Subscribe to the RSS Feed
  • Featured Posts
  • All Posts

Di jaman sekarang, penting bagi kita untuk menekankan bahwa Injil harus menjadi pusat atau poros yang mengendalikan segala sesuatu di dalam gereja. Karena tidak sedikit gereja yang berporoskan kesuksesan, pertumbuhan, program, tokoh-tokoh atau pemimpin terkemuka, identitas kesukuan, dan lain seterusnya. Anda dan saya harus terus saling mendoakan supaya ICC jangan sampai terjebak ke sana. Kalau saya boleh plesetin keluhan Rahel pada Yakub, “Give me a Gospel-centred church, or I shall die! Berikanlah kepadaku gereja yang berpusatkan Injil; kalau tidak, aku akan mati!”

Beda dengan di tempat kerja (atau bahkan di gereja), di rumah kita dapat menjadi diri kita apa adanya. Tidak perlu kosmetik, baik secara literal maupun figuratif, karena toh tidak ada ekspektasi untuk tampil dengan standar tertentu. Di rumah lah warna asli kita nyata terlihat

Bagaimana mematikan percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan? Bagaimana membuang marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut kita? (Kol 3:5, 8). Ada tiga jenis respon manusia. Mari kita pikirkan ketiganya dengan aplikasi spesifik tentang amarah yang berdosa.

Kita mungkin tidak pernah bakalan bermimpi untuk membuat agama sendiri. Tetapi secara tidak langsung, inilah yang Paulus peringatkan kepada kita di Kolose 2:16-29. Terlebih lagi kita, perlu ingat bahwa peringatan ini ia tujukan kepada gereja Tuhan, bukan pada orang-orang penyembah berhala di luar sana. Kita mungkin tidak asing dengan konsep penyembahan berhala, artinya menyembah Tuhan yang salah. Tuhan yang salah muncul dalam bentuk bentuk kepercayaan yang tidak berdasarkan kebenaran Alkitab, atau hal-hal seperti karir, pekerjaan, keluarga, bahkan pelayanan sekalipun. David Clarkson, seorang tokoh Puritan, menulis juga bahwa bentuk penyembahan berhala lain adalah menyembah Tuhan yang benar dengan cara yang salah.