Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Pertobatan: Sejati atau Palsu?

Salah satu pertanyaan yang ditujukan bagi calon anggota di Indonesian Christian Church, berbunyi demikian:”Apakah anda bertobat dari dosa-dosa anda, dan dengan rendah hati serta ucapan syukur menempatkan percaya anda pada belaskasihan dan anugerah Allah dan Yesus Kristus—yang melalui pengorbanan-Nya menanggung dosa-dosa anda?”

Pertobatan dalam hal ini bukan merujuk kepada one-off event dimana orang pertama kali menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Pertobatan dalam hal ini adalah lifelong commitment dimana seluruh hidup kita semakin berubah menjadi seperti Kristus dalam pikiran, perkataan, tindakan, serta prioritas hidup kita.

Samuel Bolton (1606-1654), salah seorang tokoh Puritan, di dalam bukunya The True Bounds of Christian Freedom, memberikan beberapa kontras antara pertobatan yang sejati dan pertobatan yang palsu. Saya mencantumkan beberapa poin dari buku Bolton di bawah ini, berikut dengan pertanyaan refleksi bagi kita masing-masing. Mari kita minta Allah Roh Kudus menggunakannya untuk menelaah hidup kita.

Pertobatan Palsu

  1. Bersifat transaksional. Apakah kita hanya berubah kalau kita sedang meminta/butuh sesuatu dari Tuhan?
  2. Motivasi dasarnya adalah menjalankan peraturan. Apakah kita hanya berubah kalau itu bersifat hitam putih mutlak: benar atau salah, atau bahkan legal atau tidak legal?
  3. Minimalistis. Apakah kita berubah hanya agar hati nurani kita tidak mengusik kita?
  4. Pura-pura. Apakah kita berubah hanya pada masa-masa kritis? Atau hanya pada saat dimana kita betul-betul terpaksa?
  5. Seperti pakai jimat. Apakah kita berubaha hanya karena takut bahaya atau malapetaka yang Tuhan mungkin akan jatuhkan kepada kita?

Pertobatan Sejati

  1. Bersifat relasional. Apakah perubahan kita terjadi karena relasi kita dengan Tuhan sudah dipulihkan, melalui Kristus?
  2. Motivasi dasarnya adalah mengasihi Allah. Apakah perubahan kita terjadi karena kita memikirkan apakah itu menyenangkan atau tidak menyenangkan hati Tuhan?
  3. Maksimalistis. Apakah perubahan kita terjadi karena kita mau Tuhan menguasai seluruh area hidup kita?
  4. Tinggal tetap. Apakah perubahan kita mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, dan terjadi setiap hari secara konsisten?
  5. Santapan rohani. Apakah perubahan kita menjadi makanan rohani kita sehari-hari, karena kita tahu itu baik bagi jiwa kita?

Bagaimana dengan diri anda, apakah pertobatan sejati menghiasi keseharian hidup anda?