Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

The Sanctity of Power

July 18, 2010 Speaker: GI Kalvin Budiman Series: How Then Shall We Live?

Topic: Sunday Sermon / Kotbah Minggu Passage: Revelation 2:12–2:17

Wahyu 2:12-17, 17:1, 5, 6

Kotbah: G.I. Kalvin S. Budiman

 

Di dalam millennia kedua ini, beberapa kelompok orang membuat prediksi akan kedatangan Kristus yang kedua kali, menggunakan kitab Wahyu sebagai referensi. Saya percaya bahwa kitab ini berbicara akan maksud yang berbeda dari hal kapan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Di dalam kitab ini, tertera prokalamasi Tuhan Yesus Kristus bahwa IA adalah Alpha dan Omega (1:8, 21:6, 22:13). Tetapi, Tuhan yang sama, di dalam tubuh inkarnasinya, berfirman bahwa “tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mt 24:36) Apakah ada kontrakdiksi disini? Saya percaya tidak. Jika kita melihat seluruh isi kitab Wahyu, pesan Allah melalui Yohanes memiliki tujuan lain, yaitu mempersiapkan umat Tuhan untuk melihat dunia dimana mereka tinggal melalui sudut pandang ilahi Tuhan yang adalah Tuan atas sejarah manusia, Awal dan Akhir.

 

Jika kita melihat pasal ke-17, kerajaan ini digambarkan seperti pelacur yang besar, seperti tempat takhta iblis (2:12). Difirmankan pula akan nama Babel didahi dari perempuan pelacur besar itu (17:5). Mengapa Babel? Di dalam sejarah penindasan dan pembuangan bangsa Israel, Babel memiliki keunikan diantara banyak penindas lainnya. Babel dikhususkan di dalam kitab Wahyu oleh karena mereka menawarkan kebudayaan mereka – menarik bangsa Israel untuk menjadi serupa dengan mereka. Kalau saudara mengingat kisah Daniel, Sadrach, Mesach, dan Abednego, mereka adalah pahlawan iman bukan karena ia membawa bangsa Israel keluar dari penjajahan, tetapi karena mereka menentang penyembahan patung Nebuchadnezzar, tetap teguh dalam iman mereka kepada Tuhan. Mereka dengan jeli melihat bahwa budaya dimana mereka tinggal tidak sesuai, sejalan dengan iman yang mereka hidupi.

 

Maka, dari bagian kitab Wahyu yang kita baca, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari, sebagai murid Kristus, yang berdiam ditengah kebudayaan post-modern ini, yang menawarkan pola hidup yang tidak sesuai, tidak sejalan dengan iman Kristiani. Kepada jemaat di Pergamus, dan juga kepada jemaat di segala jaman, termasuk kita yang berada di kota Melbourne, Kristus, melalui rasul Yohanes, berfirman:

 

Aku tahu dimana engkau diam. Firman Tuhan, di dalam kitab Ibrani, adalah “lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun.” (Ibr 4:12) Kepada jemaat di Pergamus, Tuhan Yesus, dikatakan di dalam Wahyu 2:12, “memakai pedang yang tajam dan bermata dua.” IA, yang adalah Firman itu sendiri, “menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh… [Kristus] sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Inilah peringatan pertama. Yang Tuhan akan selalu tanyakan kepada kita melalui Firman-Nya adalah apakah benar Yesus Kristus adalah Tuan dari hidup kita, dan sukacita daripada hati kita? Ataukah, kita sedang ditarik dengan budaya yang ditawarkan oleh kota Melbourne dan seisinya?

 

Penganut ajaran Bileam, pengikut Nikolaus. Kita mungkin berkata, “Saya hanya mengikuti pengajaran Alkitab yang murni. Saya tidak mengikuti ajaran-ajaran yang lain.” Tetapi, berwaspadalah. Karena, budaya dimana kita tinggal menawarkan banyak ajaran-ajaran yang mencoba menarik kita, untuk menjauhkan diri dari Tuhan, entah itu di dalam bisnis, entertainment, atau politik.

 

Manna yang tersembunyi, batu putih yang tidak diketahui oleh siapapun. “Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” (Yes 40:6,8, 1 Pet 1:25) Kebenaran Tuhan tetap dari awal hingga akhir (Why 1:8). Tetapi, Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kebenaran ini semakin lama semakin tidak populer, semakin tidak dikenal oleh dunia. Jika saudara setia, dengan iman yang murni, maka saudara akan mengerti akan Firman yang seperti manna yang tersembunyi. Implikasinya adalah kita menanggung resiko menjadi rancu di dalam budaya dimana kita hidup. Bagi mereka yang “berpegang kepada nama [Kristus], dan… tidak menyangkal imanmu kepada [Kristus]” (Why 2:13), mereka akan mendapatkan reward daripada Kristus sendiri, anugrah daripada Tuan kita – bukti akan kemenangan iman bagi mereka yang setia.

More in How Then Shall We Live?

July 11, 2010

The Sanctity of Life