Subscribe to the RSS Feed
  • Featured Posts
  • All Posts

Banyak manusia yang menjalani hidup dengan filosofi hidup Panadol. Meredakan rasa sakit secepat dan se-efektif mungkin. Tentu hal tersebut wajar kalau itu terkait dengan rasa sakit yang ada di tubuh kita (kepala, gigi, dan seterusnya). Namun kita cenderung mengaplikasikan itu pada seluruh area hidup kita.

Sebagian orang percaya bahwa, “Uang tidak dapat membeli kebahagiaan”. Tapi sebagian lain berkata bahwa, “Mereka yang berkata bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan tidak pernah menikmati liburan di luar negeri naik penerbangan first-class dan tinggal di private six-star resort!”

“Waktu aku takut, aku ini percaya pada-Mu”, demikian doa Daud di dalam salah satu masa paling kelam di dalam hidupnya (lihat Mazmur 56). Ini bukan lagi Daud muda yang berhasil menaklukkan raksasa Goliat. Ia kini sudah sedikit lebih dewasa dan kini menjadi buronan nomor satu di Israel karena Raja Saul mengejar untuk membunuhnya. Dalam keputusasaan (atau kebodohan?) nya, Daud memutuskan untuk melarikan diri ke daerah musuh orang Israel, yaitu bangsa Filistin. Tidak tanggung-tanggung lagi ia tiba di Gat, kota kelahiran Goliat, pahlawan Filistin yang ia bunuh beberapa tahun silam. Tidak heran di Mazmur ini ketakutan Daud digambarkan begitu sengit, dalam dan bertubi-tubi.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh (Yakobus 5:16) Halangan terbesar untuk kita mengaku dosa terhadap satu sama lain adalah rasa gengsi. Gengsi adalah ketakutan kehilangan muka karena orang tahu siapa kita sebenarnya. Kita tidak mau mengakui dosa kita (“Gengsi dong!”)