Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Mat 5:6-7 "Identity Theft or Identity Transformation?"

Matius 5:6-7
(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. (7) Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Anda mungkin pernah mengalami atau kenal orang lain yang mengalami identity theft. Identitas kita dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab lalu dipakai untuk kegiatan yang bersifat ilegal atau bahkan kriminal. Mereka bisa menipu keluarga dan teman kita dengan berpura-pura memakai identitas kita. Waktu kita percaya dan menjadi pengikut Yesus, Allah tidak mencuri identitas kita melainkan Ia melakukan identity transformation: Ia memberikan kita identitas baru di dalam Yesus sehingga kita mau dan mampu melakukan apa yang berkenan pada-Nya. Kita sudah melihat bagaimana identitas yang baru (atau identitas yang bahagia) menyadari serta menangisi dosa-dosa kita di hadapan Tuhan, serta mulai memperlakukan orang lain dengan lemah lembut sama seperti Tuhan sudah memperlakukan kita (Mat 5:3-5). Itu sebabnya kita tidak pura-pura menjadi anak-anak Allah, karena kita sudah secara sah diangkat menjadi anak-anak-Nya.

Butir keempat dan kelimat dari delapan ucapan bahagia ini kembali menggambarkan bagaimana pengikut Yesus sejati seharusnya hidup: Tuhan mau agar kita berbalik mencari kebenaran-Nya serta menunjukkan kemurahan hati kepada orang lain. Dengan kata lain, orang Kristen yang dewasa adalah mereka yang sudah berhenti hidup berpusat pada dirinya, perasaannya, kepentingannya, dan agendanya. Mereka hidup berpusat pada Tuhan dan berusaha untuk melayani orang lain dengan kasih Tuhan.

Hidup yang hanya bisa dipuaskan oleh Yesus (5:6). Yesus di sini menjabarkannya dengan 'lapar dan haus akan kebenaran'. Kata 'kebenaran/righteousness' di sini adalah kata yang sangat kaya dengan makna. Kebenaran bisa diartikan sebagai hidup sesuai dengan apa yang benar: mempunyai relasi yang benar dengan Tuhan, menjalani hidup yang benar di hadapan Tuhan, dan melihat orang lain kembali hidup benar. Itu sebabnya di Alkitab kita kadang kata 'righteousness' juga diterjemahkan sebagai keadilan. Kebenaran di sini berarti mau melihat diri kita, orang lain, dan dunia, kembali ke relasi yang benar dengan Tuhan.

Ketika seorang mulai mengenal siapa Tuhan yang sesungguhnya, ia mulai menyadari betapa salah, kacau, serta menyelewengnya bukan saja hidupnya, tetapi juga orang lain dan juga dunia ini. Ia mulai merasa lapar dan haus bukan lagi akan hal-hal semu dan sementara di dunia ini, melainkan akan kebenaran. Ia ingin sekali hidupnya, orang lain, dan dunia ini, semakin selaras dengan apa yang Tuhan mau. Yang menakjubkan adalah janji Yesus dalam ucapan bahagia ini: mereka akan dipuaskan. Dipuaskan oleh apa? Dipuaskan tidak lain oleh Tuhan sendiri, sumber dan teladan kebenaran tertinggi. Orang Kristen sejati akan menemukan kepuasan terdalamnya hanya di dalam dan melalui Yesus.

Bagi kebanyakan kita, kadangkala Tuhan harus menunjukkan kepada kita bahwa lapar dan haus akan hal-hal duniawi dan berdosa tidak akan pernah memuaskan kita. Bagi sebagian kita, kadangkala Tuhan harus mengingatkan kita untuk belajar hanya lapar dan haus akan Dia saja, dan bukan yang lain.

Waktu hati kita semakin lapar dan haus serta hanya bisa dipuaskan oleh Yesus saja, disitulah Yesus berkata, "Berbahagialah kamu!"

Hidup yang menunjuk orang lain kepada Yesus (5:7). Kalau kita sudah menerima Yesus dan mengalami anugerah Allah, maka respon yang paling alamiah adalah kemurahan hati. Kemurahan hati adalah kasih yang menjangkau mereka yang tidak berpengharapan. Bagi pengikut Yesus, tidak ada ekspresi kemurahan hati yang lebih besar selain salib Kristus, dimana kasih Allah menjangkau kita yang tanpa pengharapan di dalam dosa dan pemberontakan kita.

Orang Kristen yang tidak murah hati adalah kontradiksi. Orang Kristen yang mendendam, tidak mau mengampuni, merasa superior terhadap mereka yang menderita, kemungkinan besar adalah orang yang hanya berpura-pura mengikut Yesus. Kalau kita sudah menyadari betapa besar kemurahan hati Allah terhadap kita, maka kita tidak akan pilih-pilih atau hitung-hitungan dalam bersikap murah hati terhadap orang lain, khususnya mereka lemah dan tidak berdaya.

Waktu kita lebih membesarkan kemurahan hati Tuhan terhadap kita, daripada kelayakan orang lain di mata kita, dan kita menunjukkan kemurahan hati Yesus kepada mereka, disitulah Yesus berkata, "Berbahagialah kamu!"

Sinclair Ferguson mengatakan bahwa kedua ucapan bahagia ini seirama dengan apa yang disampaikan nabi Mikha:

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil (atau, berlaku benar/righteous/justice), mencintai kesetiaan (atau, mencintai kemurahan hati/mercy), dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? (Mikha 6:8)

Dua pertanyaan bagi anda sebagai pengikut Kristus hari ini:

  1. Seberapa lapar dan haus anda untuk dipuaskan oleh Yesus?
  2. Bagaimana respon atau reaksi anda terhadap orang yang anda anggap sama sekali tidak pantas untuk dikasihi?

Jawaban anda dan saya terhadap kedua pertanyaan di atas menunjukkan apakah kita benar-benar sudah memiliki identitas yang ditransformasi oleh anugerah Allah, atau apakah kita selama ini hanya pura-pura mengeklaim identitas sebagai pengikut Yesus.

DOA
Tuhan Yesus, Engkau datang untuk memperbarui kemanusiaan kami yang telah rusak dan bobrok akibat dosa.

Hari ini kami diingatkan bahwa kami lebih sering lapar dan haus oleh kesuksesan, nafsu, entertainment, pujian orang, daripada lapar dan haus oleh kebenaran. Kami diingatkan bahwa hati kami sempit dan dingin terhadap orang yang lemah dan tidak berdaya, daripada bersikap murah hati terhadap mereka. Ampuni kami, karena kebahagiaan kami yang begitu cetek dan duniawi!

Tolong kami untuk memiliki kelaparan dan kehausan akan Engkau, dan biarlah seperti janji-Mu kami begitu puasnya sehingga waktu kami secara alamiah bisa menunjukkan kemurahan hati kepada orang lain. Tolong kami, untuk menemukan kembali kebahagiaan kami yang sejati dan surgawi di dalam Engkau.

Amin.

Leave a Comment

Leave this field untouched:
SPAM protection (do not modify):
Leave this field untouched: