Pengumuman/Announcement: Kebaktian ICC sekarang diadakan online. ICC's Sunday Services are now online.

Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - online

Sekolah Minggu (Sunday School) diadakan secara online.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Anda Musuh atau Sahabat Allah?

Anda mungkin jarang, bahkan tak pernah menganggap diri Anda musuh Allah. Memang Anda tidak peduli Allah. Atau tidak taat terhadap Allah. Tapi Anda tidak pernah bermusuhan dengan Allah. Ngeri kan kalau musuh nya adalah Allah sendiri!

Namun Alkitab mensaksikan bahwa dalam kondisi natural manusia, kita selalu akan menjadi musuh Allah. Kita meniadakan kesadaran kita akan eksistensi dan intervensi Allah dalam dunia ini dan dalam hidup kita, lalu hidup bagai orang bebal menganggap Allah itu tidak ada.

Dengan sadar, kita memilih untuk hidup mengasihi diri kita sendiri dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi kita. Sementara kita mengasihi Allah dengan sisa-sisanya, dengan sembarangan, dengan secukupnya, itupun kalau ingat!

Kita bekerja setiap hari untuk hal-hal duniawi, digerakkan oleh nilai-nilai duniawi, dan memakai cara-cara duniawi. Itu berarti kita dengan aktif sedang hidup untuk, oleh, dan dengan dunia. Padahal persahabatan dengan dunia adalah permusuhanan dengan Allah (Yoh 4:4; Roma 8:7).   

Permusuhan Anda dengan Allah akan berlangsung secara abadi (dan bisa ditebak, siapa yang akan kalah telak!), kalau Allah tidak berinisiatif untuk mengakhirinya. Ia mengutus Yesus ke dunia untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya.

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai batu penjuru (the Cornerstone). Batu penjuru adalah istilah civil engineering, yaitu adalah batu awal yang dipasang dalam konstruksi bangunan agar keempat bidang tembok itu dapat dibangun diatasnya dengan akurat. Yesus berkata, “Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk” (Mat 21:44). Artinya dengan kedatangan-Nya yang pertama, Yesus menghadirkan kerajaan-Nya di dunia – yang menolak-Nya akan hancur dan yang menerima-Nya akan membangun hidup di atas Yesus. Dalam kedatangan-Nya yang kedua, ia akan datang sebagai batu yang menghancurkan – tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertobat.   

Anugerah Allah sungguh ajaib. Ketika Yesus ditolak dan dibunuh di atas salib, Allah menyelesaikan permusuhan final antara Allah dengan manusia (Efesus 2:14-16). Yesus di atas salib diperlakukan seakan-akan Ia adalah musuh besar Allah, karena Ia menanggung seluruh murka Allah atas dosa manusia. Namun justru melalui kematian Anak Allah itulah, Allah mematikan seluruh permusuhan-Nya dengan manusia, satu kali untuk selamanya, dan mendamaikan kita dengan diri-Nya.

Apa respon Anda terhadap berita salib tersebut? Rasul Paulus berespon sebagai berikut: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 5:20). Mari kita berespon serupa, menjadi utusan Kristus dalam proses mendamaikan manusia dengan Allah, di kampus, di kantor, di gereja, dimanapun Anda ditempatkan.