Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Mazmur 38 "Jangan Tinggalkan Aku, Ya Tuhan!"

Mazmur 38
(1) Mazmur Daud pada waktu mempersembahkan korban peringatan. (2) TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu; (3) sebab anak panah-Mu menembus aku, tangan-Mu telah turun menimpa aku.

(4) Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku; (5) sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku. (6) Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku; (7) aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita. (8 ) Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; (9) aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.

(22) Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku! (23) Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku!

Seringkali kita mengalami penderitaan yang multi dimensi: perasaan bersalah akibat dosa kita, penyakit atau kelemahan fisik (entah yang kita alami atau sedang dialami oleh orang yang kita kasihi), merasa terisolasi dari orang lain, ditambah dengan tekanan dari pihak lain yang sepertinya berusaha untuk menghancurkan hidup kita. Di Mazmur ini kita melihat betapa kompleks dan berlapisnya penderitaan yang kita lalui, tetapi pada saat yang sama kita juga melihat betapa multi dimensinya pertolongan Tuhan bagi kita.

Pertolongan Tuhan datang dalam bentuk hajaran Tuhan. Bagian awal dari Mazmur ini konsisten dengan bagaimana Tuhan Allah memperlakukan anak-anak-Nya.

Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. (Ibr 12:6)

Di Mazmur ini Daud mengakui bahwa penderitaan yang ia alami datang karena disiplin Tuhan atas dosa-dosanya. Waktu ia berdoa, "Janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu" (38:2) ia tidak sedang mengatakan agar Tuhan tutup mata dan berpura-pura mengabaikan dosanya. Bukan, melainkan ia sedang memohon agar di tengah-tengah mengalami displin Tuhan, ia juga boleh mengalami belas kasihan Tuhan. Walaupun menyakitkan, hajaran atau didikan Tuhan justru menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi dan sedang menolong kita, termasuk kalau artinya menolong kita dari kebodohan dan pelanggaran kita sendiri!

Pertolongan Tuhan datang dengan membebaskan kita dari harapan palsu. Kita melihat bahwa it's okay untuk terbuka dan jujur menceritakan segala kepedihan dan perasaan sendiri kita kepada Tuhan. Alkitab realistis terhadap kenyataan bahwa kita menghadapi penderitaan dan dosa secara real dan menyakitkan, entah itu yang terjadi dari dalam atau dari luar diri kita. Itu yang dimaksud Daud waktu ia berkata,"Tuhan, keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu" (38:10).

Kita juga melihat bahwa seringkali Tuhan menolong kita untuk menunjukkan bahkan mereka yang paling baik dan dekat dengan kita pun bisa menjadi harapan palsu: "Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh" (Mzm 38:12). Setiap kita yang pernah menderita pasti pernah mengalami dikecewakan oleh orang-orang yang kita harapkan bisa menolong atau setidaknya menguatkan kita. Waktu orang-orang ini menjadi pengganti Tuhan dalam hidup kita, seringkali Tuhan harus menolong kita dengan membebaskan kita dari harapan-harapan palsu tersebut.

Pertolongan Tuhan datang dengan memberikan kita harapan sejati. Di jaman serba instan ini kita paling tidak suka disuruh menunggu. Setiap penemuan terbaru selalu menjanjikan kita bisa melakukan segala sesuatu lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah. Kita tidak suka menunggu, tapi itu yang Daud ajarkan kepada kita di sini: "Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap (ESV. For you, O LORD, do I wait); Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku" (38:16). Aku menantikan Engkau ya Tuhan. Dan seringkali jalan Tuhan rasanya lebih lambat, lebih mahal, dan lebih susah! Tepat setelah mengatakan itu Daud mengakui kesalahannya (38:19) - loh, bukannya sudah ngaku di atas (38:3-5)? Kadangkala ada yang namanya pengakuan di awal, dan kemudian setelah kita berpikir dan membandingkan hidup kita dengan kebenaran Firman Tuhan, Roh Kudus membuat kita sadar: dosamu jauh lebih dalam, lebih serius, lebih menjijikan, daripada yang kamu pikir sebelumnya. Dalam bahasa Ibrani ada penekanan khusus itu sebabnya dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, "Ya, aku mengaku kesalahanku (ESV. I confess my iniquity)".

Tetapi kita perlu sekali lagi ingat, bahwa tujuan akhir Tuhan membuat kita mengakui dosa-dosa kita adalah karena Ia mau memulihkan dan menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Ia mau menunjukkan kepada kita bahwa Dialah satu-satunya harapan sejati di tengah penderitaan multi dimensi yang kita alami.

Kedalaman penderitaan multi dimensi ini membantu kita semakin mendalami penderitaan yang Yesus alami demi menyelamatkan kita. Berbeda dengan Daud, Yesus tidak pernah menderita akibat dosa atau kesalahan-Nya. Tetapi justru dalam kemurnian dan keagungan karakter-Nya tidak ada Orang lain yang pernah lebih menderita akibat dosa atau kesalahan orang lain selain Yesus. Ia merelakan diri-Nya dalam keadaan tidak tertolong dan sama sekali ditinggalkan sendirian oleh Allah Bapa-Nya. Ia merelakan doa-Nya minta kelepasan tidak terjawab dan malah Ia dilepaskan untuk ditelanjangi, disiksa, dan disalibkan sampai mati. Pada akhirnya hanya Yesuslah yang betul-betul bisa mendoakan kalimat penutup Mazmur ini:

Orang-orang yang memusuhi aku besar jumlahnya, banyaklah orang-orang yang membenci aku tanpa sebab; mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik, mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik. Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku! Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku! (Mzm 38:19-22)

Harapan kita tidak hanya terletak pada sisi penderitaan dimana Yesus mati di salib, tetapi juga di sisi kemenangan dimana Yesus bangkit dari antara orang mati. Begitu Ia keluar dari kubur-Nya pada hari ketiga, di situlah kita baru sadar: doa-Nya ternyata dijawab oleh Bapa-Nya! Penderitaan multi dimensi yang Yesus lalui, memberikan kita keselamatan multi dimensi untuk kita nikmati. Artinya betapa kacau, bervariasi, membingungkannya penderitaan kita hari ini atau besok, setiap kita yang percaya kepada Yesus bisa yakin bahwa Allah Bapa kita tidak akan meninggalkan kita, tidak akan berdiri jauh-jauh dari kita, dan akan menyelamatkan kita.

DOA
Allah Bapa, di tengah penderitaan kami yang begitu rumit dan kompleks, termasuk yang terjadi akibat dosa, kebodohan, dan kekerasan hati kami, kami mengakui kadang tidak ada yang dapat kami lakukan selain memohon belas kasihan dan pertolongan-Mu. Kami seringkali merasa begitu kewalahan mengurai apalagi menyelesaikan begitu banyaknya persoalan hidup kami. Kami merasa terbuai dan tenggelam oleh kemarahan, kekuatiran, rasa bersalah, dan bahkan rasa malu, semua yang sulit kami jelaskan dan ungkapkan, kecuali hanya kepada-Mu.

Bapa, ya kami mengakui dosa dan kesalahan kami. Kami mengakui ketidakberdayaan kami. Kami mengakui betapa lemah, terbatas, serta rentannya kami, baik secara fisik, mental, rohani, dan dalam banyak hal. Kami hari ini mau kembali menyerahkan hidup kami kepada-Mu.

Bapa, terima kasih karena Engkau telah memberikan Anak-Mu Yesus Kristus, yang telah menjadi Penolong dan Penyelamat kami yang sesungguhnya. Kami bersyukur bukan saja karena kematian dan kebangkitan-Nya yang menebus kami, tetapi juga karena kenaikan-Nya kembali kepada-Mu, sehingga sekarang kami punya Penolong dan Pendoa yang tidak terbatas kuasa-Nya. Di dalam nama-Nya yang hidup dan berkuasa itu kami berdoa. Amin.

Leave a Comment

SPAM protection (do not modify):
SPAM protection (do not modify):
Leave this field untouched: