Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Kasih: Sifat yang Pertama dan Terutama

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Gal 5:13-14)

Kasih memang pantas untuk menempati posisi pertama dari sifat-sifat buah Roh. Di dalam kekekalan, sebelum ruang, waktu, materi, dan kehidupan fisik diciptakan, Allah sudah eksis dalam relasi kasih abadi antara ketiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena kasih-Nyalah Allah Bapa menyerahkan Anak-Nya Yesus Kristus untuk menggantikan hukuman yang sepantasnya kita terima. Kalau anda mau mengukur seberapa jauh anda mengenal kasih Allah, tanyakan pada diri anda: apakah aku saat ini ada dalam relasi saling mengasihi satu sama lain?

Kasih bukan sekedar rasa sayang yang sentimentil, tapi tindakan praktis yang menunjukkan bahwa kita peduli, mendukung, membantu, menguatkan satu sama lain, termasuk ketika kita harus mengorbankan waktu, uang, tenaga, bahkan perasaan kita. Ini adalah kasih supernatural yang tidak lahir dari natur manusia yang berdosa. Itu sebabnya Yesus memanggil kita saling mengasihi, sama seperti Ia telah mengasihi kita (Yoh 13:34). Pikirkan betapa real, dalam, konsisten, penuh pengorbanan (bahkan sampai rela mati!), tidak kenal surutnya kasih Yesus kepada kita. Kasih ilahi ini kita saksikan berulangkali melalui kasih setia Tuhan Allah kepada umat-Nya Israel di Perjanjian Lama.

Anda akan menemukan bahwa ungkapan-ungkapan kasih setia Tuhan yang paling dalam dan mesra justru ditunjukkan saat bangsa Israel berada di titik paling jauh dari Tuhan:

Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku. (Yes 49:15-16)

Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku; mereka memanggil kepada Baal dan berhenti meninggikan nama-Ku. Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. (Hos 11:7-8)

Kasih setia yang begitu besar dan supernatural ini akhirnya nampak secara final di dalam Yesus:

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rom 5:8)

Kalau kita sudah dijamah oleh kasih Tuhan, serta menerima Kristus dengan iman, maka iman itu dengan sendirinya akan hidup mengasihi. Hanya dengan merenungkan dan mengingat kembali kasih Tuhan kepada kita, seharusnya cukup bagi kita untuk bangun dari kemalasan, kesombongan, sikap hitung-hitungan kita, dan mulai mengasihi satu sama lain.

  1. Saling mengasihi satu sama lain menunjukkan bahwa kasih Allah ada di dalam kita. Yesus menggunakannya sebagai litmus test: bagaimana dunia akan mengetahui bahwa kita adalah pengikut Yesus? Kalau kita hidup saling mengasihi. Ini sebuah challenge! Seorang penulis mengatakan orang lain punya hak untuk mempertanyakan iman kita kalau di mata mereka kekristenan kita hanya sekedar label, tapi tanpa kasih yang real antara satu sama lain.

  2. Saling mengasihi satu sama lain memuliakan Yesus Kristus yang adalah sumber dan teladan kasih kita. Gereja mudah sekali menjadi tempat dimana yang dimuliakan adalah tradisi, teologi, atau tokoh tertentu. Tetapi bukan itu yang Yesus inginkan bagi gereja-Nya. Ia mau kita saling mengasihi sedemikian rupa sehingga orang lain dapat melihat Kristus melalui kita. Itu sebabnya hidup dan bertumbuh saling mengasihi di dalam gereja adalah salah satu sarana terbaik untuk semakin melihat kemuliaan kasih Kristus.

Pada masa Perang Dunia kedua di Jerman, Hitler berusaha menguasai gereja dengan menyatukan setiap grup agama melalui undang-undang. Salah satu denominasi yang akhirnya mengalami perpecahan mengenai hal ini adalah gereja Brethren. Sebagian mengikuti undang-undang yang berlaku, sebagian lagi menolak. Grup yang mengikuti pemerintah Jerman tentunya mengalami hidup yang lebih nyaman. Walaupun demikian, karena mereka disatukan dengan gereja-gereja liberal lainnya akhirnya ketajaman doktrin serta semangat rohani mereka mengalami kemunduran. Sementara grup yang memutuskan untuk memisahkan diri akhirnya tetap solid secara rohani, walaupun tidak sedikit yang anggota keluarganya mati terbunuh di kamp konsentrasi Jerman.

Begitu Perang selesai, dan Jerman dikalahkan, gereja Brethren ini kembali berkumpul. Anda tidak salah kalau membayangkan bahwa perkumpulan mereka sangat emosional dan menegangkan. Mereka memegang ajaran yang sama, tapi di grup yang satu ada yang keluarganya dibantai oleh Nazi, sementara di grup yang lain ada yang keluarganya masih hidup. Ketegangan ini terus berlangsung sampai akhirnya para penatua dari kedua grup ini memutuskan untuk bertemu di tempat yang sepi. Mereka bertemu untuk mengambil waktu memeriksa hati mereka masing-masing, pribadi lepas pribadi. Setiap orang di pertemuan itu bukan saja mendalami rasa sakit, duka, marah, dikhianati, tetapi juga menyadari bagaimana ia telah gagal mentaati perintah Yesus Tuhan dan Juruselamat mereka: "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh 13:34-35).

Waktu mereka kembali bertemu, kesadaran anggota gereja Brethren akan kasih Kristus kepada mereka begitu besarnya, sampai itu melumerkan segala rasa curiga, iri, marah, yang terpendam selama ini. Waktu mereka bertemu, mereka berkata, "We are just one." Kita adalah satu - bukan secara organisasi, lokasi atau denominasi, tetapi secara spiritual dan supernatural, karena kasih Allah yang telah Ia curahkan kepada mereka melalui Yesus!

DOA
Bapa, ampuni kami kalau selama ini kami begitu dangkal, hitung-hitungan, dan malas, dalam mengasihi satu sama lain. Ingatkan kami kembali akan kasih-Mu yang besar, supernatural, gigih, dan kokoh itu. Nyatakan kembali di dalam hati setiap kami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan. Kami minta ini di dalam nama-Nya. Amin.

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.