Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Mat 7:24-29 "Anda Bijaksana atau Bodoh?"

Matius 7:24-29
(24) Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (26) Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

(28) Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, (29) sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Kalimat penutup Khotbah di Bukit memisahkan setiap pendengar Yesus ke dalam dua kategori: orang yang bijak atau orang yang bodoh. Tidak peduli apa latar belakang agama, karakter, persoalan hidup, status, reputasi, seberapa sukses atau gagalnya anda, pada akhirnya Yesus menilai kita hanya dari dua hal: bagaimana kita berespon terhadap perkataan-Nya. Anda bisa jadi orang Kristen puluhan tahun dan mendengar ribuan khotbah tapi pada saat yang sama tidak melakukan apa yang Yesus katakan. Anda bisa punya reputasi baik di gereja dan bahkan dikenal baik di masyarakat tapi pada saat yang sama tidak melakukan apa yang Yesus katakan. Baik Alkitab maupun sejarah menunjukkan bahwa ada banyak orang yang mendengarkan perkataan Yesus hanya untuk mengabaikannya.

Yang membedakan antara orang bijak, atau orang Kristen yang sejati, dengan orang bodoh, atau orang Kristen yang palsu, pada akhirnya adalah apakah orang itu mentaati dan mempraktekkan apa yang dikatakan oleh si Pengkhotbah yang agung ini. Darimana kita tahu bahwa kita masuk kategori orang bijaksana? Darimana kita tahu bahwa kita sudah membangun di atas batu, dan bukannya di atas pasir?

Kita hanya tahu waktu kita menghadapi ujian dan tantangan hidup. Yesus menyebutnya di sini sebagai hujan, banjir, dan angin yang melanda. Ujian dan tantangan dihadapi oleh semua orang tanpa pilih-pilih. Kebanyakan dari kita sudah atau sedang mengalami dukacita, sakit, penderitaan, kekecewaan, dan suatu hari nanti, kematian. Waktu ujian dan tantangan menerpa kita, entah itu karena kesalahan kita, kesalahan orang lain, faktor tidak terkendali, atau kombinasi dari ketiganya, biasanya kita jatuh ke salah satu dari dua ekstrim: Ekstrim yang satu berusaha mati-matian cari jalan keluar atau cara untuk membalas, ekstrim yang lain adalah tidak berbuat apa-apa, atau bahkan kita rohanikan dengan 'ya udah Tuhan maunya gitu, mau gimana lagi?'

Tetapi, setiap orang Kristen yang sejati akan bertanya: bagaimana aku bisa melakukan kehendak Allah dalam situasi ini? Beberapa contoh:

  • Kalau kesalahan atau dosa kita membuat kita sadar akan kemiskinan rohani kita serta menangisi kejahatan hati kita, ingatlah bahwa Yesus mengatakan itu artinya kita berbahagia atau diberkati.
  • Kalau kesalahan atau dosa orang lain membuat kita sadar akan panggilan kita mengasihi, mengampuni, dan berdoa bagi musuh-musuh kita, ingatlah bahwa Yesus mengajarkan itu artinya kita sudah memahami anugerah pengampunan Allah.
  • Kalau situasi hidup membuat kita merasa kuatir dan cemas, ingatlah bahwa Yesus mengundang kita untuk menempatkan percaya pada Allah Bapa yang memelihara kita.

Dengan kata lain, setiap ujian dan tantangan hidup, sebesar dan sekecil apa pun, adalah kesempatan bagi setiap pengikut Yesus untuk merefleksikan dan melakukan perkataan-perkataan Yesus. Setiap ujian dan tantangan hidup adalah kesempatan kita melihat bagaimana kuasa Injil Yesus hidup melalui cara kita berpikir, berkata-kata, dan berespon.

Kalimat penutup Khotbah di Bukit ini juga menunjukkan sesuatu yang spesial. Saya harap selama seri ini kita sudah melihat secara sepintas betapa runut, jelas, dan praktis gambaran Yesus tentang hidup orang Kristen melalui khotbah ini. Tetapi penjelasan secara runut, jelas, dan praktis saja bukan sumber transformasi hidup Kristen. Yang dibutuhkan setiap pengikut Yesus jauh lebih dalam lagi: hati yang mau tunduk pada kuasa/otoritas Yesus atas hidup mereka. Kita mau melakukan perkataan-perkataan Yesus karena setiap ajaran-Nya terkait pada pribadi-Nya sendiri yang begitu agung, penuh kasih, dan bijaksana.

Kalau saya boleh tarik lensa pengamatan kita sedikit lebih luas lagi, keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) beserta semua penulis Perjanjian Baru, menulis bukan saja tentang ajaran dan tindakan Yesus, tetapi juga Yesus yang telah mati dan bangkit dari antara orang mati. Artinya setiap ajaran Yesus yang kita baca baik di Khotbah di Bukit, maupun di seluruh Perjanjian Baru, adalah ajaran dari Yesus yang saat ini memerintah dengan tubuh kemuliaan yang tidak akan mati lagi dan bahkan akan kembali sebagai Hakim atas seluruh manusia.

Saat Yesus datang kembali sebagai Hakim, di situlah setiap hidup kita akan mengalami ujian dan tantangan final. Di hari penghakiman kita akan mendapati siapa yang benar-benar bijaksana (mendengarkan dan melakukan perkataan Yesus), dan siapa yang benar-benar bodoh (mendengarkan tetapi mengabaikan perkataan Yesus). Di hari itu kita akan melihat apakah hidup kita selama ini dibangun di atas Yesus sebagai batu keselamatan kita yang kekal, atau di atas pasir dosa, pemberontakan, dan kesementaraan.

Bagaimana respon anda terhadap Yesus dan perkataan-Nya?

DOA
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau dengan sabar menjelaskan bagaimana kami bisa membangun hidup yang berkenan kepada-Mu. Tolong setiap kami agar tidak ada yang kedapatan sebagai orang-orang yang hanya mendengar atau bahkan bisa mengajarkan perkataan-Mu, tetapi yang hidupnya tidak melakukan apa yang Engkau katakan. Tolong kami agar menjadi orang-orang bijaksana yang bukan saja mendengar dan mempelajari perkataan-Mu, tetapi juga melakukannya.

Terpujilah nama dan kuasa-Mu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.