Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Mat 7:1-6 "Menilai Dengan Jelas"

Matius 7:1-6
(1) Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. (2) Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.

(6) Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.

Mulai bagian ini, khotbah Yesus di bukit mulai naik ke puncaknya. Kita sudah melihat khotbah ini dibuka dengan Yesus mengajarkan karakter seperti apa yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Allah. Lalu dilanjutkan dengan bagaimana anak-anak Allah berelasi dengan satu sama lain, dengan Allah Bapa, serta bagaimana menjalankan hidup keagamaan mereka sebagai pengikut Kristus. Ada dua pertanyaan penting yang kita bisa pikirkan di bagian ini:

Sudahkah kita menilai diri kita dengan jelas? (7:1-5). Waktu Yesus berkata, "Janganlah kamu menghakimi," artinya Ia tidak mau pengikut-Nya menjadi orang yang kerjanya mencari-cari kesalahan orang. Pengikut Yesus jangan sampai begitu peka dan bisa mengekspos dosa orang lain, tapi pada saat yang sama begitu buta terhadap dosanya sendiri. Itulah yang Yesus maksudkan waktu Ia berbicara tentang 'balok di mata sendiri, selumbar (serpihan kayu kecil) di mata orang lain'. Kita biasanya mahir menemukan, menganalisa, membagi-bagikan kesalahan orang lain, tapi kita begitu lamban dalam menemukan, menganalisa, dan membagikan kesalahan kita sendiri.

Yang Yesus larang di sini adalah "menghakimi secara munafik" yaitu dimana kita membongkar kesalahan orang lain demi menutupi kesalahan kita sendiri, atau untuk menunjukkan bahwa kita tidak seburuk dibandingkan dengan mereka! Itu sebabnya kita perlu hati-hati kalau emosi kita meluap saat menghadapi kesalahan orang lain, karena biasanya saat seperti itulah dimana kita seringkali menghakimi secara munafik. Yesus mengatakan bahwa alasan di balik kita menghakimi secara munafik adalah karena kita tidak melihat diri kita dengan jelas. Atau, dengan kata lain, kita tidak melihat diri kita melalui kacamata Injil.

Kalau Injil Kristus sudah menjamah hati kita, maka kita seharusnya bisa melihat diri kita lebih jelas. Kacamata Injil memampukan kita bukan saja untuk melihat 'balok di dalam mata kita' (7:3), tetapi juga mengeluarkannya dari mata kita (7:5)! Injil Yesus memampukan kita bukan saja untuk melihat serta mengakui kemunafikan kita, tetapi juga mencabutnya dari hidup kita.

Kadang saya dengar ada orang yang protes, "Pak, saya tidak suka ke gereja A, karena kalau ke sana rasanya seperti dihakimi. Orang Kristen kan gak boleh menghakimi!" Biasanya, saya mulai dengan mengingatkan bahwa orang yang protes pun sedang melakukan penghakiman terhadap gereja tersebut. Tetapi yang lebih penting lagi kita perlu ingat bahwa Yesus tidak melarang kita untuk menghakimi sama sekali. Ia mau kita menghakimi dengan benar. Ada waktunya dimana kita 'mengeluarkan selumbar dari mata orang lain' (7:5).

Sudahkah kita menilai orang lain dengan jelas? (7:6). Yesus mau pengikut-Nya menilai orang lain dengan kacamata Injil yang sama. Dalam menilai orang lain, kita jangan menilai dengan munafik tapi juga jangan asal menilai tanpa pertimbangan. Ilustrasi soal jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing dan mutiara kepada babi mengajarkan kita untuk menilai orang lain dengan jelas. Orang Kristen harus memahami bukan saja betapa bernilainya mutiara, tapi juga sifat dasar anjing atau babi. Kedua binatang ini tidak bisa menghargai benda-benda berharga, bahkan saking tidak menghargainya mereka malah akan menyerang balik karena mengira kita mau melukai mereka.

Seringkali itu yang terjadi waktu kita membagikan berita Injil dengan orang lain. Ada orang yang memang belum melihat berharganya Injil Yesus dan Firman Tuhan, sehingga disampaikan dengan cara apa pun mereka akan menyerang balik.

Waktu kita membagikan Firman Tuhan kepada orang lain, kita harus menilai mereka dengan jelas. Ada yang mungkin belum melihat betapa berharganya Injil keselamatan. Mereka belum sadar akan dosa dan penghakiman yang akan datang. Kita kadang perlu bijaksana dalam berespon kepada mereka. Kadangkala artinya kita harus meninggalkan mereka untuk sementara waktu atau bahkan secara permanen. Kadangkala kita perlu mengganti strategi atau mencari momen yang lebih tepat. Intinya, pengikut Yesus juga harus belajar peka terhadap situasi, kebutuhan, dan respon orang lain. Kita harus memikirkan cara terbaik menyampaikan Injil secara pantas dan menurut konteks budaya dimana Tuhan menempatkan kita. Yesus mau pengikut-Nya bijak dan cermat dalam menilai orang lain.

Kejelasan dalam menilai perbedaan respon orang ini penting baik dalam kita menginjli, atau sekedar menjalankan kehidupan Kristen kita sehari-hari di depan orang lain. Rasul Paulus mengatakan:

Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (1 Korintus 9:22)

Apakah selama ini kita sudah memakai kacamata Injil dalam menilai diri kita dan orang lain dengan jelas? Atau, apakah selama ini kita menghakimi dengan munafik atau kurang peka dan bijaksana dalam menilai orang lain?

DOA
Bapa, hari ini kami bersyukur bahwa Engkau menilai kami berdasarkan kebenaran dan kesempurnaan Yesus Kristus.

Ampuni kami kalau selama ini kami lebih lihai menyoroti tindakan berdosa orang lain tapi kami lalai dalam melihat dosa di dalam hati kami. Ampuni kami juga kalau selama ini kami tidak menimbang dengan bijaksana saat mengkomunikasikan dan menghidupi kebenaran Firman-Mu.

Tolong kami untuk menjadi anak-anak-Mu yang hidupnya berbasiskan Injil Yesus, sehingga kami bijaksana dalam merefleksikan hidup Kristen kami kepada orang lain. Demi nama Yesus, amin.

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.