Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Mat 7:7-12 "Reaktif atau Reflektif?"

Mat 7:7-12
(7) Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (8) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (9) Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, (10) atau memberi ular, jika ia meminta ikan? (11) Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (12) Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Anda mungkin pernah mengikuti mata kuliah yang membuat anda merasa kewalahan dan berharap kalau saja anda bisa bertemu dengan sang dosen serta mendapatkan bimbingan langsung. Kalau anda mengikuti khotbah Yesus dari awal Matius 5 sampai ke titik ini, maka wajar kalau kita merasa kewalahan. Karakter hidup orang Kristen serta tuntutan untuk menjalani hidup kerajaan Allah memang tidak sama dengan ikutan fans club. Seperti judul sebuah buku, kita tidak dipanggil untuk menjadi fans-nya Yesus, melainkan followers-nya Yesus! Tetapi alangkah luarbiasanya Yesus yang mengundang kita menjadi pengikut-pengikut-Nya. Ia tidak berdiri jauh di sana dengan mata tajam siap mencela setiap kesalahan kita. Tidak! Ia berdiri dekat bagaikan seorang gembala yang penuh kasih siap untuk menolong kita dalam setiap kelemahan kita.

Seperti seorang dosen yang berpengalaman, Yesus mengantisipasi pertanyaan dan kesulitan para murid-Nya. Ia tahu kita miskin secara rohani. Ia tahu betapa mudahnya ilalang kemunafikan tumbuh di dalam hati kita. Ia tahu betapa lambannya kita belajar. Bagi anda yang sudah mengikut Yesus selama belasan atau puluhan tahun, anda akan mengakui bahwa seringkali mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh membuat kita kewalahan. Itu sebabnya Yesus menyambung dengan mengatakan, "Mintalah … Carilah … Ketoklah!" Dalam bahasa aslinya ini bukan meminta, mencari, mengetok yang sesekali pada masa-masa sulit. Yesus mengatakan, terus meneruslah meminta, mencari dan mengetok. Ia sedang mengajarkan sikap hati Allah Bapa yang suka untuk dimintai, dicari, dan diketoki. He's that kind of God! Ia bukan Allah yang hati-Nya sempit dan merespon kita hanya kalau Dia sedang ada 'mood'. Tidak! Ia adalah Bapa yang siap memberi dan siap membuka hati-Nya kepada kita.

Itu sebabnya Yesus melanjutkan dengan analogi hubungan bapa-anak sehari-hari (7:9-11). Ayah duniawi saja tahu dan mau memberikan yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa surgawi! Sekali lagi kita diingatkan, yes di satu pihak ada jarak yang tidak terseberangi antara kemiskinan manusiawi kita dengan kekayaan ilahi Allah Bapa kita. Itu sebabnya Yesus menyebut bapa duniawi yang terbaik sekalipun, tetap adalah orang jahat kalau dibandingkan dengan Allah Bapa dalam segala kesucian dan kemuliaan-Nya. Tetapi di pihak lain yes ada kedekatan yang tidak bisa dijelaskan antara kita anak-anak Allah dengan Bapa surgawi kita. Itu sebabnya Yesus menyatakan bahwa walaupun kita jahat, Allah adalah 'Bapamu yang di sorga' (7:11).

Identitas kita sebagai pengikut Yesus, sebagai anak-anak Allah, ada di dalam kedua kebenaran ini, bahwa Tuhan Allah adalah Dia yang berhak penuh membinasakan kita tapi pada saat yang sama Dia yang beranugerah penuh membenarkan kita di dalam Kristus. Kedua kebenaran inilah yang membantu kita memiliki ketakutan yang saleh / godly fear terhadap Allah Bapa kita.

Kedua kebenaran ini juga yang menolong anak-anak Allah untuk menyadari bahwa hidup kita tidak seharusnya berpusat lagi pada diri, agenda, kemauan, pilihan hidup, bucket list kita. Hidup kita dari self-centred (berpusat pada diri sendiri) menjadi God-centred (berpusat pada Tuhan). Maka kalimat Yesus berikutnya pas banget, karena menunjukkan hidup yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan pada orang lain:

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12)

Ini adalah cara lain untuk mengatakan, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (22:39). Hanya orang yang sudah benar-benar memahami dan menerima anugerah Allahlah yang bisa hidup truly selfless / betul-betul tidak egois. Kita dengan rela mengedepankan kebutuhan orang lain, termasuk dengan resiko disalahmengerti, ditolak, bahkan dibenci, karena itulah yang Yesus telah lakukan bagi kita. Setiap anak-anak Allah mencerminkan perbuatan kasih yang mereka sendiri sudah terima dari Anak Allah yang sulung itu.

Sekali lagi Yesus mengarahkan kita kepada diri-Nya sendiri. Kalau kita melihat hidup Kristen hanya seperti potongan-potongan puzzle yang berserakan yang harus kita satukan dengan mata ditutup, maka kita akan mudah merasa kewalahan dan akhirnya frustrasi. Tapi waktu mata kita terbuka, kita bisa melihat di kotak puzzle gambaran utuhnya--Allah Bapa yang menunjukkan kasih anugerah-Nya, Yesus Kristus yang menjadi Guru dan Penyelamat kita, dan Roh Kudus yang tinggal di dalam kita--Gambaran utuh itu menguatkan kita untuk melayani dan mengasihi orang lain, sama seperti Allah Tritunggal telah melayani dan mengasihi kita.

Perbuatan kita terhadap orang lain bisa bersifat reaktif atau reflektif.

  • Reaktif artinya kita bereaksi terhadap apa yang orang lain sudah lakukan, atau apa yang orang lain gagal lakukan, terhadap kita. Fokusnya adalah pada apa yang kita sudah dapatkan atau belum dapatkan dari orang lain. Perbuatan reaktif adalah hidup yang masih berpusat pada diri sendiri.
  • Reflektif artinya kita bertindak mencerminkan apa yang Tuhan sudah lakukan terhadap kita. Fokusnya adalah pada siapa karakter Allah Bapa dan apa yang Ia sudah berikan kepada kita. Perbuatan reflektif adalah hidup yang berpusat kepada Tuhan, dan kemudian mendahulukan kebutuhan orang lain.

Coba pikirkan perbuatan anda terhadap sesama selama ini, apakah anda cenderung reaktif atau reflektif?

DOA
Bapa, seringkali kami lupa bahwa kami punya Allah yang murah hati, baik, dan penuh anugerah. Hati-Mu tidak sempit terhadap anak-anak-Mu, melainkan terbuka lebar dan dengan hangat bersiap menolong serta menuntun kami.

Tolong kami untuk selalu mengarahkan mata iman kami kepada-Mu, agar dengan melihat kepada-Mu, kami merefleksikan pelayanan kasih-Mu kepada orang lain. Demi nama Yesus, kami meminta semua ini. Amin.

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.