Subscribe to the RSS Feed
  • Featured Posts
  • All Posts

Perumpamaan tentang janda yang tidak kenal menyerah dan hakim yang lalim (Lukas 18:-18) seringkali disalahmengerti di kalangan orang Kristen. Sepintas kesannya kita diajarkan bahwa kalau kita mau meminta kepada Tuhan, kita harus tidak berhenti-henti minta hal yang sama. Seringkali salah fokusnya terletak pada diri kita sendiri, kita didorong untuk semangat dan jangan menyerah dalam berdoa, karena semakin besar iman dan semangat kita maka semakin besar kemungkinan Tuhan akan ‘menyerah’ (seperti hakim yang lalim) dan akhirnya mengabulkan permohonan kita. Ini adalah penafsiran yang salah besar dan tidak konsisten dengan kesaksian seluruh Alkitab tentang relasi kita dan Tuhan.

"Hey, dengan baik-baik. Saya ini hamba TUHAN!" Kalimat tersebut biasanya diucapkan dengan nada tinggi, sebagai pembelaan diri, karena merasa tidak dihargai atau tidak dihormati. Maklum, siapa sih yang tahan untuk tidak ngedumel kalau tidak diapresiasi? Apalagi kalau setelah semua jerih lelah yang sudah dilakukan, ada orang yang nyletuk, "Dia memang hamba Tuhan yang tak berguna!". Kita ingin melenyapkan orang tersebut dari muka bumi (ingat Thanos?).

Kalau Anda melihat seseorang yang sedang membutuhkan, apakah Anda melihat dia sebagai sebuah target untuk dimanfaatkan, sebuah masalah untuk dihindari, sebuah dilema untuk didiskusikan, sebuah masalah untuk didoakan, sebuah proyek untuk dikerjakan, atau seorang pribadi untuk ditolong?