Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir sementara ini tidak tersedia. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Keinginan Super, Hukum Taurat, dan Perbuatan Daging

Galatia 5:13-26 adalah teks yang sangat penting bagi orang Kristen. Di sana Paulus membahas esensi dari perubahan dan pertumbuhan rohani. Tulisan Ayat ini seringali terlewatkan dalam banyak ulasan tentang teks ini karena semangat menggebe-gebu untuk membahas buah Roh. Ayat tersebut bisa digambarkan sebagai berikut:

Dipimpin oleh Roh -> tidak hidup di bawah hukum Taurat

Jika kita tidak dipimpin oleh Roh, siapa yang akan memimpin diri kita? Kita sendiri! Lebih tepatnya, sebagaimana Paulus, Petrus, Yohanes, and Yakobus secara kompak menyatakannya, kita dipimpin oleh keinginan yang besar yang kita miliki. Keinginan super. Keinginan super ini mestinya baik, namun menjadi yang terutama dan lalu mengontrol kita. Keinginan untuk dikasihi Tuhan, keinginan untuk dihargai dan dihormati orang, keinginan mendapat posisi, keinginan agar anak sukses, dst. Karena keinginan inilah, kita memaksa diri untuk taat kepada hukum Allah. Tujuannya, ‘mengutangi’ Allah sehingga Ia mau tidak mau agar mengabulkan keinginan kita. Jadi lawan kata dari ayat tsb adalah sebagai berikut:

Dipimpin oleh keinginan super -> hidup di bawah hukum Taurat

Yang menarik, Paulus lalu melanjutkan di ayat ke-19 dengan mendaftarkan beberapa perbuatan daging yang tidak terhormat (percabulan, kemabukan, dst) dan terhormat (iri hati, amarah, dst.). Ia sedang mengatakan bahwa ketika kita berusaha taat kepada hukum Allah karena dimotivasi keinginan super kita, segala bentuk perbuatan daging akan muncul. Ini konsep Alkitab yang akan membuat orang beragama kebakaran jenggot!  Jadi formulanya kalau kita teruskan menjadi sbb:

Keinginan super -> hidup di bawah hukum Taurat -> perbuatan daging

 Berikut sebuah contoh kasus. Kita ingin keluarga yang harmonis dan bahagia. Keinginan yang baik. Namun karena menjelma menjadi keinginan super yang mengontrol kita, kita menjadikan ‘keluarga bahagia’ sebagai tuhan kita dan meng-kudeta Kristus dari tahta-Nya. Bahkan kita menggunakan Kristus sebagai penguat, Red Bull, agar keinginan kita terkabul lebih cepat. Itu sebab kita lebih rajin berdoa, hafal ayat, pelayanan, dst. Model relasi transaksional seperti ini memunculkan berbagai macam perbuatan daging. Saat melihat saudara seiman yang keluarganya sangat harmonis, bukannya bersukacita kita malah iri hati. Ketika sedang ada konflik rumah tangga, kita marah besar terhadap Tuhan dan pasangan kita, lalu minum-minum sampai teler (tak ada yang namanya kasih dan penguasaan diri). Buah Roh berguguran, dan perbuatan daging mencuat keluar!

Itu sebabnya kita perlu hidup dipimpin oleh Roh. Hidup dipimpin oleh Roh bukan hidup diperbudak oleh hukum Taurat, dan juga bukan liar berbuat dosa. Hidup dipimpin Roh berarti kita belajar sensitif terhadap gerakan Roh Kudus, dan hidup dengan pola yang seirama dengan pimpinan Roh.

Saat kita dipimpin oleh Roh, maka keinginan super itu digantikan dengan keinginan Roh. Keinginan Roh adalah membuat Kristus riil dalam hidup kita. Mempermuliakan Kristus sehingga Ia semakin dikenal orang lewat hidup kita. Hasilnya adalah berbagai aroma rasa buah Roh. Formulanya adalah sbb:

Dipimpin oleh Roh -> Keinginan Roh ->  Buah Roh

Jadi kalau kita teruskan contoh kasus diatas. Kita sadar bahwa meski keluarga harmonis itu baik, itu tidak akan menjadi tumpuan harapan kita atau sumber bahagia kita. Kristus rela terpisah dari Bapa-Nya untuk seketika ketika Ia tersalib (sungguh tidak harmonis!), agar kita tidak pernah lagi mengalami ketidakharmonisan relasi dengan Allah. Kesadaran akan hal ini membuat kita mampu berkata, “Meski kadang ada konflik suami-istri atau orang tua-anak dalam rumahku, tidak apa-apa. Kristus akan menolong aku untuk tetap menunjukkan kasih yang berkorban bagi pasangan dan anak-anak, tetap bersukacita karena tahu bahwa konflik tsb membuatku semakin belajar bergantung kepada Tuhan, dan tetap setia menegur mereka dalam kasih agar mereka semakin serupa Kristus.