Pengumuman/Announcement: Kebaktian ICC sekarang diadakan online. ICC's Sunday Services are now online.

Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - online

Sekolah Minggu (Sunday School) diadakan secara online.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Dicari: Orang Kristen yang Jarang Mengeluh

Mana yang lebih serius: Global Warming atau Global Whining? Yang pertama hanya akan membinasakan dunia yang sekarang ini secara prematur. Global whining akan membinasakan jiwa kita di dunia yang akan datang dalam kekekalan

Manusia memang suka mengeluh. Seperti Eeyore. Atau Smurf Gerutu. Mengeluh karena cuaca, anak, istri, suami, orang tua, boss, kolega, pekerjaan, keuangan, politik, dst. Orang Kristen juga tidak kebal. Jarang sekali, tidak ada bahkan orang Kristen yang tidak mengeluh. Termasuk di gereja! Bayangkan betapa gereja akan penuh suasana surgawi, dan efektif dalam bermisi di dunia bila orang-orang didalamnya tidak suka menggerutu dan bersungut-sungut.

Sadar akan hal tersebut, rasul Paulus menulis bahwa orang Kristen yang tidak mengeluh itu bagai bintang terang di langit yang gelap. “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Filip 2:14-15).

Mengeluh adalah dosa yang serius dimata Allah karena saat kita mengeluh, kita sedang berkata bahwa Allah tidak becus mengatur situasi hidup kita.  Sebab situasi tersebut tidak sesuai dengan harapan kita. Hawa terlalu panas. Istri terlalu dingin. Kopi terlalu suam-suam. Padahal Allah sedang memproses kita melalui situasi tak nyaman tersebut. Agar kita sadar, misanya, bahwa ternyata tuhan kita yang sesungguhnya bukan Tuhan Yesus. Tuhan kita bernama Kenya Manan.

Alkitab mengisahkan orang Israel yang dihukum Allah karena kebiasaan dosa mereka: Mengeluh! “Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka  dan merajalela  di tepi tempat perkemahan (Bil 11:1). Rasul Paulus pun mengingatkan jemaat Korintus “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.” (1 Kor 10:10).

Yang menarik, meski kita hari ini suka mengeluh, kita tidak langsung mati dilalap api, dipagut ular, atau tewas oleh malaikat maut. Mengapa? Bukan karena kita lebih rohani dibanding orang Israel. Bukan karena Allah sekarang lebih sabar dibanding dulu. Tetapi karena Yesus Kristus.

Nabi Yesaya bernubuat tentang Yesus sebagai berikut: “Dia dianiaya dan ditindas, tetapi dia tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yes 53:7). Inilah pengharapan Injil!

Yesus menolak untuk mengeluh ketika ia menapaki jalan sengsara menuju ke salib, demi menebus dosa kita. Supaya kita yang suka mengeluh, tidak dihukum Allah melainkan diampuni. Bahkan dimampukan di dalam dan oleh Kristus untuk semakin jarang mengeluh. Untuk semakin teguh bertekun dalam perlombaan iman menuju keserupaan dengan Kristus. Untuk bercahaya terang di tengah gelapnya “dunia kita” – di rumah, di kantor, di kampus, di gereja.