Subscribe to the RSS Feed
  • Featured Posts
  • All Posts

Banyak orang Kristen yang meskipun sudah mengikut Kristus puluhan tahun masih mengalami kebutaan rohani. Kita masih diliputi kecemasan yang berlebihan. Begitu kesulitan datang, respon pertama kita adalah kuatir. Kalau kuatir akan sesuatu, kita kemudian kuatir akan hal-hal lain. Dan kuatir kita cenderung berkepanjangan, berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Kita tak ubahnya seperti pelayan Elisa dalam cerita 2 Raja-Raja 6:8-23. Meski ia orang percaya, ia sangat ketakutan ketika merasa tak berdaya dikepung tentara Aram. Itu sebab ia tidak dapat melihat kereta kuda berapi Allah yang mengelilingi dia.

Selain Abraham dan Musa, mungkin tidak ada tokoh Alkitab lain yang lebih besar daripada Raja Daud. Masa pemerintahannya menjadi teladan bagi raja-raja Israel setelah kepergiannya. Kerajaan Daud seringkali disebut sebagai masa-masa keemasan Israel. Maka heran bahkan setelah Yesus mau naik ke surga pun, para murid-Nya bertanya apakah sekarang waktunya Ia memulihkan masa-masa keemasan itu. Daud juga disebut sebagai seorang yang berkenan kepada Tuhan / a man after God’s own heart (1 Sam 13:14). Daud berkenan kepada Tuhan bukan karena dia punya kualitas khusus di dalam dirinya. Arti kata berkenan kepada Tuhan lebih berbicara pada sikap Tuhan kepada Daud, daripada sikap Daud kepada Tuhan. Hati Tuhan lah yang terarah kepada Daud sehingga Ia berkenan kepadanya. Tuhan Allah telah mengkhususkan Daud untuk tugas pekerjaan kerajaan-Nya. Ini disimbolkan dengan minyak urapan yang Samuel tuangkan di atas kepala Daud. Tindakan pengurapan ini dalam bahasa Ibraninya di“mesias” kan, Artinya, orang yang Allah pilih untuk melakukan kehendak hati-Nya. Sayangnya, walaupun Daud banyak mengalami berkat Tuhan dan berjasa besar bagi bangsa Israel, dalam banyak hal ia jugaadalah pribadi berdosa yang berulangkali gagal taat kepada Tuhannya.

Bangsa Israel meminta seorang raja pada Samuel. Setelah melewati 300 tahun dipimpin oleh 12 hakim-hakim, kondisi bangsa Israel dirangkum dalam sebuah analisa sosial singkat dan mengenaskan: ‘Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri’ (Hakim-hakim 21:25).

“Kalau ada satu kitab di dalam Alkitab yang boleh saya hapus,” demikian kata seorang pengkhotbah, “Maka kitab itu adalah kitab Hakim-hakim.” Memang tidak banyak dari kita yang mengenal isi keseluruhan kitab ini. Hakim-hakim menceritakan tentang kegagalan demi kegagalan bangsa Israel selama mereka tinggal di tanah Kanaan, tanah Perjanjian. Kontras dengan kitab dan babak sebelumnya, dimana di kitab Yosua diceritakan (secara umum) keberhasilan bangsa Israel dalam menguasai dan menduduki tanah Kanaan. Kegagalan ini seringkali digambarkan dengan spiral: (1) Bangsa Israel berdosa dengan menyembah berhala bangsa-bangsa sekitarnya; (2) Tuhan membiarkan bangsa Israel dikalahkan dan dijajah oleh musuh-musuh mereka; (3) Bangsa Israel menderita dan bertobat minta pengampunan; (4) Tuhan membangkitkan hakim untuk menolong dan memimpin mereka; (5) Bangsa Israel hidup aman selama masa para hakim memerintah; (6) Setelah para hakim meninggal, bangsa Israel melupakan Tuhan dan kembali lagi ke (1). Selama lebih dari 350 tahun sejarah jaman para hakim, pusaran spiral ini berpilir semakin buruk. Di akhir kitab Hakim-hakim, bangsa Israel menjadi begitu rusak dan bobroknya sehingga mereka hidup tidak beda dengan musuh-musuh mereka.