Pengumuman: Berhubung dengan situasi COVID-19 di Victoria, ibadah Minggu ICC hanya dapat diikuti secara online

Join us every Sunday at 10:30AM

Engaging the Postmoderns with the Gospel Part 1

May 27, 2012 Speaker: Prof Sen Sendjaya Series: Acts Series

Topic: Sunday Sermon / Kotbah Minggu Passage: Acts 17:16–17:34

Ada dua orang yang sedang berjalan di sepanjang kuburan. Dan, mereka menengok, dan melihat satu nisan, dengan ukiran, "Disinilah bersemayam orang Kristen intelektual." Salah satu dari mereka berkomentar, "Betapa mengerikan! Bagaimana mungkin orang tega menaruh dua orang di satu tempat kubur!" Seringkali itu yang menjadi paham orang-orang mengenai umat Kristiani: "Kepercayaan mereka tidak dapat dipertanggung-jawabkan di arena intelektual." Apakah tudingan mereka benar? Tercatat dalam Kisa Para Rasul 17 adalah Paulus yang bertemu dan menyatakan Injil kepada orang-orang intelektual di kota Atena, pusat perkembangan budaya di dalam sejarah budaya Barat.

Konteks. Atena adalah kota pusat kebudayaan, dimana para ahli pikir Yunani berkumpul: Sokrates, Plato, Aristoteles, Epikurus, Zeno. Tercatat di ayat ke-21, tercatat: "Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru." Mereka suka dengan ide baru. Dan, ini juga sama halnya dengan masyarakat modern. Tapi, apa implikasinya? Seringkali, begitu mereka mendengar Injil, orang modern akan berkata: "Itu kuno, prasasti dari abad-abad silam, tidak rasional, penuh dengan hal gaib, dan karena itu: tidak mungkin relevan!" Intinya: mereka berpikir bahwa segala sesuatu yang sudah berumur panjang tidak akan mungkin relevan dengan hidup sekarang. Apakah benar demikian? C.S. Lewis, melihat tendensi ini, membalas: "Apa pun yang tidak bertahan sampai kekekalan sesungguhnya itu eternally out-of-date." Intinya: segala sesuatu yang tidak bisa bertahan kekal, pasti akan dilupakan.

Konten. Dalam konteks seperti di atas, Paulus datang ke Atena. Dia dikatakan disana berdebat. Bukan hanya berdebat, tetapi di pasar mereka berdebat. Pasar, di dalam konteks zaman itu, adalah tempat dimana orang-orang berkumpul untuk bertukar pikiran. Di saat itu, mereka langsung berdebat saja di pasar. Tempat ini, di saat itu, adalah tempat dimana semua orang melakukan segala aktivitas, entah itu bertukar barang atau ide. Di tempat inilah Paulus bertemu dengan orang-orang golongan Epikurus dan Stoa (ay.18). Singkatnya, golongan Epikurus adalah orang-orang yang bermotto: "Enjoy life!" Paham ini berkata: segala sesuatu yang penting di dunia ini hanyalah materi. Manusia hidup hanya sekali, dan kesenangan harus dikejar, dan penderitaan harus ditekan. Bukankah ini tidak berbeda dengan kota Melbourne, dimana kita tinggal sekarang? Dan, sebaliknya, golongan Stoa hidup dengan motto: "Endure life!" Paham ini berkata: hidup ini harus dihidupi dengan rasional. Melibatkan diri dalam emosi pribadi dan simpati-empati terhadap orang lain hanya akan menyusahkan hidup. Paulus berhadap-hadapan dengan orang-orang yang berpaham sedemikian.

Apa yang bisa kita pelajari disini? Sekarang kita diingatkan bahwa iman Kristen bukan sesuatu yang bersifat privat. Kita sering dicekoki dengan ide seperti ini: "Kamu bisa percaya segala sesuatu, tapi simpan untuk dirimu sendiri. Jangan bagikan imanmu di arena publik." Iman Kristen memang adalah keputusan pribadi, pertobatan pribadi dan kepercayaan yang kita harus miliki secara pribadi, bukan membonceng kepercayaan orang tua atau orang lain. Tetapi, iman ini akan muncul di dalam segala area hidup kita.

Respon. Mungkin teman-teman berkata dalam hati, "Tapi, ini 'kan Paulus! Dia rasul, dia piawai dalam Alkitab, dan dia pandai. Saya... mana bisa?" Saudara harus melihat terlebih dahulu apa yang ada dibalik tindakan Paulus. Tiga hal yang Paulus lakukan: (a) dia melihat, (b) dia merasakan, (c) dia melakukan sesuatu. Pertama, Paulus melihat dengan seksama banyaknya patung dewa-dewi di kota itu (ay. 16). Dan, dengan lensa Injil, dia melihat bahwa hampir semua orang disana menyembah ciptaan manusia, bukan Sang Pencipta. Apa yang terjadi setelahnya? "...sangat sedih hatinya..." (ay. 16). Kata yang lebih tepat dari bahasa aslinya adalah cemburu. Paulus cemburu bagi Allah, karena Paulus melihat Allah sebagai Pencipta dikesampingkan oleh manusia, digantikan dengan benda-benda mati (2 Korintus 11:2). Dan, setelah itu, Paulus melakukan apa yang dia bisa lakukan.

Teman-teman, Paulus cemburu bahwa hal-hal kekal ditukar dengan benda mati yang tidak bisa berbicara (Roma 1:23). Dia menolak pura-pura tidak tahu dengan kota yang lari dari kebenaran. Karena itu, dia melihat dengan seksama, dan merasakan gejolak itu, satu tekanan yang memaksa dia untuk keluar: Someone has to do something about this! If it's only me at this moment, then I have to change. I must change, because somebody has to act! God, help me! (1 Korintus 9:16) Jika saudara tidak pernah merasakan hal ini, mungkin saudara sedang menyembah ilah yang saudara imajinasikan sendiri, sama seperti orang-orang di Atena. Kota Melbourne penuh dengan ilah-ilah modern, dan kita juga tertekan untuk menyembah ilah-ilah juga (1 Yohanes 5:20-21). Minggu depan kita akan melihat bagaimana Paulus menjawab mereka (Kis. 17-22-34). Mari kita mengejar kekekalan di dalam Kristus, dan berbagian dalam kecemburuan-Nya.

(Diringkas oleh Mari Kasih)