Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Mazmur 13 "Berapa Lama Lagi, Tuhan?"

Mazmur 13
(1) Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.
(2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? (3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

(4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, (5) supaya musuhku jangan berkata: "Aku telah mengalahkan dia," dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

(6) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Pernahkah anda bertanya seperti Daud, "Berapa lama lagi, Tuhan?" seperti di pembukaan Mazmur ini? Rasa sengsara dan sedih yang Daud alami membuatnya merasa Tuhan sudah meninggalkan dan melupakan dia. Anda mungkin pernah merasakan putus asa yang serupa saat pertolongan atau jawaban doa yang kita harapkan kelihatannya tidak kunjung tiba. Terlebih lagi ketika situasi yang kita doakan tidak bertambah baik melainkan bertambah buruk, jauh sekali dari apa yang kita pikir Tuhan akan kerjakan.

Pengalaman Allah memalingkan wajah-Nya dari orang-orang yang Ia kasihi adalah pengalaman banyak orang percaya. Pengakuan Iman Westminster mengatakan bahwa orang-orang percaya pun kadang mengalami berbagai goncangan, kehilangan kepastian akan keselamatan mereka, bahkan melalui pengalaman dimana Allah menyembunyikan cahaya wajah-Nya dan membiarkan mereka berjalan dalam kegelapan dan tidak mendapat terang (Westminster Confession of Faith, 18.4). Tangisan Daud, "Berapa lama lagi, Tuhan?" adalah tangisan yang dialami oleh banyak orang percaya sepanjang masa.

Tetapi Daud tidak berhenti di sana. Meskipun berulang kali ia bertanya kepada Tuhan, ia tahu bahwa hanya kepada Tuhanlah ia dapat berpaling. Ada semacam paradoks iman antara bertanya, "Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu?" dengan, "Pandanglah, perhatikanlah aku!" (13:2,4). Ditambah lagi Daud memanggil Tuhan sebagai, "Allahku", yang menunjukkan keyakinannya akan kasih setia Tuhan di tengah-tengah keputusaannya. Begitu pedulinya Daud akan hormat dan nama Tuhan, sampai-sampai ia mengatakan jangan sampai ia kedapatan kalah (atau mati) dan musuh-musuhnya memviralkan bahwa mereka telah mengalahkan raja pilihannya Tuhan, "Oh ternyata orang yang diurapi Tuhan Allah cuman bertahan segini doang toh? Kalau gitu ngapain kita takut sama Tuhannya?"

Betapa sering doa-doa dan permohonan kita berhenti pada diri kita. Tentu tidak salah untuk meminta pertolongan dari Tuhan karena itu yang berulangkali kita lihat di Mazmur dan bagian-bagian lain di Alkitab. Tapi yang salah adalah begitu doa-doa dan permohonan kita hanya bertujuan akhir demi reputasi, kenyamanan, dan agenda kita sendiri. Kita hanya mengikutsertakan Tuhan sebagai pemeran pembantu atau cheerleader. "Tuhan, Engkau hanya berguna kalau saya bahagia!" demikian kira-kira pesan tersirat doa-doa kita.

Doa-doa dan permohonan Daud membalikkan semuanya itu. Reputasi, kemuliaan, dan agenda Tuhanlah yang penting. Betul Daud berteriak minta tolong, "Berapa lama lagi, Tuhan?" tapi tujuan akhirnya adalah agar melalui pertolongan dan keselamatan yang Tuhan kerjakan, Daud bisa semakin memuliakan dan membesarkan nama Tuhan. Itu sebabnya di ayat terakhir, Daud mengalihkan fokusnya pada kasih setia Tuhan dan keselamatan yang Ia kerjakan. Allah menunjukkan kasih setia-Nya melalui berbagai karya keselamatan yang Ia telah tunjukkan sepanjang sejarah bangsa Israel, sepanjang hidup Daud, dan puncaknya melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dan sepanjang sejarah gereja sampai hari ini di dalam hidup setiap kita orang-orang percaya. Dan kalau kita mau diam sejenak memikirkan, merenungkan, mendalami setiap perbuatan-perbuatan Tuhan sepanjang sejarah, maka kita akan berkata seperti Daud, "Kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatanMu!"

Walaupun situasi hidup kita sekarang belum berubah dan hati kita masih dipenuhi ketidakpastian, kita bisa menyanyikan kasih setia dan karya keselamatan Tuhan. Kita melihat kepada Yesus, satu-satunya Orang Benar yang benar-benar ditinggalkan oleh Allah Bapa-Nya, satu-satunya Perantara yang benar-benar mengerti teriakan kita, "Berapa lama lagi, Tuhan?". Dan karena Yesus telah mati, bangkit, dan akan datang kembali, suatu hari nanti teriakan dan tangisan kita kepada-Nya akan berubah menjadi nyanyian dan pujian bagi-Nya.

DOA
Ya Bapa, bagi beberapa dari kami, kami sudah lelah bertanya, "Berapa lama lagi, Tuhan?" Kami merasakan apa artinya seperti dilupakan, diabaikan, menyimpan kuatir dan kesedihan hati yang tidak kunjung habis. Kami kadang tidak yakin apakah kami dapat tetap percaya dan bersandar pada-Mu.
Hari ini kami mau mengalihkan fokus kami kepada Anak-Mu Yesus Kristus. Yang melalui pengorbanan-Nya membuat Engkau memandang setiap kami dengan penuh kasih, walaupun mata kami penuh air mata dan mulut kami sudah kehabisan kata-kata. Melalui kematian dan penderitaan-Nya kami punya Tuhan yang sangat memahami apa yang kami lalui. Melalui kemenangan-Nya atas maut dan kebangkitan-Nya kami punya Tuhan yang akan membawa kami sampai keselamatan kami menjadi sempurna.
Bapa, terimakasih sekali lagi untuk kasih setia-Mu dan karya keselamatan-Mu yang layak untuk dipercayai dan kami sandarkan. Bapa, kami memuji serta menyanyikan kebesaran nama-Mu. Bapa, sungguh Engkau bukan saja telah berbuat baik tetapi memberikan yang terbaik, yaitu Anak-Mu Yesus Kristus, kepada kami.
Demi nama-Nya serta reputasi-Mu yang agung itu kami berdoa. Amin.

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.