Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

'I Will. Be Clean!'

October 10, 2010 Speaker: Rev Christian Tirtha

Topic: Sunday Sermon / Kotbah Minggu Passage: Mark 1:40–1:45

I Will. Be Clean! (Markus 1 : 40 – 45 )  
Kotbah: GI. Christian Tirtha

 

 

 

Kecil hati! Itulah problem yang sering melanda kehidupan rohani orang Kristen. Karena kegagalan-kegagalan yang pernah kita alami, seringkali kita jadi mempertanyakan apa lagi gunanya berusaha hidup kudus.  Kita membuat hati kita ‘kecil’ sehingga kehidupan rohani kita menjadi stagnan dan biasa-biasa saja.

 

Ada kalanya kita merasa kecil hati datang kehadapan Tuhan. Seringkali kita segan datang kepada Tuhan karena takut Tuhan akan merombak hidup kita seturut kehendak-Nya. Itulah sebabnya seringkali kita menjaga ‘jarak aman’ dari Tuhan. Hanya melakukan hal-hal minimum yang orang Kristen harus lakukakan. Justru pada saat itulah stagnasi melanda kehidupan rohani kita.

 

Namun coba lihat bagaimana orang kusta tersebut menghampiri Yesus di ayat ke 40. Bukankah diperlukan keberanian yang luar biasa bagi seorang kusta yang dianggap najis dan dikucilkan masyarakat untuk datang menghampiri seorang rabi? Keberanian orang kusta tersebut beranjak dari iman yang luar biasa bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan, bahkan penyakit yang tidak ada obatnya pada zaman itu.

 

Atas keberanian dan ketulusan permohonan orang kusta tersebut, di ayat 41 dicatat bahwa Tuhan Yesus tergerak akan belas kasihan. Perasaan ini bukan hanya sekedar kasihan, tetapi perasaan yang menggugah hati sampai seakan-akan ingin menanggung penderitaan orang tersebut. Respons Tuhan Yesus menunjukan bagaimana Ia rindu orang berdosa datang menghampiri-Nya.

 

Kemudian terjadi peristiwa yang mengejutkan: Tuhan menjamah orang kusta tersebut! Pada zaman itu, jika seorang tahir menjamah seorang kusta, maka orang tersebut juga akan dianggap najis. Namun yang terjadi malah kebalikan: bukanya Tuhan Yesus menjadi najis, melainkan kesucian-Nya yang sempurna membasuh segala kenajisan si orang kusta.

 

Namun, lebih indah dari itu semua, karya Tuhan Yesus melampaui dari sekedar kesembuhan fisik. Karya Tuhan Yesus mampu menyembuhkan ‘kusta-kusta’ rohani kita. Pada waktu Tuhan menjamah orang kusta tersebut, Ia menanggung segala dosanya. Dan pada waktu Tuhan mati di kayu salib, dosa kitalah yang Ia tanggung.

 

Pada waktu orang kusta tersebut datang, ia tahu bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan tetapi ia tidak tahu apakah Tuhan bersedia. Itulah sebabnya ia menghampiri Tuhan dengan suatu permohonan: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku (v.40)”. Kita sekarang tidak perlu lagi bertanya demikian. Karena melalui salib kita tahu Tuhan mau menanggung dosa kita. Kalimat “I will. Be  clean!” di ayat 41 melambangkan janji Tuhan bahwa Ia mau menyucikan kita. Tuhan hanya menginginkan kerendahan hati kita untuk datang tersungkur di tahta salib-Nya dan berkata: “Yes Lord, I want to be clean.”

 

Nas ini diakhiri dengan peristiwa dimana setelah disembuhkan orang kusta tersebut melanggar perintah Tuhan dan menyebarkan peristiwa itu kemana-mana. Impresi pertama kita saat membaca bagian ini adalah bahwa orang tersebut tidak tahu diri. Disatu sisi, benar bahwa hal ini menggambarkan bagaimana orang yang sudah diselamatkan masih bisa jatuh bangun dalam dosa. Namun dibalik itu semua, kesalahan orang kusta ini mengandung teguran bagi seluruh orang Kristen. Orang kusta tersebut begitu dipenuhi sukacita karena telah diselamatkan, sehingga ia tidak lagi berdaya untuk tidak memberitakanya. Semangat yang sama juga seharusnya memenuhi setiap kita. Semangat yang menggelora untuk membagikan Injil kepada orang yang belum percaya. Ingatlah, bahwa tanda orang yang telah diselamatkan adalah kerinduan untuk membagikan keselamatan yang kita terima kepada orang lain.

 

                (David)