Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Sukacita di Dalam Tuhan

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)

Sifat berikutnya dari buah Roh Kudus adalah sukacita. Ini bukan sukacita yang muncul dari hal-hal duniawi yang kita bisa ukur atau bandingkan dengan orang lain. Ini juga bukan sukacita yang alamiah karena kita kebetulan lahir dengan kepribadian yang ceria. Waktu Paulus mengajak kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, ia berbicara tentang sukacita yang surgawi dan supernatural. Ini adalah sukacita yang tidak tergantung pada situasi hidup kita dan juga tidak dapat diganggu oleh penderitaan dan tantangan hidup kita sehari-hari. Sukacita di dalam Tuhan tidak menutup mata terhadap realita hidup yang kadang mengecewakan dan menyakitkan. Sukacita di dalam Tuhan menatap dengan mata iman kepada Allah Bapa yang selalu hadir, menopang, dan mengasihi kita.

Bagaimana agar sifat sukacita ini semakin matang di dalam hidup kita?

  1. Kita memelihara sukacita dengan mengingat betapa luarbiasanya diadopsi ke dalam keluarga Allah.
    Bagi orang Kristen, sukacita kita terdapat di dalam Injil keselamatan Yesus Kristus. Itu sebabnya Injil, di dalam bahasa aslinya berarti kabar yang baik, penting, dan sukacita! Secara natur, antara kita dan Allah ada jurang jauh yang tidak dapat diseberangi. Tapi kabar sukacitanya adalah justru jurang jauh itulah yang Allah jembatani melalui Yesus. "Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus" (Ef 2:13). Bagi mereka yang percaya dan berbalik kepada Yesus, sukacita mereka datang dari identitas baru yang Allah anugerahkan kepada mereka: bukan lagi musuh Allah, melainkan telah diadopsi sebagai anggota keluarga Allah. Dalam hidup kita sehari-hari, identitas, peran, reputasi, dan harta milik kita, datang dan pergi. Tetapi di dalam Kristus, kita punya identitas, peran, reputasi, dan harta milik yang tidak akan hilang dan pudar untuk selama-lamanya.

  2. Kita memelihara sukacita dengan melatih pikiran dan permohonan kita dibentuk oleh Firman Allah.
    Teolog Christopher Wright (Cultivating the Fruit of the Spirit) mengatakan bahwa yang membuat kita kehilangan sukacita adalah karena kita mudah lelah, lekas marah, dan akhirnya jatuh ke dalam self-pity / mengasihani diri sendiri. Atau, ekstrim lainnya, kita mudah curiga terhadap segala sesuatu yang bersifat kebahagiaan. Kekristenan kita samakan dengan keseriusan yang dingin, kaku dan kita anggap sebagai beban berat untuk dipikul. Self-pity atau rasa curiga ini biasanya terjadi karena kita membiarkan kedagingan kita, dunia, dan Setan membentuk pikiran dan keinginan hati kita. Itu sebabnya Paulus tidak hanya memerintahkan kita untuk bersukacita di dalam Tuhan, ia juga mengajarkan bagaimana kita bisa memeliharanya: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Fil 4:6).

  3. Kita memelihara sukacita dengan ikut menderita bagi misi kerajaan Allah.
    Paulus sekali lagi menjadi teladan kita di sini. Ia bukan orang yang sengaja cari penyakit atau suka memprovokasi keributan, tapi tidak jarang ia harus mengalami penderitaan demi Yesus. Ia juga bukan pria yang berpura-pura kuat di tengah penderitaan. Anda tinggal membaca surat 2 Korintus untuk melihat bagaimana Paulus mencurahkan isi hatinya: ia menangis, ia ketakutan, ia merasakan konflik luar-dalam yang intens. Tetapi di tengah dan melalui semuanya itu ia bisa menulis: "Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah" (2 Kor 7:4). Ada sukacita surgawi yang Roh Kudus tumbuhkan dan matangkan di dalam hidup kita, waktu kita ikut menderita demi agar orang lain mengenal Yesus

Dengan kata lain, sifat sukacita yang Roh Kudus tumbuhkan di dalam diri kita adalah sukacita yang muncul dari orientasi hidup yang baru: tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, melainkan hidup bagi Yesus Kristus dan kerajaan-Nya.

DOA
Tuhan, Engkau mengajak serta memerintahkan kami untuk bersukacita di dalam Engkau. Kami mengakui bahwa secara natur lebih mudah bagi kami untuk bersukacita pada hal-hal yang bisa kami lihat, milki, dan rasakan. Tumbuhkan dan matangkan di dalam hidup kami sukacita supernatural yang datang karena iman, pikiran, dan hati yang telah Engkau perbarui. Demi Yesus Kristus, kami meminta doa ini. Amin.

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.