Pengumuman: Kebaktian Minggu di ICC sudah mulai dapat dihadiri on-site

Join us every Sunday at 10:30AM

Sola Fide / Hanya oleh Iman

Kita sudah melihat Sola Scriptura bagaimana Alkitab adalah pondasi atau denah mutlak bagi iman Kristen. Alkitab sendiri pada akhirnya mengajarkan dan berbicara tentang karya keselamatan Allah yang Ia kerjakan secara tuntas dan final melalui Anak-Nya Yesus Kristus. Di dalam Solus Christus kita juga melihat betapa lengkap, penuh, sempurnanya pribadi Yesus serta keselamatan-Nya.

TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. (Mazmur 28:7)

Sola Fide - by faith alone, hanya oleh iman. Sebelum kita melihat apa itu iman, mungkin ada baiknya untuk melihat sepintas sejumlah pengertian yang salah tentang iman.

  • Iman bukan rasa yakin pada sesuatu yang tidak ada dasarnya atau sesuatu yang tidak masuk akal, "Udah deh percaya aja! Nanti Tuhan ada jalannya sendiri."
  • Iman juga bukan sekedar setuju atau terpukau pada sejumlah fakta tentang Alkitab atau tentang Tuhan, "Wah luar biasa ya dari khotbah tadi saya baru amazed gimana dalamnya Alkitab."
  • Iman juga bukan sesuatu yang berfokus pada diri kita sendiri, seolah-olah iman itu semacam kemampuan ajaib pribadi yang level kekuatannya berbeda dari satu orang ke yang lainnya.
  • Iman bukanlah semacam barang yang kita transaksikan dengan berkat Tuhan, "Pusing nih, masalah gue ngga ada habisnya, coba gue lebih punya iman gue pasti lebih ditolong Tuhan."

Waktu Alkitab berbicara tentang iman, yang dimaksud adalah: percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, seperti yang Ia nyatakan dalam Firman-Nya.

  • Kita percaya apa yang Tuhan sudah katakan tentang diri-Nya di dalam Alkitab.
  • Kita percaya Tuhan. Ini lebih dari sekedar percaya adanya Tuhan (bahwa Dia eksis), tapi percaya Dialah satu-satunya Allah yang hidup, abadi, mulia, berkuasa, suci, benar, penuh kasih.
  • Kita percaya dengan berfokus outward / keluar diri kita, kepada Tuhan. Validitas benar tidaknya iman kita tidak ditentukan oleh kekuatan kita, tapi kekuatan Tuhan. Kekuatan dan kekokohan iman kita bergantung sepenuhnya pada Siapa kita bersandar, bukan pada seberapa kuatnya kita bersandar.
  • Kita percaya karena anugerah. Waktu kita membaca atau mendengarkan Firman Tuhan, lalu hati kita tergerak untuk percaya dan bersandar pada Dia. Kita bisa percaya itu sendiri datang dari anugerah Tuhan, yang akan kita lihat di edisi berikutnya tentang Sola Gratia / Hanya oleh anugerah.

Dengan kata lain, menurut Alkitab iman bersifat outward looking / melihat keluar diri kita, dan bukan inward looking / melihat ke dalam diri kita. Kita melihat keluar diri, kepada Tuhan. Kita bisa berkata seperti Daud, "TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya." (Mazmur 28:7) Dan setelah kita percaya sekian lama, kita juga sadar, "Kalau bukan karena anugerah Tuhan aku tidak mungkin bisa percaya." Iman bersifat outwardly given / diberikan dari luar diri kita, diberikan oleh Tuhan sendiri.

Salah satu pertanyaan yang saya sering dapatkan adalah: "Kan Yesus katanya udah mati dan bangkit bagi dosa-dosa kita, dan katanya kita tidak perlu melakukan perbuatan apa-apa untuk diselamatkan, kalau begitu apa artinya setiap manusia otomatis selamat?"

Jawabannya adalah tidak otomatis. Penebusan yang Yesus sudah capai bagi kita, hanya berguna kalau kita menerimanya. Kita menerimanya waktu bukan saja kita memahami dan mengakui bahwa, "Yesus Kristus sudah mati dan menanggung hukuman dosa manusia." tetapi juga waktu kita percaya bahwa Yesus Kristus sudah mati dan menanggung hukuman dosaku. Kita tidak lagi melihat kepada latar belakang keluarga, perbuatan baik, jasa, reputasi, prestasi, identitas diri kita sebagai sumber penerimaan kita di hadapan Allah, kita melihat keluar kepada Yesus Kristus (Solus Christus!): pribadi-Nya, kebenaran-Nya, pengorbanan-Nya, kebangkitan-Nya dari kematian, kenaikan-Nya ke surga, lalu kita mengakui Dia seperti puisi cinta di dalam Alkitab, "Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan Dia!" (Kidung Agung 2:16).

Waktu kita beriman kepada Yesus, seluruh dosa dan hukuman yang pantas kita tanggung bertukar dengan seluruh kebenaran-Nya yang sempurna dan berkat hidup kekal yang tidak pantas kita terima. Ini yang oleh para Reformator disebut dengan 'Pertukaran Agung yang Ajaib' / The Great and Marvelous Exchange. Pertukaran itulah yang membuat Allah dapat menyatakan bahwa kita benar di hadapan-Nya. Kita dibenarkan berdasarkan kebenaran Kristus, kebenaran yang terletak di luar diri kita dan sepenuhnya ada di dalam diri-Nya.

Waktu kita beriman kepada Yesus, iman kita tidak lain adalah sepasang tangan kosong yang kotor tidak berdaya yang menerima Yesus Kristus sepenuhnya, yaitu Dia yang dikabarkan di dalam Injil. Iman hanyalah instrumen atau saluran dimana melaluinya kita menerima seluruh berkat surgawi yang Yesus sudah beli lunas melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

"Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat." (Roma 3:28)

Ini jelas bertolak belakang dengan kepercayaan, agama atau filsafat dunia yang intinya berbasiskan jasa. Fokusnya adalah pada kebenaran kita. Tapi justru di situ masalahnya, setiap orang yang berusaha hidup benar kalau dia betul-betul orang yang tulus dan berintegritas, maka dia akan mengatakan setidaknya dua hal: susah banget hidup benar dan saya masih jauh dari mencapai kebenaran yang saya harus capai. Hanya iman kepada Yesus (Sola Fide) yang memberikan kita kebenaran sejati, tanpa secuil pun kebenaran, perbuatan, niat baik, jasa, prestasi, reputasi dari diri kita.

Iman bukan saja memberikan kita seluruh kebenaran Allah diperhitungkan menjadi milik kita. Teolog Tom Schreiner mengatakan bahwa iman juga adalah sarana yang Tuhan berikan untuk hidup sesuai dengan perintahnya. Kita mengejar kekudusan, mengasihi orang lain, melayani, belajar Alkitab, hidup dalam ketaatan, mencintai gereja Tuhan, bertobat dari dosa, kita melakukan semuanya itu tidak lagi supaya kita dibenarkan, tetapi justru karena kita sudah dibenarkan. Saya mengundang anda untuk membaca surat Ibrani pasal 11, dimana kita membaca sejumlah besar tokoh Alkitab yang melakukan begitu banyak hal bagi Tuhan, dan semuanya mereka lakukan "karena iman". Mengomentari bagian ini Schreiner mengatakan, "Perhatikan bahwa kata iman digabungkan dengan ketaatan. Esensi iman adalah hidup mentaati apa yang Tuhan perintahkan."

Itu sebabnya salah satu pernyataan Bapak Reformasi Martin Luther yang terkenal tentang sola fide adalah ini: “We are saved by faith alone, but the faith that saves is never alone.” Kita diselamatkan hanya oleh iman, tetapi iman yang menyelamatkan tidak pernah hanya berdiri sendirian. Artinya iman yang menyelamatkan selalu diikuti oleh hidup yang dihiasi oleh ketaatan.

Iman berarti percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Yesus Kristus, sebagaimana Ia dinyatakan melalui Alkitab, sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Mari kita berdoa dan kiranya mendapatkan bahwa iman seperti inilah yang kita miliki.

References:

Leave a Comment

Comments for this post have been disabled.