Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir sementara ini tidak tersedia. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

ICC A.S.K (Aku Semakin Know)

ICC A.S.K: Aku Semakin Know adalah kesempatan dimana kita melihat bagaimana iman Kristen menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan, kehidupan, relasi, penderitaan, dunia di sekitar kita, masa depan, dan masih banyak lagi.

ASK diadakan setiap Kamis pertama dan ketiga jam 7-8PM melalui Zoom. Pertanyaan dapat dilayangkan melalui sli.do (event code #iccask), atau Cilia +61 426 698 942

Kata 'know' (mengenal) di Alkitab adalah istilah yang kaya dengan makna. Bukan sekedar mengetahui secara intelek, tetapi juga mencakup mengalami realitas hidup, mengakui pribadi dan perkataan Allah, serta mentaati dan mengikuti Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Yesus sendiri mengajarkan bahwa arti hidup kekal adalah mengenal Allah yang sejati dan Tuhan Yesus Kristus (Yoh 17:3).

Beberapa Pertanyaan yang Pernah Dibahas:

  • Mengapa ada ‘template’ doa yg diajarkan di Doa Bapa Kami?
    Konteks Yesus mengajarkan “Doa Bapa Kami” adalah bagian dari di kotbah di bukit (Matius 5-7). Di khotbah ini Yesus mengajarkan apa artinya menjadi pengikut-Nya di dunia ini.
    Mulai Matius 6:5, sebelum Yesus mengajarkan ‘how to pray’, Ia mengajarkan ‘how not to pray’ terlebih dahulu. Yesus berbicara tentang mereka yang tidak mengenal Allah, yang doanya lebih terfokus pada performance mereka. Ia juga mengajarkan para murid-Nya untuk tidak berdoa seperti orang munafik dan bertele-tele.
    Yesus mengajarkan kita bagaimana doa seharusnya berfokus pada hubungan relasi kita dengan Allah sebagai Bapa surgawi kita. Perhatikan bahwa di dalam “Doa Bapa Kami”, tiga permintaan pertama berbicara dengan prioritas kita sebagai pengikut Yesus, yaitu mengutamakan Allah Bapa dan segala kemuliaan kerajaan-Nya. Bukan tentang diri kita sendiri. Tetapi kita juga diajar untuk datang kepada Allah Bapa untuk segala kebutuhan kita: jasmani, rohani, dan relasi – artinya Ia juga peduli akan setiap anak-anak-Nya.
    “Doa Bapa Kami” menggambarkan apa arti dan essensi menjadi anggota kerajaan Allah dan bagaimana pengikut Yesus mempunyai relasi erat dengan Allah.

  • Apa yang Alkitab ajarkan tentang hukum karma?
    Konsep reinkarnasi dan karma adalah bagian dari tradisi kebanyakan kepercayaan yang berasal dari India seperti Hinduisme, Buddhisme, Sikhisme dan Jainisme.

    Reinkarnasi mengajarkan bahwa hidup manusia seperti siklus dimana kematian adalah gerbang untuk kita masuk ke tingkat hidup berikutnya. Tingkat ini ditentukan oleh karma macam apa yang kita kumpulkan selama kita hidup di dunia ini.

    Hukum karma pada dasarnya mengajarkan prinsip sebab akibat. Di dalam paham Buddhisme dan Hinduisme, setiap tindakan, pikiran, perkataan kita yang disengaja dinilai sebagai karma. Karma yang baik menghasilkan kualitas hidup yang baik setelah kita mengalami reinkarnasi. Mereka yang hidupnya jahat dan egois akan mengalami reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah, dengan kata lain mengalami hidup yang lebih sengsara. Sementara mereka yang hidupnya baik dan suka menolong akan mengalami reinkarnasi ke tingkat yang lebih tinggi, atau hidup yang lebih baik lagi.

    Seperti banyak kepercayaan lain, memang ada sedikit kebenaran dalam hukum karma. Misalnya, prinsip sebab akibat, atau tabur tuai, itu juga diajarkan di Alkitab. Paulus misalnya menulis di Galatia 6:7 "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Dan di dalam Alkitab serta pengalaman hidup kita secara umum juga mengajarkan bahwa perbuatan buruk cenderung menghasilkan konsekuensi yang buruk, serta sebaliknya.

    Tetapi selain itu setidaknya ada beberapa perbedaan yang penting:

    Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa kita diciptakan oleh Allah dan harus kembali bertanggung jawab kepada Allah. Ayat Gal 6:7 di atas tidak hanya mengatakan bahwa ada prinsip sebab akibat, tetapi juga bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Dalam hal ini, Alkitab lebih tegas daripada ajaran karma, karena Alkitab tidak mengajarkan bahwa kita punya kesempatan mengulang di siklus reinkarnasi berikutnya. "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Heb 9:27).

    Kedua, Alkitab tidak melihat sejarah sebagai siklus reinkarnasi. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa ada garis sejarah yg dimulai dari Allah yang mencipta serta berkuasa atas dunia ini dan sekarang Ia sedang dalam proses membawa sejarah ini kepada titik akhirnya, dimana Yesus akan datang kedua kali untuk menghakimi seisi dunia.

    Ketiga, Alkitab secara jelas menunjukkan bahwa standar kita adalah kekudusan dan kebenaran Tuhan Allah sendiri. Di hadapan Allah, "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah" (Rom 3:10-11). Salah satu kesulitan terbesar dari ajaran reinkarnasi atau hukum karma adalah kita tidak dapat mengetahui secara jelas sejauh mana kita sudah sampai ke standar 'cukup baik'. Atau, darimana kita tahu kehidupan seperti apa yang kita jalani sebelumnya - lebih baik atau lebih buruk? Darimana kita tahu bahwa kita sudah hampir mencapai nirvana atau moksha?

    Keempat, Alkitab memberikan solusi yang lebih jelas dan pasti tentang penderitaan dan penghakiman. Berbeda dengan ajaran reinkarnasi dan karma yang menekankan pada usaha kita untuk tetap 'on the right track', Alkitab mengajarkan bahwa Yesus Kristus, Anak Allah sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia dan membuka jalan untuk kita bisa kembali di jalur yang benar. Alkitab tidak mengajarkan karma, tetapi kasih karunia/anugerah. Yesus sudah secara total menanggung penderitaan dan penghakiman yang kita pantas terima. Melalui hidup-Nya yang sempurna dan pengorbanan-Nya di salib, Yesus memuaskan standar yang Allah tuntut dari setiap manusia. Itu sebabnya kita yang percaya dan berbalik kepada-Nya, bisa yakin bahwa tidak ada hutang dosa lagi yang perlu kita bayar. "Yesus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor 5:21).

    Terakhir, walaupun kita sudah percaya kepada Yesus tetapi Alkitab tetap mengajarkan bahwa perbuatan baik/buruk kita punya konsekuensi, di dunia ini dan di dunia yang akan datang. Penting utk diingat bahwa konsekuensinya bukan soal keselamatan kita, karena itu sudah dijamin oleh Yesus sendiri. Tetapi sebagai orang Kristen kita tetap mengalami konsekuensi dari cara hidup kita di dunia ini. Misalnya, orang Kristen tidak imun dari penyakit kalau ia selama ini makan sembarangan dan tidak punya cara hidup sehat.
    Selain itu juga kita akan mendapatkan upah di dunia yang akan datang. Ini adalah upah yang Allah berikan kepada setiap anak-anak-Nya, sebagai bonus dari keselamatan yang kita sudah terima secara penuh di dalam Kristus. Upah ini bergantung pada bagaimana kita menjalani hidup kita sebagai orang Kristen di dunia ini.

    References:
    - https://www.thegospelcoalition.org/article/9-things-you-should-know-about-buddhism/
    - https://www.thegospelcoalition.org/article/9-things-you-should-know-about-hinduism/
    - https://www.gotquestions.org/karma.html
    - https://www.gotquestions.org/reincarnation.html
    - How does the Gospel answer what the Buddhist truly longs for? https://www.thegospelcoalition.org/video/gospel-answer-buddhist/