Subscribe to the RSS Feed
  • Featured Posts
  • All Posts

Mungkin sepintas kedengarannya aneh kalau saya bertanya, apalagi di tengah-tengah gereja, apakah iman anda itu saving (menyelamatkan) atau satanic (menyesatkan, atau sama seperti imannya iblis). Kadang saya suka membayangkan jemaat yang berpikir di benak mereka, “Kayak hidup udah kurang susah aja, eh dateng ke gereja disuruh mikirin pertanyaan kayak gini! Udah jelas dong imanku adalah iman yang menyelamatkan! Aku kan sudah percaya sama Yesus. Lagian siapa juga yang bakal angkat tangan dan bilang ‘imanku ngga ada bedanya dengan imannya iblis’?” Mungkin juga itu reaksi pembaca pertama surat Yakobus, ketika membaca Yakobus 2:14-26.

Mark Dever menyebut gereja sebagai tempat dimana terjadi penginjilan melalui penampilan / display evangelism. Tentu penampilan di sini bukan berarti pencitraan untuk hanya sekedar pamer. Yang dimaksud adalah kehadiran gereja seharusnya merefleksikan karakter serta kemuliaan Tuhan yang mereka sembah. Hal ini tidak dilihat dari bentuk gedungnya, kepiawaian para pemusiknya atau bahkan pamor para pengkhotbahnya. Yakobus menyoroti satu aspek yang penting di seluruh Perjanjian Baru, yaitu bagaimana kita saling memperlakukan satu sama lain.

Yakobus tidak basa-basi saat menulis bahwa orang Kristen yang hanya mendengar firman Tuhan tanpa melakukannya sebenarnya bukan seorang Kristen. Ia melainkan adalah seorang penipu (Yakobus 1:22). Penipu orang lain dan penipu diri sendiri. Tentu ia tidak bisa menipu Tuhan, karena Tuhan tidak bisa ditipu.

Tidak mudah untuk mempunyai hubungan yang baik dengan semua orang. Salah satu alasan utamanya adalah karena kita sendiri tidak mempunyai kasih dari Allah. Padahal, sebagai orang-orang yang telah menerima Kristus, kita mempunyai bekal untuk memutus siklus kemarahan di dalam hidup kita, serta membawa kasih dan belas kasihan pada orang lain.