia dan kembali mengafirmasi keputusan serta komitmen anda untuk tetap berjalan di jalan yang sesak dan sempit.</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Tuhan Yesus, kiranya kami hari ini tidak lagi menolak atau berusaha menjinakkan Engkau. Kiranya kami mendapatkan diri kami masuk melalui Engkau, Pintu yang sesak dan sempit itu, satu-satunya jalan dan hidup abadi yang sejati. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    	<item>
        <title>Mat 7:7-12 &quot;Reaktif atau Reflektif?&quot;</title>
		<link>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/reaktif-atau-reflektif</link>
        <comments>https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/reaktif-atau-reflektif#comments</comments>        
        <pubDate>Thu, 23 Dec 2021 20:00:00 -0500</pubDate>
		                <category><![CDATA[Devotional]]></category>
        		<guid isPermaLink="false">https://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/reaktif-atau-reflektif</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Mat 7:7-12</strong> <br>(7) Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (8) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (9) Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, (10) atau memberi ular, jika ia meminta ikan? (11) Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (12) Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.</p>
</blockquote>
<p>Anda mungkin pernah mengikuti mata kuliah yang membuat anda merasa kewalahan dan berharap kalau saja anda bisa bertemu dengan sang dosen serta mendapatkan bimbingan langsung. Kalau anda mengikuti khotbah Yesus dari awal Matius 5 sampai ke titik ini, maka wajar kalau kita merasa kewalahan. Karakter hidup orang Kristen serta tuntutan untuk menjalani hidup kerajaan Allah memang tidak sama dengan ikutan fans club. Seperti judul sebuah buku, kita tidak dipanggil untuk menjadi fans-nya Yesus, melainkan followers-nya Yesus! Tetapi alangkah luarbiasanya Yesus yang mengundang kita menjadi pengikut-pengikut-Nya. Ia tidak berdiri jauh di sana dengan mata tajam siap mencela setiap kesalahan kita. Tidak! Ia berdiri dekat bagaikan seorang gembala yang penuh kasih siap untuk menolong kita dalam setiap kelemahan kita.</p>
<p>Seperti seorang dosen yang berpengalaman, Yesus mengantisipasi pertanyaan dan kesulitan para murid-Nya. Ia tahu kita miskin secara rohani. Ia tahu betapa mudahnya ilalang kemunafikan tumbuh di dalam hati kita. Ia tahu betapa lambannya kita belajar. Bagi anda yang sudah mengikut Yesus selama belasan atau puluhan tahun, anda akan mengakui bahwa seringkali mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh membuat kita kewalahan. Itu sebabnya Yesus menyambung dengan mengatakan, "Mintalah … Carilah … Ketoklah!" Dalam bahasa aslinya ini bukan meminta, mencari, mengetok yang sesekali pada masa-masa sulit. Yesus mengatakan, terus meneruslah meminta, mencari dan mengetok. Ia sedang mengajarkan sikap hati Allah Bapa yang suka untuk dimintai, dicari, dan diketoki. <em>He's that kind of God!</em> Ia bukan Allah yang hati-Nya sempit dan merespon kita hanya kalau Dia sedang ada 'mood'. Tidak! Ia adalah Bapa yang siap memberi dan siap membuka hati-Nya kepada kita.</p>
<p>Itu sebabnya Yesus melanjutkan dengan analogi hubungan bapa-anak sehari-hari (7:9-11). Ayah duniawi saja tahu dan mau memberikan yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa surgawi! Sekali lagi kita diingatkan, yes di satu pihak ada jarak yang tidak terseberangi antara kemiskinan manusiawi kita dengan kekayaan ilahi Allah Bapa kita. Itu sebabnya Yesus menyebut bapa duniawi yang terbaik sekalipun, tetap adalah orang jahat kalau dibandingkan dengan Allah Bapa dalam segala kesucian dan kemuliaan-Nya. Tetapi di pihak lain yes ada kedekatan yang tidak bisa dijelaskan antara kita anak-anak Allah dengan Bapa surgawi kita. Itu sebabnya Yesus menyatakan bahwa walaupun kita jahat, Allah adalah 'Bapamu yang di sorga' (7:11).</p>
<p>Identitas kita sebagai pengikut Yesus, sebagai anak-anak Allah, ada di dalam kedua kebenaran ini, bahwa Tuhan Allah adalah Dia yang berhak penuh membinasakan kita tapi pada saat yang sama Dia yang beranugerah penuh membenarkan kita di dalam Kristus. Kedua kebenaran inilah yang membantu kita memiliki ketakutan yang saleh / godly fear terhadap Allah Bapa kita.</p>
<p>Kedua kebenaran ini juga yang menolong anak-anak Allah untuk menyadari bahwa hidup kita tidak seharusnya berpusat lagi pada diri, agenda, kemauan, pilihan hidup, bucket list kita. Hidup kita dari self-centred (berpusat pada diri sendiri) menjadi God-centred (berpusat pada Tuhan). Maka kalimat Yesus berikutnya pas banget, karena menunjukkan hidup yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan pada orang lain:</p>
<blockquote>
<p>Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12)</p>
</blockquote>
<p>Ini adalah cara lain untuk mengatakan, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (22:39). Hanya orang yang sudah benar-benar memahami dan menerima anugerah Allahlah yang bisa hidup truly selfless / betul-betul tidak egois. Kita dengan rela mengedepankan kebutuhan orang lain, termasuk dengan resiko disalahmengerti, ditolak, bahkan dibenci, karena itulah yang Yesus telah lakukan bagi kita. Setiap anak-anak Allah mencerminkan perbuatan kasih yang mereka sendiri sudah terima dari Anak Allah yang sulung itu.</p>
<p>Sekali lagi Yesus mengarahkan kita kepada diri-Nya sendiri. Kalau kita melihat hidup Kristen hanya seperti potongan-potongan puzzle yang berserakan yang harus kita satukan dengan mata ditutup, maka kita akan mudah merasa kewalahan dan akhirnya frustrasi. Tapi waktu mata kita terbuka, kita bisa melihat di kotak puzzle gambaran utuhnya--Allah Bapa yang menunjukkan kasih anugerah-Nya, Yesus Kristus yang menjadi Guru dan Penyelamat kita, dan Roh Kudus yang tinggal di dalam kita--Gambaran utuh itu menguatkan kita untuk melayani dan mengasihi orang lain, sama seperti Allah Tritunggal telah melayani dan mengasihi kita.</p>
<p>Perbuatan kita terhadap orang lain bisa bersifat reaktif atau reflektif.</p>
<ul>
<li>Reaktif artinya kita bereaksi terhadap apa yang orang lain sudah lakukan, atau apa yang orang lain gagal lakukan, terhadap kita. Fokusnya adalah pada apa yang kita sudah dapatkan atau belum dapatkan dari orang lain. Perbuatan reaktif adalah hidup yang masih berpusat pada diri sendiri.</li>
<li>Reflektif artinya kita bertindak mencerminkan apa yang Tuhan sudah lakukan terhadap kita. Fokusnya adalah pada siapa karakter Allah Bapa dan apa yang Ia sudah berikan kepada kita. Perbuatan reflektif adalah hidup yang berpusat kepada Tuhan, dan kemudian mendahulukan kebutuhan orang lain.</li>
</ul>
<p>Coba pikirkan perbuatan anda terhadap sesama selama ini, apakah anda cenderung reaktif atau reflektif?</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Bapa, seringkali kami lupa bahwa kami punya Allah yang murah hati, baik, dan penuh anugerah. Hati-Mu tidak sempit terhadap anak-anak-Mu, melainkan terbuka lebar dan dengan hangat bersiap menolong serta menuntun kami.</em></p>
<p><em>Tolong kami untuk selalu mengarahkan mata iman kami kepada-Mu, agar dengan melihat kepada-Mu, kami merefleksikan pelayanan kasih-Mu kepada orang lain. Demi nama Yesus, kami meminta semua ini. Amin.</em></p>]]></description>
        <content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p><strong>Mat 7:7-12</strong> <br>(7) Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (8) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (9) Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, (10) atau memberi ular, jika ia meminta ikan? (11) Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (12) Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.</p>
</blockquote>
<p>Anda mungkin pernah mengikuti mata kuliah yang membuat anda merasa kewalahan dan berharap kalau saja anda bisa bertemu dengan sang dosen serta mendapatkan bimbingan langsung. Kalau anda mengikuti khotbah Yesus dari awal Matius 5 sampai ke titik ini, maka wajar kalau kita merasa kewalahan. Karakter hidup orang Kristen serta tuntutan untuk menjalani hidup kerajaan Allah memang tidak sama dengan ikutan fans club. Seperti judul sebuah buku, kita tidak dipanggil untuk menjadi fans-nya Yesus, melainkan followers-nya Yesus! Tetapi alangkah luarbiasanya Yesus yang mengundang kita menjadi pengikut-pengikut-Nya. Ia tidak berdiri jauh di sana dengan mata tajam siap mencela setiap kesalahan kita. Tidak! Ia berdiri dekat bagaikan seorang gembala yang penuh kasih siap untuk menolong kita dalam setiap kelemahan kita.</p>
<p>Seperti seorang dosen yang berpengalaman, Yesus mengantisipasi pertanyaan dan kesulitan para murid-Nya. Ia tahu kita miskin secara rohani. Ia tahu betapa mudahnya ilalang kemunafikan tumbuh di dalam hati kita. Ia tahu betapa lambannya kita belajar. Bagi anda yang sudah mengikut Yesus selama belasan atau puluhan tahun, anda akan mengakui bahwa seringkali mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh membuat kita kewalahan. Itu sebabnya Yesus menyambung dengan mengatakan, "Mintalah … Carilah … Ketoklah!" Dalam bahasa aslinya ini bukan meminta, mencari, mengetok yang sesekali pada masa-masa sulit. Yesus mengatakan, terus meneruslah meminta, mencari dan mengetok. Ia sedang mengajarkan sikap hati Allah Bapa yang suka untuk dimintai, dicari, dan diketoki. <em>He's that kind of God!</em> Ia bukan Allah yang hati-Nya sempit dan merespon kita hanya kalau Dia sedang ada 'mood'. Tidak! Ia adalah Bapa yang siap memberi dan siap membuka hati-Nya kepada kita.</p>
<p>Itu sebabnya Yesus melanjutkan dengan analogi hubungan bapa-anak sehari-hari (7:9-11). Ayah duniawi saja tahu dan mau memberikan yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa surgawi! Sekali lagi kita diingatkan, yes di satu pihak ada jarak yang tidak terseberangi antara kemiskinan manusiawi kita dengan kekayaan ilahi Allah Bapa kita. Itu sebabnya Yesus menyebut bapa duniawi yang terbaik sekalipun, tetap adalah orang jahat kalau dibandingkan dengan Allah Bapa dalam segala kesucian dan kemuliaan-Nya. Tetapi di pihak lain yes ada kedekatan yang tidak bisa dijelaskan antara kita anak-anak Allah dengan Bapa surgawi kita. Itu sebabnya Yesus menyatakan bahwa walaupun kita jahat, Allah adalah 'Bapamu yang di sorga' (7:11).</p>
<p>Identitas kita sebagai pengikut Yesus, sebagai anak-anak Allah, ada di dalam kedua kebenaran ini, bahwa Tuhan Allah adalah Dia yang berhak penuh membinasakan kita tapi pada saat yang sama Dia yang beranugerah penuh membenarkan kita di dalam Kristus. Kedua kebenaran inilah yang membantu kita memiliki ketakutan yang saleh / godly fear terhadap Allah Bapa kita.</p>
<p>Kedua kebenaran ini juga yang menolong anak-anak Allah untuk menyadari bahwa hidup kita tidak seharusnya berpusat lagi pada diri, agenda, kemauan, pilihan hidup, bucket list kita. Hidup kita dari self-centred (berpusat pada diri sendiri) menjadi God-centred (berpusat pada Tuhan). Maka kalimat Yesus berikutnya pas banget, karena menunjukkan hidup yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan pada orang lain:</p>
<blockquote>
<p>Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12)</p>
</blockquote>
<p>Ini adalah cara lain untuk mengatakan, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (22:39). Hanya orang yang sudah benar-benar memahami dan menerima anugerah Allahlah yang bisa hidup truly selfless / betul-betul tidak egois. Kita dengan rela mengedepankan kebutuhan orang lain, termasuk dengan resiko disalahmengerti, ditolak, bahkan dibenci, karena itulah yang Yesus telah lakukan bagi kita. Setiap anak-anak Allah mencerminkan perbuatan kasih yang mereka sendiri sudah terima dari Anak Allah yang sulung itu.</p>
<p>Sekali lagi Yesus mengarahkan kita kepada diri-Nya sendiri. Kalau kita melihat hidup Kristen hanya seperti potongan-potongan puzzle yang berserakan yang harus kita satukan dengan mata ditutup, maka kita akan mudah merasa kewalahan dan akhirnya frustrasi. Tapi waktu mata kita terbuka, kita bisa melihat di kotak puzzle gambaran utuhnya--Allah Bapa yang menunjukkan kasih anugerah-Nya, Yesus Kristus yang menjadi Guru dan Penyelamat kita, dan Roh Kudus yang tinggal di dalam kita--Gambaran utuh itu menguatkan kita untuk melayani dan mengasihi orang lain, sama seperti Allah Tritunggal telah melayani dan mengasihi kita.</p>
<p>Perbuatan kita terhadap orang lain bisa bersifat reaktif atau reflektif.</p>
<ul>
<li>Reaktif artinya kita bereaksi terhadap apa yang orang lain sudah lakukan, atau apa yang orang lain gagal lakukan, terhadap kita. Fokusnya adalah pada apa yang kita sudah dapatkan atau belum dapatkan dari orang lain. Perbuatan reaktif adalah hidup yang masih berpusat pada diri sendiri.</li>
<li>Reflektif artinya kita bertindak mencerminkan apa yang Tuhan sudah lakukan terhadap kita. Fokusnya adalah pada siapa karakter Allah Bapa dan apa yang Ia sudah berikan kepada kita. Perbuatan reflektif adalah hidup yang berpusat kepada Tuhan, dan kemudian mendahulukan kebutuhan orang lain.</li>
</ul>
<p>Coba pikirkan perbuatan anda terhadap sesama selama ini, apakah anda cenderung reaktif atau reflektif?</p>
<p><strong>DOA</strong><br><em>Bapa, seringkali kami lupa bahwa kami punya Allah yang murah hati, baik, dan penuh anugerah. Hati-Mu tidak sempit terhadap anak-anak-Mu, melainkan terbuka lebar dan dengan hangat bersiap menolong serta menuntun kami.</em></p>
<p><em>Tolong kami untuk selalu mengarahkan mata iman kami kepada-Mu, agar dengan melihat kepada-Mu, kami merefleksikan pelayanan kasih-Mu kepada orang lain. Demi nama Yesus, kami meminta semua ini. Amin.</em></p>]]></content:encoded>
	</item>
    </channel>
</rss>